Perawat muda itu langsung terdiam, wajahnya penuh rasa canggung. Dia tidak menyangka Gladys bisa begitu tenang saat membongkar aib suaminya sendiri.
Namun, sepertinya itu memang benar. Kalau tidak, mana mungkin ada pasangan yang sudah menikah tujuh tahun tetapi belum punya anak? Akibatnya, tatapannya pada Gladys semakin dipenuhi rasa iba.
Gladys tidak mengatakan yang sebenarnya. Faktanya, Marshel memang tidak ingin dia melahirkan anaknya.
Sejak malam pertama mereka, pria itu sudah berkata dengan dingin kepadanya, "Kerjaanku sangat sibuk. Aku nggak punya waktu ngurus anak, jadi aku memang nggak berniat punya anak. Jangan berharap dan jangan mencoba berdiskusi soal ini denganku."
Saat itu, dia memahami Marshel. Dia merasa pria itu memang sibuk. Namun, sekarang ... dia akhirnya mengerti alasan Marshel tidak ingin punya anak.
Karena dia takut jika anak itu lahir, wanita yang dia cintai akan merasa terganggu. Lucunya, belum lama ini dia malah ingin jujur pada Marshel bahwa mereka punya seorang putri!
Suara langkah kaki kembali terdengar. Begitu mendongak, Gladys langsung berhadapan dengan tatapan Marshel yang sulit ditebak.
Pria itu membawa bukti pembayaran administrasi. Tatapannya pada Gladys bahkan lebih dingin daripada kepada orang asing.
Jangan-jangan ucapan fitnahnya soal disfungsi ereksi tadi didengar Marshel? Namun, setelah dipikir-pikir lagi, memangnya kenapa kalau pria itu dengar? Dia sudah tidak peduli lagi.
Marshel segera menarik kembali pandangannya dan pergi tanpa ekspresi. Gladys tidak merasa aneh. Toh memang selalu seperti itu.
Ketidaksabarannya pada Gladys, ketidakpeduliannya, kemalasannya untuk menghabiskan energi demi dirinya, tak pernah sekali pun dia sembunyikan. Bahkan jika Gladys ingin bertengkar, pertengkaran itu sulit terjadi.
Semua emosi itu hanya akan tertahan di dalam dadanya, hari demi hari, tanpa tempat untuk meluapkannya.
Walaupun punya suami, dia tidak pernah punya tempat bersandar, juga tidak punya penopang batin. Itulah salah satu alasan kenapa dia dulu diam-diam melahirkan putrinya dan membesarkannya tanpa sepengetahuan Marshel.
Dengan langkah berat, Gladys kembali ke ruang praktiknya. Dia membuka laci meja kerjanya. Di dalamnya, dua tumpuk dokumen tersimpan rapi.
Dulu sebelum resmi menikah dengan Marshel, ayah Marshel lebih dulu menemuinya dan memberinya dua surat perjanjian. Yang satu adalah perjanjian pranikah, dan satunya lagi adalah perjanjian perceraian.
Latar belakang keluarganya memang sangat jauh jika dibandingkan dengan keluarga Marshel, Keluarga Ruswandi. Perbedaannya dengan Marshel benar-benar seperti langit dan bumi. Kalau bukan karena kejadian tahun itu, Keluarga Ruswandi tidak mungkin mengizinkannya masuk ke keluarga mereka.
Kakek tua itu pun selalu meremehkannya.
Di surat perjanjian perceraian itu tertulis batas waktu tujuh tahun. Begitu tujuh tahun berlalu, perjanjian perceraian itu ... otomatis berlaku.
Saat itu Marshel bahkan tidak membaca isi perjanjiannya. Dia langsung menandatangani tanpa ragu dan mungkin sampai sekarang pun tidak tahu keberadaan surat perjanjian perceraian itu.
Sekarang, waktu menuju hari perceraian sesuai perjanjian ... tinggal tiga bulan lagi.
Gladys bahkan tidak ingin membuang satu detik lagi. Dengan cepat, dia memasukkan dokumen itu ke dalam tas. Setelah menyelesaikan pekerjaannya hari itu sambil menahan rasa lelah, dia pun kembali ke rumah mereka.
Baru selesai mengganti sepatu, dia langsung melihat Marshel turun dari lantai atas.
Gladys berdiri diam di tempat. Dia juga tidak melihat tanda-tanda Marshel ingin bicara dengannya ataupun menjelaskan soal kejadian di IGD tadi.
Saat pria itu melewatinya, akhirnya Gladys bersuara, "Kita cerai saja. Aku kasih kamu waktu tiga bulan buat ngurus pembagian dan pemindahan harta."
Baru saat itulah langkah Marshel berhenti. Jari panjangnya yang sedang mengancingkan manset batu permata itu terdiam sesaat. Mata hitamnya yang dingin dan tajam menatap Gladys dari atas sampai bawah.
"Cuma karena hari ini aku menemani Ingrid berobat?"
Bagus sekali kata "cuma" itu. Jadi dia juga tahu bahwa Gladys akan mempermasalahkan hal itu, hanya saja sengaja tidak mau membahasnya.
Gladys membalas tatapannya tanpa gentar, suaranya ringan. "Ya."
Soal benar atau salah, dia malas berdebat. Soal anak mereka, jangan harap Marshel bisa tahu sedikit pun.
Mata hitam Marshel nyaris terlihat tanpa emosi. Dia juga tidak peduli apakah Gladys merajuk atau tidak.
"Di rumah kamu boleh melampiaskan emosimu sesuka hati. Tapi di luar, sebagai Nyonya Ruswandi, kamu tahu apa yang harus dilakukan."
