Zayyan, sahabat lain yang ada di samping Marshel, ikut tertawa sambil bertanya, "Ya, kenapa mukamu murung begitu?"
Setelah duduk, Verrel melirik Ingrid yang berada di seberang. Wanita itu selalu anggun dan tahu batas saat bergaul dengan mereka. Cara bicara dan pembawaannya juga nyaris tanpa cela. Namun, Gladys diam-diam memfitnahnya seperti itu!
"Kalian tahu nggak siapa yang aku lihat di bawah tadi? Gladys."
Mendengar itu, wajah Marshel yang tampan dan tegas tetap terlihat tenang. Jemarinya mengetuk meja dengan santai. Jelas, dia sama sekali tidak tertarik dengan urusan istrinya.
Ingrid menuangkan secangkir teh untuk Verrel, lalu berkata dengan tenang, "Kalian bertengkar? Dia cuma wanita biasa, nggak usah dipikirin."
Melihat Ingrid masih membela Gladys, Verrel justru merasa perbedaannya semakin jelas. Dia bersandar sambil mencibir. "Kalian tahu dia ngomong apa soal Ingrid? Parah banget. Aku benar-benar nggak nyangka perempuan kalau cemburu bisa separah itu."
Dia mengulang ucapan yang tadi didengarnya di lantai bawah.
Marshel yang tadinya tak tertarik membahas Gladys akhirnya sedikit menyipitkan mata. Alisnya perlahan berkerut.
"Gladys yang ngomong langsung?" tanyanya sambil menoleh. Nada suaranya tak menunjukkan emosi apa pun.
Wajah Ingrid semakin masam. "Verrel nggak mungkin bohong." Dia mengatupkan bibir, lalu menggantikan Verrel menjawab.
Zayyan langsung memaki, "Ini sama saja menyebarkan fitnah murahan tentang Ingrid! Padahal Gladys sendiri 'kan perempuan! Pantas saja hidupnya gagal. Tujuh tahun jadi penjilat juga nggak dicintai. Otaknya cuma tahu bersaing dengan sesama perempuan?"
Dia berpikir sejenak, lalu segera berkata, "Difitnah tanpa alasan begini jelas harus dimintai pertanggungjawaban."
Begitu Zayyan mengatakan itu, Ingrid menarik napas pelan, lalu melirik Marshel yang diam, seolah-olah meminta pendapatnya.
Marshel tidak menunjukkan sikap apa pun. Dia hanya mengambil ponselnya, lalu berdiri untuk menerima telepon. Tidak ikut campur, juga tidak berniat menghentikan mereka.
Zayyan dan Verrel saling memandang, langsung mengerti sikap Marshel. Melihat betapa tak pedulinya Marshel terhadap Gladys, Ingrid menunduk sedikit, sudut bibirnya terangkat puas.
....
Makanan baru saja dihidangkan. Gladys bahkan belum sempat makan beberapa suap ketika seorang pelayan berlari dengan tergesa-gesa.
"Permisi, apa di sini ada dokter? Ada pasien di lantai atas yang penyakitnya kambuh!"
Gladys langsung mengernyit. Naluri seorang dokter membuatnya spontan berdiri. "Antar aku ke sana."
Febby tidak ikut. Dia sedang membalas email pekerjaan.
Gladys dibawa ke depan sebuah ruang VIP. Karena terlalu mengkhawatirkan pasien, dia membuka pintu dengan agak terburu-buru.
Tak disangka, ada orang di dalam. Saat pintu terbuka dan tertutup, seseorang yang sedang membawa panci tembaga panas langsung menumpahkannya ke arahnya.
Gladys buru-buru mundur. Karena syok, punggungnya menabrak dada yang keras dan tegap, pinggangnya dirangkul oleh lengan kuat yang menariknya ke belakang.
Dia mencium aroma pinus yang familier, aroma yang paling dikenalnya saat dulu mereka saling berbisik mesra.
Marshel sudah mengangkat tangan dan menahan panci tembaga panas yang hampir menghantam Gladys.
Wajah pelayan itu langsung pucat. Dia buru-buru mengambil kembali pancinya sambil meminta maaf.
Gladys tidak menyangka akan bertemu Marshel di sini. Baru saja dia ingin mengucapkan terima kasih, dia melihat Ingrid berdiri di belakang Marshel.
Tubuh Marshel melindungi Ingrid sepenuhnya di belakangnya. Saat melihat kontak fisik tak sengaja antara Gladys dan Marshel, wajah Ingrid tampak tak senang.
Gladys langsung menjauh dari pelukan Marshel seolah-olah baru menyentuh wabah penyakit.
Baru setelah melihat tindakannya itu, Marshel meliriknya dengan tatapan penuh arti.
"Ternyata kamu juga takut terluka? Kukira kulit mukamu tebal, jadi nggak bakal kenapa-napa." Zayyan tertawa melihat kejadian itu.
