Kini, Marshel membiarkan barang-barang Ingrid dipindahkan masuk tanpa berusaha menutupinya sedikit pun. Pria itu seperti ingin semua orang melihat betapa menyedihkan dan gagalnya dirinya sebagai Nyonya Ruswandi.
Meskipun dia ingin bercerai dengan Marshel, meskipun Marshel sudah tidak sabar ingin memberi status kepada Ingrid, Gladys tetap tidak akan membiarkan dirinya dihina seperti ini sebelum akta pernikahan mereka resmi dinyatakan tidak berlaku!
Gladys mendekat selangkah demi selangkah, lalu menatap para pekerja itu dengan tenang sambil menunjuk barang-barang yang dipindahkan masuk satu per satu.
"Semua furnitur ini mahal. Aku kasih semuanya ke kalian. Dijual bekas pun pasti laku mahal. Tolong bawa keluar."
Para pekerja itu memang dibayar untuk datang. Begitu mendengar keuntungan sebesar itu, tentu mereka lebih memilih mendengarkan Gladys yang sudah dewasa. Saat itu juga, mereka langsung mengiakan dengan gembira.
Ervan terlambat menghentikan mereka. Dia marah besar sambil menunjuk Gladys. "Kamu pikir kamu siapa? Ini hadiah dari mamaku untuk Kak Ingrid! Memangnya kamu punya hak buat ngatur? Kakakku pasti bakal ngusir kamu dari rumah!"
Gladys mengerti sekarang. Di balik semua ini, selain Marshel, ada campur tangan ibu mertuanya, Farah.
Dia menunduk memandang Ervan, lalu berkata perlahan, "Besok aku akan pergi ke sekolahmu dan bilang ke teman-temanmu kalau kamu mendukung kakakmu selingkuh dengan istri adik sepupunya sendiri. Keluarga Ruswandi mendukung perselingkuhan dan bangga sama moral mereka yang rusak."
"Karena kamu begitu suka sama Ingrid, aku akan bantu promosikan dia biar kamu terkenal di sekolah, gimana?"
Pilihan kata Gladys memang sangat kasar. Dulu, dia tidak pernah bersikap keras pada Ervan seperti ini. Selama ini, dia selalu membujuk dan memanjakannya sehingga Ervan sampai membelalak karena terkejut.
Wajahnya memerah saat memekik, "Kamu memang wanita jahat dan kejam! Berani-beraninya kamu!"
Gladys mengangkat bahu. 'Lihat, 'kan? Siapa bilang anak kecil nggak ngerti apa-apa dan cuma bicara polos tanpa maksud? Begitu pisaunya menusuk dirinya sendiri, baru terasa sakit.'
Katanya tidak boleh mempermasalahkan sikap dan omongan anak kecil? Siapa yang menetapkan aturan itu?
Keributan itu rupanya menarik perhatian orang. Farah masuk dengan ekspresi dingin. "Ada apa ini?"
Sambil bertanya begitu, dia menatap Gladys dan mengernyit. "Sudah hampir jam 10, kenapa hari ini bangunnya telat sekali? Sup herbalnya belum jadi? Aku dan Ingrid makan apa kalau begini?"
Kalau membicarakan hal ini, tenggorokan Gladys terasa sakit sampai tercekat. Dia memahami ilmu pengobatan. Setiap minggu saat pulang ke rumah Keluarga Ruswandi, dia akan mengurus kesehatan seluruh keluarga.
Semua sup herbal dibuat sendiri olehnya, disesuaikan dengan kondisi tubuh dan selera setiap anggota keluarga. Dia bahkan bangun sebelum pukul 5 pagi untuk menyiapkannya sebelum berangkat kerja.
Kemudian, dia akan menyuruh orang mengantarkannya untuk keluarga besar, keluarga cabang kedua, dan yang lainnya.
Termasuk bagian milik Ingrid.
Sebelumnya, Farah sangat baik pada Ingrid. Dia mengira Ingrid kompeten, cantik, dan cocok dengan para tetua, jadi Farah menyukainya.
Namun, sekarang dipikir-pikir ... bukankah sebenarnya tanda-tandanya sudah ada sejak lama?
Farah tahu Ingrid adalah wanita yang paling dicintai Marshel, karena itu dia sangat menyayangi Ingrid. Terlebih setelah tunangan Ingrid dipenjara, Farah bahkan terang-terangan maupun diam-diam berusaha menjodohkan mereka.
Sementara dia sendiri dibodohi dan melayani selingkuhan suaminya selama setahun, seperti badut yang dipermainkan sampai berputar-putar. Mereka sama sekali tidak pernah menghormatinya sebagai manusia.
Gladys tidak ingin terus mengalah lagi. Dengan tenang, dia mengucapkan kalimat terakhir, "Kalau tanpa aku kalian sampai merasa mau mati, ya silakan mati saja."
Wajah Farah langsung berubah muram. Dia menatap punggung Gladys yang menjauh dengan tidak percaya.
Bahkan para pelayan di samping pun ikut tertegun. Nyonya besar mereka jadi gila karena cemburu pada Ingrid? Bagaimana dia berani mengatakan kata-kata tidak berbakti seperti itu kepada ibu mertuanya?
Farah segera tersadar kembali. Dia menyunggingkan senyuman dingin. "Memang orang miskin seperti dia nggak akan pernah naik kelas. Dengan toleransi sekecil itu masih bermimpi mempertahankan hati suami? Benar-benar mimpi!"
....
Setelah membereskan barang-barangnya, Gladys pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja selama empat tahun untuk menyerahkan surat pengunduran diri.
