← Kembali ke Detail

Bunda Mau Cucu

Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa 4 menit · 796 kata · Chapter 4/295

Chapter 4 / 295 · 1%Bunda Mau Cucu
Ukuran huruf
18px

Mendengar informasi dari Mbok Jum, Langit dan yang lainnya bergegas menuju kamar. Termasuk Mutiara yang baru saja selesai mandi.

Tiba di kamar, mereka mendapati Arumi masih terbaring di atas ranjang tempat tidur. Tubuh perempuan itu tertutup sepenuhnya oleh bed cover tebal.

“Arumi ...!” Viola segera mendekat dan memeriksa keadaan gadis muda itu. Mbok Jum bilang, tubuh Arumi cukup panas saat ia sentuh. Feeling Viola mengatakan jika menantunya itu sedang demam.

“Badannya panas sekali. Kita harus segera panggil dokter,” ucapnya lagi.

“Mbok, tolong telepon dokter Reza. Tanyakan apa dia bisa ke sini?” perintah Langit kepada sang asisten rumah tangganya.

“Baik, Mas Langit.” Perempuan paruh baya itu segera berlalu keluar kamar.

Viola menurunkan sedikit bed cover dari wajah Arumi. Lalu menyuruh Langit untuk menaikkan suhu ruangan, agar Arumi merasa lebih hangat.

“Dia mungkin shock,” ucap Viola.

“Shock, Bun? Shock kenapa memangnya?” tanya Mutiara penasaran.

Viola tidak menjawab, ia hanya melempar pandang ke arah putranya yang berdiri diam di dekat lemari seperti patung Liberty. Mulutnya memang terkunci, tapi sorot matanya mengintimidasi.

Selang tiga puluh menit, dokter pun sudah tiba di rumah. Arumi langsung diperiksa dan kemudian dokter meresepkan obat untuk menurunkan suhu panas badannya.

“Ada apa dengan menantu saya, Dok?” tanya Viola penasaran.

“Sepertinya dia sedikit kelelahan. Juga saya lihat dia seperti tertekan dan stres. Ini biasa terjadi pada pasangan yang baru menikah. Jadi saran saya, perbanyak istirahat, minum air putih yang cukup, dan kalau bisa, hindari dulu aktifitas-aktifitas yang bisa memicu stresnya semakin parah.”

“Oh, begitu. Baik Dokter. Terima kasih banyak.”

“Sama-sama. Saya permisi dulu.” Dokter pun berlalu meninggalkan kediaman Langit.

Seketika pandang Viola kembali tertuju kepada putra semata wayangnya itu. “Keterlaluan kamu Langit. Nggak bisa apa kamu pelan-pelan sedikit. Ini pasti yang pertama bagi Arum. Lihat, dia sampai shock begini gara-gara kamu.” Viola melempar tuduhan kepada Langit.

“Loh, kok Langit sih, Bun? Memangnya Langit apakan Arumi? Orang Langit nggak buat apa-apa.” Langit membela diri.

“Kalau kamu nggak apa-apakan dia, kenapa dia bisa sampai sakit kayak gini?”

“Ya nggak tahu. Tanya saja sama orangnya langsung.” Langit masih tidak terima disalahkan.

Seketika semua orang terdiam. Ruangan itu mendadak menjadi hening. Hanya helaan napas berat dari mulut Viola yang terdengar. Hingga kemudian Arumi bangkit dan duduk menyangga pada headboard.

“Mas Langit nggak salah kok, Bun. Ini memang daya tahan tubuh Arum aja yang sedikit lemah. Nggak bisa berada di ruangan yang terlalu dingin.” Arumi mencoba meluruskan duduk perkara yang ada. Tak sampai hati juga melihat suaminya terus-menerus menjadi kambing hitam.

Viola mengelus lembut rambut Arumi. Kemudian tersenyum simpul sebagai bentuk dukungannya kepada sang menantu. “Kalau emang kamu nggak bisa suhu ruang terlalu dingin, harusnya kamu bilang sama Langit. Jangan diam aja. Lain kali kasih tau aja, ya?”

“Iya Bun. Maaf ya, Arum jadi ngerepotin kalian semua.” Gadis cantik itu menundukkan kepalanya.

“It's ok, Sayang. Nggak masalah. Sekarang kamu istirahat lagi ya? Biar cepat sembuh. Besok kami sudah harus balik ke Belanda. Bunda nggak akan tenang kalau ninggalin kamu dalam keadaan sakit kayak gini. Ya?”

Arumi tersenyum dan mengangguk patuh. “Makasih, Bunda.”

“Sama-sama.” Viola mengelus lembut punggung tangan Arumi.

***

“Kalian baik-baik ya? Kalau ada apa-apa kabari Bunda.” Pesan Viola kepada anak dan menantunya.

Hari ini ia dan yang lainnya sudah harus kembali ke Amsterdam, Belanda. Sebab libur cuti Erlangga sebagai kedutaan besar Indonesia di sana tinggal dua hari lagi. Mutiara juga sudah harus masuk sekolah. Jadi mau tidak mau, mereka sudah harus meninggalkan Indonesia.

“Maaf ya, Bun, Langit nggak bisa antar kalian ke Bandara.” Raut wajah pria ini tampak menyesal.

“Nggak apa-apa. Arumi juga belum sembuh betul. Kamu fokus aja sama kesembuhan dia. Biar cepat ngasih Bunda cucu,” bisik Viola di telinga putranya.

“Iya, iya. Sudah, langsung berangkat. Driver-nya udah nungguin tuh.” Langit cepat mengalihkan pembicaraan.

Viola bergeser kepada Arumi yang berdiri di samping Langit. Ia tatap sekejap wajah gadis lugu itu. “Bunda pergi dulu ya? Bunda titip anak laki-laki Bunda ini. Dia ini umurnya memang jauh di atas kamu, tapi sifatnya masih seperti bayi yang baru lahir. Harus banyak-banyak sabar ngadepin dia?”

Panjang kali lebar Viola memberitahu Arumi tentang putranya.

Arumi pun tertawa pelan mendengarnya. Bisa-bisanya perempuan sejuta branded itu mengatai anaknya sendiri. “Baik, Bunda. Bunda, Ayah, dan Mutiara, hati-hati ya? Semoga sampai tujuan dengan selamat.”

“Amin. Thank you, Sayang. And ... see u next time.” Viola memeluk erat tubuh Arumi. Sebuah pelukan yang bermakna ganda, antara kasih sayang, dan sebuah amanat yang tak boleh dibuang.

Setelah semua barang-barang masuk ke dalam bagasi, Viola, Erlangga dan Mutiara segera masuk ke dalam taksi. Mereka lalu melambaikan tangan kepada Arumi dan juga Langit. Sesaat kemudian, kendaraan roda empat itu pun sudah menghilang dari pandangan keduanya.

“Kamu tahu apa yang Bunda saya bisikan tadi kepada saya?” Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Langit bertanya.

Arumi menoleh ke arah laki-laki itu. “Enggak, Om. Apa emangnya, Om?” tanyanya balik.

“Dia mau cucu.”

— Akhir Chapter —