Setelah menikah, hubungan mereka sebagai suami istri sebenarnya tidak harmonis sejak awal.
Marshel sangat jarang pulang ke rumah. Dalam sebulan, bisa dua kali berhubungan suami istri saja sudah bisa dianggap sebagai hal yang istimewa.
Apalagi komunikasi sehari-hari.
Namun, pada akhir tahun pertama pernikahan mereka, Marshel harus pergi ke cabang perusahaan di Andrika demi membangun fondasi untuk mengambil alih kekuasaan keluarga secara bertahap.
Malam sebelum berangkat ke Andrika, Marshel pulang dalam keadaan mabuk setelah jamuan bisnis dan untuk pertama kalinya lupa memakai pengaman.
Malam itu, dia begitu liar. Untuk pertama kalinya Gladys tahu, ternyata saat mabuk dan tidak sadar siapa dirinya, Marshel tidak sedingin dan sepasif biasanya.
Dua bulan setelah Marshel pergi, Gladys mengetahui dirinya hamil. Dia bisa memeriksa denyut nadinya sendiri dan dia sangat terkejut.
Saat itu, dia bahkan sempat berpikir dengan naif, kalau selama ini Marshel memang mengira dirinya mandul, apa kehamilannya bisa menjadi penengah hubungan mereka sebagai suami istri?
Karena itu, dia memilih untuk mencoba mengujinya terlebih dahulu. Dia langsung terbang ke Nuyark. Saat itu, dengan hati penuh sukacita dan harapan, dia pergi ke perusahaan Marshel.
Di tengah angin dingin yang menusuk, dia menunggu selama dua jam. Marshel tampak sangat terkejut dengan kedatangannya. Dia tidak memperkenalkan identitas Gladys kepada siapa pun, hanya menyuruh asistennya mengantarnya ke tempat tinggalnya.
Saat itu Gladys masih penuh semangat dan cinta, sehingga tidak menyadari sikap dingin Marshel yang sengaja menjaga jarak dengannya di depan orang lain.
Malam harinya setelah mandi, pria itu bahkan tidak bertanya apakah perjalanan jauhnya melelahkan atau tidak. Dia membungkuk mencium daun telinganya, tetapi di dalam matanya hanya ada ketidakpedulian seperti menjalankan kewajiban semata.
Seolah-olah Gladys datang jauh-jauh hanya untuk meminta disentuh olehnya.
Gladys merasa tidak nyaman. Dia mendorong pria itu dengan perlahan, menahan debaran di dalam dadanya sambil bertanya dengan gugup, "Kalau aku punya anak ... apa hubungan kita akan ...."
Ucapan itu tampaknya langsung menghancurkan sedikit minat yang dimiliki Marshel. Tanpa ragu, pria itu menjauh, lalu membalikkan badan dan berbaring di sampingnya sambil memejamkan mata. Dia tetap menjaga jarak meski tidur di ranjang yang sama.
"Kalau kamu berpikir seorang anak bisa menjadi penyangga pernikahan kita, aku sarankan jangan berharap terlalu banyak." Nada bicaranya tetap tenang dan datar, tetapi juga kejam dan terus terang. Di baliknya hanya ada ketidakpedulian yang menusuk tulang.
Malam itu, Gladys tidak tidur. Dia ingin menangis, tetapi juga merasa semua ini salahnya sendiri.
Keesokan harinya, Marshel bahkan seperti mengusirnya. Dia memesankan tiket pesawat dan menyuruh orang mengatur kepulangannya ke tanah air, tidak ingin Gladys tinggal lebih lama walau hanya semenit pun.
Sedih, kecewa ....
Ditambah adanya surat perjanjian perceraian tujuh tahun itu, Gladys sadar bahwa akhir hubungan mereka sebenarnya sudah ditentukan sejak awal. Karena itu pula, dia segera mengambil keputusan.
Entah Marshel benar-benar tidak peduli pada anak atau memang yakin dirinya mandul, Gladys memutuskan tidak akan memberitahunya sedikit pun.
Anak dalam kandungannya adalah darah dagingnya, penerus garis keturunannya, tidak ada hubungannya dengan Marshel! Dia tidak akan membiarkan sikap pria itu menyakiti tubuhnya sendiri maupun anaknya!
Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, mempertahankan anak dan mencampakkan sang ayah memang keputusan paling nekat, gila, sekaligus paling benar yang pernah dia buat!
Gladys bermarga Haryono, sedangkan Keisha bermarga Darmawan, sama seperti sahabatnya, Febby.
Namun, Keisha sebenarnya tidak masuk ke kartu keluarga sahabatnya itu. Marga Darmawan itu bukan berasal dari Febby, melainkan dari kakak sepupu Febby yang kelak akan menjadi pewaris keluarga ....
Gladys teringat pria yang bersedia membantunya dan membiarkan anak itu terdaftar atas namanya.
Dia menggeleng, lalu melihat ruang obrolannya dengan Keisha. Tak seorang pun di Keluarga Ruswandi mengetahui hal ini. Sekarang, putrinya adalah satu-satunya harta perceraian miliknya.
Toh Marshel memang suami yang tidak becus. Kalau begitu, untuk apa dia bersikap perhitungan terhadap "donor benih" seperti Marshel?
....
