Setelah mendengar kata-kata Langit sore tadi, jiwa Arumi pun menjadi tidak tenang. Ia terus saja gelisah, sampai-sampai apa yang ia sentuh jatuh dan berserakan di mana-mana.
Seperti air minum yang tumpah. Piring yang pecah. Hingga beberapa benda lainnya yang seperti enggan untuk ia jamah.
“Ada apa denganmu? Kalau belum sanggup bergerak, kenapa tidak bedrest saja dulu?” Omel Langit sembari mengelap lantai yang basah. Mbok Jum tengah mandi, jadi tidak tahu dengan apa yang terjadi.
“Biar Arum aja, Om.” Arumi ingin mengambil alih pekerjaan itu, tapi gerakan tangan Langit begitu cepat mencegahnya.
“Sudah, kembali ke kamar sana. Kalau sakitmu bertambah parah, saya juga yang repot nanti.
Arumi mengangguk patuh. “Maaf ya, Om?” Ia segera berlalu ke dalam kamar.
Namun, bukannya istirahat, Arumi justru memberesi barang-barangnya dan bersiap untuk pindah kamar. Sebab ia teringat dengan isi perjanjian pernikahan mereka di awal, jika mereka akan tidur dengan kamar yang terpisah, sampai Andini kembali.
Namun, belum selesai Arumi mengemasi barang-barangnya, Langit sudah lebih dulu muncul dari balik pintu. Segera melangkah mendekati gadis bermata indah itu dengan tatapan yang sulit untuk dideskripsikan.
“Mau kemana kamu?” tanyanya.
“E ... A—arum ... Arum harus pindah kamar, kan Om? Sesuai dengan perjanjian kita di awal.”
“Taruh kembali barang-barang kamu,” perintah Langit.
“Loh, kenapa, Om?” Arumi berubah bingung.
“Perjanjian kita sekarang sudah berubah." Langit melempar sebuah map coklat ke atas nakas yang ada di samping Arumi. “Baca itu,” titahnya melalui gerakan kepalanya.
“A—apa ini, Om?” tanya Arumi gugup. Entah mengapa, setiap kali berduaan dan mengobrol dengan suaminya itu, batin Arumi jadi dag-dig-dug tak menentu.
“Baca saja.”
Arumi pun mulai menggerakkan tangannya perlahan. Membuka map tersebut dan segera mengeluarkan isi di dalamnya.
“Surat Perjanjian Pernikahan?” tanya Arumi lagi dengan dahi yang bertaut.
“Eum. Silahkan kamu baca sampai habis.”
“Tapi bukannya Om udah ngasih ini ke Arum sebelum kita nikah ya? Kenapa sekarang ngasih lagi?”
“Itu yang lama, ini yang terbaru. Ada beberapa bagian yang saya revisi,” jelas Langit. Kedua tangannya terus berada di dalam saku celananya sejak ia melempar map coklat tadi.
“Revisi, Om? Bagian yang mana ya?” Arumi kembali bertanya. Dirinya benar-benar bingung dengan sosok yang ada di hadapannya itu.
Tiba-tiba mengajak menikah. Tiba-tiba membuat perjanjian pernikahan. Sekarang tiba-tiba revisi. Ini dia sedang berumah tangga, atau membuat skripsi semester akhir sih?
“Kamu ini memang cerewet ya? Baca saja dulu.” Langit pun kemudian berlalu keluar kamar. Meninggalkan Arumi dengan sejuta kebingungan di kepalanya.
Melihat Langit pergi, Arumi hanya bisa memanyunkan bibir, lalu mulai membaca dokumen itu dengan seksama.
Sampai akhirnya ia mendapati poin yang benar-benar mengusik jiwanya. Tanpa menunda, ia pun langsung menghampiri Langit di ruang kerjanya dan berkata, “Arum nggak setuju dengan poin nomor sepuluh, Om.”
Arumi meletakkan map kontrak perjanjian pernikahan itu di depan Langit. Ia menolak langsung apa yang pria dewasa itu tulis di sana.