Ucapan itu jelas-jelas hanya demi menjaga citra elegan Ingrid di depan orang lain. Dia sama sekali tidak peduli pada perasaan Gladys.
Gladys akhirnya sadar. Kenapa memangnya kalau dia memergoki mereka berdua dalam situasi seintim itu? Marshel sama sekali tidak merasa perlu memberi penjelasan apa pun kepada dirinya sebagai seorang istri.
"Tenang saja." Gladys tanpa sadar mengepalkan tangan sendiri. Rasa sakit itu membuat nadanya kembali tenang. "Kalau sudah cerai, semuanya juga bukan urusanku lagi."
Mungkin Marshel agak terkejut. Pria itu lantas memandang istrinya yang selama ini selalu menurut padanya, tetapi kini seolah-olah mulai menunjukkan sisi pemberontak. Meskipun begitu, tetap tidak ada riak emosi di matanya.
"Aku nggak punya waktu untuk meladeni emosimu. Kalau memang keberatan, kamu bisa cari pengacara sendiri untuk menyusun perjanjiannya."
Selama tujuh tahun pernikahan, jangankan cinta, bahkan keberadaan Gladys di sisinya pun seolah tak pernah berarti apa-apa. Persetujuannya untuk bercerai dilontarkan tanpa sedikit pun keraguan.
Gladys tidak membuang-buang waktu. Dengan tekad bulat, dia melewati tubuh tinggi pria itu dan langsung ke lantai atas untuk membereskan barang-barang pribadinya.
Mata dingin Marshel sedikit menyipit, mengikuti punggung Gladys yang kurus dan menjauh. Namun, hanya dua detik kemudian, dia sudah bisa menebak maksud Gladys.
Reaksi Gladys yang kali ini terlihat sedikit lebih keras sama sekali tidak dia masukkan ke dalam hati. Dulu, Gladys juga bukan sekali dua kali melakukan hal seperti ini demi menarik perhatiannya. Dia juga tidak pernah repot-repot menanggapinya.
Karena pada akhirnya, Gladys akan selalu mengalah lebih dulu padanya. Begitu tidak mendapat respons, wanita itu akan berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan menenangkan dirinya sendiri.
Bahkan, biasanya tidak perlu sampai beberapa hari. Jadi, emosi Gladys memang tidak terlalu berarti baginya.
Marshel menarik kembali pandangannya dengan datar. Dia mengambil mantel, lalu keluar rumah lagi tanpa menoleh.
Setelah kembali ke kamar, Gladys memandang rumah yang selama tujuh tahun ini dia tata dengan sepenuh hati. Untuk sesaat, dia bahkan tidak tahu harus mulai membereskan dari mana.
Pada saat itu, ponselnya berbunyi. Begitu melihat gambar kartun yang muncul, sorot matanya langsung melembut.
Dia membuka pesan suara itu. Dari speaker terdengar lagi suara polos anak kecil. "Mama, bulan depan aku akan pergi ke ibu kota buat cari Mama! Kita bisa terus bersama lagi!"
Mata Gladys tiba-tiba terasa panas. Dia buru-buru mendongak menahan air matanya. Untungnya, dia masih punya harta kecilnya. Untungnya, dia tidak pernah memberi tahu Marshel soal keberadaan anak mereka.
Di saat yang sama, telepon dari Febby masuk. Nadanya terdengar bersemangat sekaligus khawatir. "Anak kita mau datang?"
"Bulan depan."
Febby mendecak, lalu tiba-tiba berkata, "Bukannya Marshel mandul? Kalau dia tahu kamu diam-diam lahirin seorang anak perempuan, bahkan hanya berniat mempertahankan anak dan mencampakkan ayahnya, dia bakal gila nggak?"
Gladys hanya tersenyum tipis, penuh ejekan pada dirinya sendiri. "Nggak bakal."
Marshel bahkan tidak peduli padanya, mana mungkin dia peduli soal hal seperti itu? Dia bahkan bisa melakukan hal memalukan seperti berhubungan liar dengan calon adik iparnya sendiri saat wanita itu masih hamil muda.
Mau dia peduli pada anak itu atau tidak, dia sudah tidak pantas menjadi seorang ayah! Soal rumor mandul itu ....
Pandangan Gladys sempat kosong sesaat. Sebenarnya di tahun pertama pernikahan mereka, karena Marshel selalu melakukan pencegahan dengan sangat baik, dia tidak pernah hamil. Sampai suatu hari, dia tanpa sengaja mendengar obrolan para pelayan.
Mereka bilang, kemungkinan besar Marshel tidak bisa punya keturunan. Sebelumnya Keluarga Ruswandi terus ingin menjodohkan Marshel dengan gadis dari keluarga terpandang, tetapi Marshel selalu menolak, bahkan terang-terangan mengatakan dirinya tidak akan punya anak.
Lama-kelamaan, rumor bahwa pewaris Keluarga Ruswandi akan putus keturunan mulai menyebar.
Ditambah lagi, selama tujuh tahun pernikahan, mereka memang tampaknya tidak punya anak sehingga di mata orang luar rumor itu semakin terasa benar.
Beberapa tahun lalu, Gladys memang memercayainya. Dia bahkan merasa tidak masalah. Selama kehidupan mereka baik-baik saja, anak hanyalah pelengkap kebahagiaan.
Namun, selama bersama dirinya, Marshel selalu menggunakan pengaman. Kemampuan pria itu dalam urusan ranjang sebenarnya selalu sangat bagus. Meskipun hubungan mereka tidak harmonis, Gladys tidak bisa menyangkal hal itu.
Namun belakangan, Marshel selalu menghindari topik soal anak. Sampai Gladys sendiri mulai benar-benar percaya pada rumor tersebut. Sampai hari itu ....
- Akhir Chapter -