Setelah Gladys mengaku pada Febby bahwa dirinya akan bercerai, Febby terdiam selama beberapa detik. Bagaimanapun, dialah orang yang paling tahu seberapa besar cinta Gladys pada Marshel. Dari usia belasan tahun sampai sekarang, sudah lebih dari sepuluh tahun.
Rasa sakit itu seperti menguliti manusia hidup-hidup, tetapi nada suara Gladys sekarang justru sangat tenang. Tenang karena sudah terlalu sering terluka sampai mati rasa.
Febby pun merasa keputusan Gladys untuk tidak memberi tahu Marshel bahwa dia punya seorang putri yang sudah masuk taman kanak-kanak memang pantas diterima pria itu! Itu hukuman untuknya!
Namun, Febby juga tahu seberapa besar penderitaan Gladys, jadi dia langsung mendukung. "Cowok itu kayak tisu bekas cebok. Nggak ada gunanya, malah bikin jijik. Dasarnya memang murahan! Sampah ya harusnya tinggal di tempat sampah!"
Setelah panggilan berakhir, Gladys terus membereskan barang-barang pribadinya tanpa berhenti sedetik pun.
Tujuh tahun menjadi nyonya keluarga kaya raya, tetapi pada akhirnya barang-barangnya hanya memenuhi dua koper.
Dia menunduk melihat cincin berlian di jari manisnya. Jemarinya mengusapnya perlahan. Cincin itu sudah dipakai bertahun-tahun, terlihat begitu halus dan hangat di kulitnya, tetapi sekarang rasanya seperti ada pisau yang mengiris.
Setelah menarik napas dalam-dalam, dia tetap melepaskannya tanpa ragu dan memasukkannya ke map surat perjanjian perceraian.
Memanfaatkan malam yang sunyi, dia memasukkan koper-kopernya ke mobil. Karena hari sudah terlalu larut, setelah pulang, dia langsung tidur tanpa sempat berganti pakaian.
Keesokan harinya, Gladys terbangun karena suara ribut dari bawah seperti orang sedang memindahkan barang.
Dia hanya tidur tiga jam. Kebisingan itu terasa seperti ada orang yang mengebor telinganya.
Menahan rasa tidak nyaman, Gladys selesai mandi dan bersiap-siap, lalu meletakkan map berisi surat perjanjian perceraian tepat di tengah meja rias yang kini sudah kosong melompong.
Dia ingin memastikan Marshel langsung melihat kejutan yang selama ini dia tunggu begitu masuk ke kamar.
Setelah itu, dia berjalan keluar. Semalam, Febby sudah membantunya mencarikan apartemen. Mengingat nantinya Keisha akan tinggal bersamanya, Febby sengaja memilih apartemen tiga kamar. Sebentar lagi, dia tinggal memindahkan koper ke sana.
Saat berjalan ke tangga, Gladys melihat seorang remaja laki-laki usia 12 atau 13 tahun sedang berdiri di ruang tamu sambil memerintah para pekerja.
Begitu melihatnya, remaja itu langsung berbicara dengan suara parau khas masa pubertas, "Cepat beresin barang-barangmu dan kosongin tempat ini! Kakak iparku nanti bakal pindah ke sini. Jangan kotori tempatnya!"
Anak itu kasar dan tidak sopan. Dia adalah adik Marshel, Ervan. Dimanja sampai tidak tahu batas, sama sekali tidak mirip dengan Marshel.
Selama ini Ervan tidak pernah memanggil Gladys sebagai kakak ipar. Namun sekarang, nada bicaranya justru penuh pembelaan terhadap wanita lain.
Gladys memandangnya dari atas tangga, bertanya dengan nada dingin, "Siapa?"
"Tentu saja Ingrid! Dia itu wanita hebat yang benar-benar pantas buat kakakku! Kamu numpang di rumah kakakku bertahun-tahun, selain jadi pembantu memangnya bisa apa lagi?" Ervan berkacak pinggang, wajah mudanya penuh penghinaan.
Gladys melirik barang-barang yang baru dipindahkan ke ruang tamu. Meja rias baru, sofa baru, cermin baru. Semuanya sangat sesuai dengan gaya Ingrid.
"Siapa yang kasih izin?" tanya Gladys dengan ekspresi dingin.
Ervan bahkan sempat terkejut melihat ekspresi Gladys yang sedingin itu. Karena malu sekaligus kesal, dia langsung membalas dengan keras, "Tentu saja kakakku! Memangnya siapa lagi?"
"Dia sudah nggak mau sama kamu! Dia merasa jijik sama kamu! Wanita bekas pakai! Kalau tahu diri, cepat minggir dan kosongin tempat!"
Bibir Gladys menegang. Dadanya terasa seperti dihantam benda tumpul dengan keras, membuat otaknya kosong selama beberapa detik.
Dia tidak menyangka Marshel sudah begitu tidak sabar ingin mengosongkan tempat untuk wanita yang dicintainya.
Padahal baru kemarin dia memergoki pria itu melakukan hal memalukan dengan Ingrid yang sedang mengandung, hari ini semuanya sudah dilakukan terang-terangan seperti ini.
Apa dia sedang menyiapkan rumah pernikahan mereka untuk menyambut nyonya rumah yang baru?
- Akhir Chapter -