Dulu dia memilih rumah sakit dengan kualifikasi biasa itu karena lokasinya dekat dengan Syncrest Group milik Marshel.
Karena sekarang dia bahkan sudah tidak menginginkan pria itu lagi, tentu tidak perlu terus bertahan di sini.
Dia tidak pernah benar-benar kehilangan jalan keluar. Dia punya tempat yang lebih baik untuk dituju ....
Sore harinya, dia sudah membuat janji makan bersama Febby. Febby sudah mengirimkan lokasi restoran kepadanya. Letaknya tidak jauh.
Begitu masuk ke restoran, Febby langsung melambaikan tangan kepadanya, menuangkan secangkir teh, lalu menyodorkannya.
"Pengunduran dirimu sudah beres?"
Gladys mengangguk. "Hampir."
"Kamu yang minta cerai. Sikap Marshel gimana?" Febby cukup penasaran soal itu.
Dengan ego pria seperti Marshel, mungkin dia merasa harga dirinya sebagai laki-laki telah diinjak-injak karena Gladys yang lebih dulu mengajukan cerai.
Gladys menatap cangkir teh yang mengepulkan uap putih tipis, lalu menggeleng. "Dia nggak bilang apa-apa."
Bahkan, dia tidak mau duduk tenang bersamanya untuk membicarakan perceraian dengan baik-baik. Meskipun dia sudah muak dan meminta cerai, Marshel tetap bisa mengabaikannya seperti biasa.
Kalau dipikir-pikir, makhluk yang bernama pria memang lucu. Dia boleh membuangmu, tetapi kamu tidak boleh meninggalkannya lebih dulu.
Febby sampai menggertakkan gigi karena marah. "Hati pria itu terbuat dari batu ya? Tujuh tahun lho! Mana mungkin seseorang nggak punya reaksi sedikit pun?"
Gladys sendiri tidak tahu harus tertawa atau menangis. Kegagalannya sendiri, ketulusannya yang diinjak-injak, semua itu tidak bisa dia hindari sedikit pun.
Hanya dia yang tahu penderitaan dan kepedihan selama tujuh tahun itu. Air matanya pun sudah lama kering. Dia bukan lagi wanita yang hanya bisa mengemis sedikit cinta dari Marshel demi bertahan hidup.
Febby kembali bertanya apa yang membuat Gladys akhirnya memutuskan untuk bercerai. Gladys tidak menyembunyikannya. Dia menceritakan kejadian di IGD dengan jujur.
Wajah Febby langsung menjadi suram karena marah. Dia menepuk meja dan berdiri. "Pasangan berengsek itu begitu nggak tahu malu? Ingrid itu masih punya harga diri nggak sih? Tunangannya baru dipenjara berapa lama, dia malah melakukan hal memalukan seperti itu dengan kakak sepupu tunangannya sendiri! Bahkan sampai hamil?!"
Seumur hidupnya, baru kali ini dia mendengar hal seperti itu.
Gladys tahu sifat Febby memang terus terang. Saat emosinya naik, suaranya otomatis ikut meninggi. Dia buru-buru menarik tangan Febby. Sebenarnya dia sendiri tidak terlalu tahu situasi detail semalam.
Perawat muda hanya menceritakan garis besarnya kepadanya, dia juga hanya menjelaskan secara umum pada Febby.
Tentang kondisi tubuh Ingrid, dia bahkan belum sempat memeriksanya. Ingrid memandang rendah kemampuan medisnya dan juga sangat waspada terhadapnya.
Namun, semuanya sudah terlambat. Gladys mendengar dengusan dingin dari belakang. Dia menoleh dan melihat seorang pria berdiri di balik sekat ruangan.
Dia mengenali orang itu. Salah satu sahabat Marshel yang jumlahnya tidak banyak, Verrel. Tatapan sinis dan jijik di mata Verrel tidak disembunyikan sedikit pun. Jelas, dia mendengar seluruh ucapan Febby tadi. Dia pun menganggap Gladys sengaja menyebarkan aib itu ke mana-mana.
"Gladys, aku benar-benar nggak nyangka moralmu serendah ini." Verrel mencibir sambil menatapnya dari atas sampai bawah. Setelah mengejek, dia langsung melangkah ke lantai atas, sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Gladys untuk bereaksi.
Sikapnya yang menganggap seolah-olah Gladys adalah pihak yang bersalah membuat Gladys mengernyit.
Febby langsung meledak marah. "Memangnya dia siapa?! Mereka sendiri yang melakukan hal memalukan begitu, masih takut orang lain membicarakannya? Harusnya pasang spanduk di depan Syncrest Group sekalian! Saham mereka harus anjlok!"
Gladys tahu itu mustahil, kecuali dia memang tidak ingin hidup tenang lagi di negara ini.
Keluarga Ruswandi sangat berkuasa. Sebelum benar-benar berdiri kokoh, dia tidak akan mencari musuh terlalu jauh.
Apalagi dia tahu dirinya sendirian dan masih harus melindungi Keisha. Dia belum sebodoh itu.
Soal Verrel, dia tidak berniat memikirkannya lagi.
....
Di lantai atas, setelah Verrel membuka pintu dan masuk, wajahnya masih terlihat dingin.
Di ruang VIP elegan itu sudah diduduki banyak orang. Yang duduk di posisi utama tentu saja adalah Marshel.
Pria itu tampak anggun, wibawanya terbentuk alami meskipun tanpa bicara. Dia sedikit menoleh memandang Verrel.
Di sampingnya, ada Inggrid. Dengan senyuman tipis, dia memandang Verrel. "Siapa yang buat kamu marah?"
- Akhir Chapter -