Langit yang sedang duduk di depan laptopnya seketika menoleh dan melihat sekilas ke arah Arumi. “Kenapa?"
“Ya karena sejak awal, kesepakatan kita hanya menikah kan? Bukan menjadi suami-istri sungguhan?” Napas Arumi tampak terengah-engah seperti orang yang baru saja lari maraton lima kilometer.
“Saya nggak bilang kalau kita akan menjadi pasangan suami-istri sungguhan.”
“Terus ini ....”
“Saya hanya minta kamu melahirkan seorang anak untuk saya. Untuk keluarga saya. Itu saja.”
Arumi tercengang dan membuang napas kasar. Bibirnya mengulas tawa, tapi perasaan batinnya porak poranda.
‘Itu saja?’
“Maaf, Om. Tapi Arumi bukan p3l4cur!" ucapnya lantang.
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Arumi, seketika Langit pun terdiam. Ia lalu menutup laptopnya dan bangkit. Kemudian menarik paksa tangan Arumi dan membawa istrinya itu menuju ke kamarnya.
“Ih, Om, apa-apaan sih? Lepasin. Om mau bawa Arum ke mana?” Arumi terus berusaha melawan, tapi cengkraman tangan Langit benar-benar kuat. Mustahil untuk ia lepas.
Mbok Jum yang melihat mereka, hanya bisa menatap iba kepada istri majikannya itu. Ia pikir, Langit akan memukul Arumi. Padahal, tidak sama sekali.
“Masuk!” Langit melepaskan pegangan tangannya dari Arumi dan segera mengunci pintu.
“Om, Arum mau keluar.” Arumi maju dan hendak menuju pintu. Namun Langit tidak mengizinkannya. Ia terus menahan istrinya itu dengan bidang dadanya yang memang cukup kuat untuk Arumi terobos.
“Apa permintaan saya begitu sulit untuk kamu kabulkan?”
Arumi sedikit menengadah. Poster tubuh Langit yang memang besar tinggi, jauh dari postur tubuhnya yang mungil, membuat ia harus sedikit mengangkat kepala dalam menatap wajah suaminya itu.
“Ini bukan perkara mudah atau sulit, Om. Ini masalah masa depan. Om sadar nggak sih, kalau Arum harus ngasih Om anak. Itu artinya Arum harus nyerahin seluruh hidup Arum, ke Om.” Suara Arumi terdengar sedikit bergetar.
“Ya ... terus masalahnya di mana? Kita sudah menikah, kamu sudah halal untuk saya. Begitupun sebaliknya? Apa? Apa yang membuat kamu sulit melakukannya?” Langit mulai mencecar Arumi dengan banyak pertanyaan.
Arumi menggeleng pelan. Tawa itu kembali menguar, menghiasi wajah sendunya. Tawa yang semakin membuat dirinya tampak begitu bodoh dan menyedihkan di hadapan Langit.
“Masalahnya, kita ini sama-sama nggak ada perasaan apa-apa, Om. Om cintanya sama Mama, bukan sama Arum. Arum juga nggak mungkin melakukan ini. Bagaimana kalau tiba-tiba Mama muncul?”
Langit terdiam.
“Om nggak bisa jawab kan? Jadi biarin Arum keluar ya Om?” Arumi segera berlalu melewati Langit. Langsung menuju pintu dan bersiap untuk menarik handle.
Akan tetapi, belum juga ia berhasil memegang handle pintu tersebut, Langit sudah lebih dulu berbalik dan menarik kembali tangannya. Bahkan tak sekedar menarik, pria dewasa itu juga membawa turut serta tubuh Arumi ke dalam pelukannya.
“Om Langit?!” seru Arumi dengan dua bola mata yang membola. Ia benar-benar terkejut luar biasa. Langsung membeku dan terdiam dengan pandang yang terus terpatri ke arah Langit.
“Jangan membicarakan apa yang belum tentu terjadi, Arumi. Lebih baik kita jalani saja, apa yang ada di depan kita saat ini.”
- Akhir Chapter -