"Untung refleks Marshel cepat. Dia takut Ingrid terluka. Gladys, jangan salah paham ya, dia bukan nolongin kamu. Nanti malah jadi canggung." Zayyan kembali berkata sambil tersenyum tipis.
Ekspresi Marshel tetap dingin, tetapi dia tidak menyangkal ucapan Zayyan. Gladys mengerti. Kalau tadi panci itu jatuh, kemungkinan besar Ingrid juga akan terluka.
Marshel bukan melindunginya, dia melindungi Ingrid dan kebetulan sekalian menolongnya. Hanya kebetulan.
Gladys tentu tidak akan salah paham. Dia tidak sepercaya diri itu.
Verrel memang tidak berbicara, tetapi sorot matanya juga penuh penghinaan. Meskipun Gladys tidak tahu situasi lengkapnya, instingnya langsung merasa ada yang tidak beres.
Dia berbalik ingin pergi, tidak mau terlibat dengan mereka. Namun, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik. Jari-jari panjang pria itu bergesekan dengan tulang pergelangan tangannya, membuat jantung Gladys berdegup keras.
Saat menoleh, dia langsung bertemu dengan mata gelap dan dingin milik Marshel. Pria itu menatapnya. Suaranya yang ringan dan dingin terasa seperti duri yang menusuk tepat ke titik lemahnya.
Dia berkata, "Minta maaf pada Ingrid."
Seolah-olah dipaksa menelan asam sulfat, dada Gladys terasa terbakar sampai hancur. Dia pun menatap Marshel dengan dingin. "Alasannya?"
"Kurasa kamu sendiri tahu."
Marshel tampaknya tidak ingin mengucapkan hal-hal buruk tentang Ingrid. Dia juga segera melepaskan tangan Gladys, seolah-olah menjaga jarak.
Gladys bisa menebaknya. Marshel mungkin takut Ingrid salah paham melihat mereka bersentuhan. Dia juga tidak bodoh. Melihat situasi ini, dia langsung memahami semuanya.
Verrel pasti sudah membesar-besarkan omongan Febby. Mereka sengaja memancingnya ke atas untuk mengeroyoknya.
"Gladys, kalau salah ya ngaku," kata Zayyan.
"Kalau kamu mengakuinya secara terbuka, setidaknya nggak akan separah ini." Verrel mengetuk meja sambil menyambung dengan santai.
"Ya, Ingrid juga nggak hamil. Dia nggak takut difitnah karena dia memang nggak bersalah. Jangan sembarangan nuduh dia begitu." Zayyan benar-benar tidak mengerti bagaimana Gladys bisa mengarang fitnah seperti itu.
Mereka semua tahu Gladys pernah menerima kebaikan Keluarga Ruswandi sejak kecil. Orang dari Keluarga Ruswandi yang membawa Gladys masuk ke keluarga itu.
Secara logika, Gladys seharusnya dianggap seperti adik Marshel. Namun, adik ini ternyata tidak tahu malu. Baru genap 20 tahun, dia malah naik ke ranjang Marshel, mati-matian merebut pernikahan yang menguntungkan dan menyeret Marshel jatuh ke jurang bersamanya.
Tentu saja, mereka tidak memiliki kesan baik terhadap Gladys!
Ingrid menatap Gladys, lalu berkata dengan murah hati, "Gladys, kalau kamu nggak senang, aku harap kamu bicara langsung, bukan pakai cara murahan seperti ini. Kita sama-sama perempuan, aku nggak akan mempersulitmu. Tapi permintaan maaf di depan semua orang tetap pantas aku terima."
Gladys cukup terkejut mengetahui Ingrid ternyata tidak hamil. Dia sempat mengernyit, lalu segera merasa lega. Apa pun kenyataannya, dia juga sudah tidak peduli lagi.
Lagi pula, dengan rumor bahwa Marshel mandul yang sudah terkenal, memang kemungkinan hamil juga kecil.
Orang busuk memang tidak tahu batas, begitu juga pria pengkhianat yang tidak tahu malu.
Gladys memandang Ingrid. Setelah mengagumi betapa tidak tahu malunya wanita itu, dia berkata, "Boleh saja."
Ingrid benar-benar tidak menyangka Gladys akan setenang itu.
Tatapan Marshel ikut turun memandang Gladys, merasa seolah-olah memang sudah seharusnya Gladys melakukan itu.
Namun, detik berikutnya mereka mendengar Gladys berkata, "Aku bisa bikin beberapa akun media sosial dan minta maaf secara terbuka kepada Ingrid. Aku salah karena telah menghalangi calon adik iparku tidur dengan suamiku sendiri."
"Wawasanku memang sempit dan hatiku kecil. Aku jelas nggak sehebat Ingrid yang begitu bersemangat menjadi selir, juga nggak sehebat Marshel yang sanggup melayani dua wanita sekaligus."
- Akhir Chapter -