Dulu Andini tinggal di Paviliun Persik. Di halamannya terdapat berbagai jenis bunga plum. Saat memasuki musim dingin, bunga plum di halaman akan bermekaran dan layu pada musim semi.
Kresna mengutus orang pergi ke berbagai tempat di Negara Darsa untuk mencari semua bunga plum itu. Hanya karena waktu kecil Andini pernah mengatakan dia paling menyukai bunga plum. Keluarga Adipati menghabiskan banyak uang setiap tahun untuk merawat bunga-bunga itu.
Namun, setelah Dianti kembali, dia hanya memuji bunga plum di halaman paviliun Andini sangat cantik. Akhirnya, Paviliun Persik pun menjadi milik Dianti.
Kala itu, Andini sangat membenci Keluarga Adipati. Sekarang dia sudah mati rasa. Dianti adalah putri asli Keluarga Adipati, tentu saja semua yang ada di Kediaman Adipati adalah milik Dianti. Sementara itu, Andini hanya orang luar yang merebut posisi Dianti selama 15 tahun.
Pelayan yang membawa Andini menjelaskan dengan ramah, "Pelayan yang melayani Nona Andini dulu sudah menikah. Nyonya menyuruh hamba melayani Nona. Nama hamba Laras. Ke depannya Nona bisa memerintah hamba untuk melakukan apa pun."
Wajah Laras sangat manis dan berisi. Andini merasa Laras sangat familier. Dia bertanya, "Dulu kamu bekerja di paviliun Tuan Abimana?"
Laras menyahut dengan ekspresi kaget, "Nona masih ingat hamba?"
Andini mengangguk. Dulu dia sering bermain di paviliun Abimana. Tentu saja dia ingat dengan bawahan yang bekerja di paviliun Abimana. Namun, Andini tidak mengerti kenapa Abimana mengutus bawahannya untuk melayaninya.
Andini teringat 3 tahun yang lalu Abimana beberapa kali mengira dia berniat mencelakai Dianti. Jadi, Andini merasa Abimana mengutus Laras untuk mengawasinya.
Paviliun Ayana tidak besar. Begitu masuk, tampak sebuah kolam teratai. Pada musim panas, teratai di kolam akan bermekaran. Selain banyak serangga, sebenarnya bunga teratai juga cantik.
Akan tetapi, bunga teratai sudah layu pada musim dingin. Hanya tangkai teratai layu tersisa di permukaan kolam yang membeku. Pemandangan yang suram ini membuat Paviliun Ayana terasa lebih dingin daripada di luar.
Untung saja, ruangan di dalam Paviliun Ayana terasa hangat. Tungku dinyalakan dan para bawahan sudah menyiapkan air panas. Laras hendak membantu Andini mandi, tetapi Andini menghentikannya, "Nggak usah. Aku mandi sendiri saja."
Laras menimpali dengan ekspresi terkejut, "Mana boleh begitu? Hamba nggak boleh membiarkan Nona mandi sendiri."
Andini mengulangi ucapannya, "Aku mandi sendiri saja."
Nada bicara Andini terdengar tenang, tetapi sikapnya sangat tegas. Laras terpaksa meletakkan pakaian di tangannya dan berpesan, "Kalau begitu ... hamba tunggu Nona di luar. Nona panggil hamba saja kalau butuh bantuan."
"Oke," sahut Andini dengan lirih. Setelah Laras keluar, Andini baru menutup pintu. Dia berjalan ke belakang layar pembatas dan melepaskan pakaiannya.
Dua jam kemudian, Andini baru pergi mengunjungi Ainun. Begitu masuk, Abimana mencegat Andini dengan ekspresi marah.
Abimana menegur, "Kenapa kamu nggak mengganti bajumu? Apa kamu sengaja memakai baju pelayan supaya Nenek merasa kasihan padamu?"
Andini hendak menjelaskan, tetapi Abimana tidak memberinya kesempatan. Abimana mendorong Andini dan menegaskan, "Aku peringatkan kamu, Nenek kurang sehat, jangan sampai dia syok. Sebaiknya kamu urungkan niat jahatmu itu! Kalau kamu buat Nenek sedih, aku nggak akan ampuni kamu!"
Andini didorong keluar dari paviliun. Tadi Andini terkilir, sekarang dia terus didorong Abimana. Pergelangan kaki Andini terasa sakit. Alhasil, Andini terhuyung dan terjatuh ke tanah.
Kebetulan Kirana yang baru datang melihat kejadian ini. Dia berseru, "Abi, hentikan!"
Kirana buru-buru menghampiri mereka. Melihat Andini tidak mampu berdiri, Kirana menyuruh pelayan memapahnya.
Abimana berujar dengan tatapan dingin, "Bu, ini bukan salahku. Dia yang berniat jahat! Jelas-jelas kamu sudah belikan baju baru untuknya, tapi dia bersikeras memakai baju ini untuk menemui Nenek. Dia pasti berniat membuat Nenek kesal!"
Kirana baru menyadari Andini masih memakai baju pelayan. Dia mendesah, lalu berucap dengan lembut, "Andin, selama kamu tinggalkan Kediaman Adipati, kondisi nenekmu makin melemah. Kakakmu memang salah karena menyakitimu, tapi dia mengkhawatirkan kesehatan nenekmu."
Kirana menambahkan, "Sebaiknya kamu ganti baju dulu."
Andini melihat Kirana dan Dianti, lalu menyahut, "Bajunya kekecilan."
Kemungkinan Kirana membeli baju baru itu sesuai ukuran Dianti. Namun, Andini lebih tinggi dari Dianti. Jadi, baju-baju itu tidak muat.
Kirana yang merasa bersalah menanggapi, "Ternyata begitu. Ibu yang lalai. Ibu suruh orang siapkan baju baru untukmu."
Siapa sangka, Abimana makin marah. Dia menimpali, "Apanya nggak muat? Kamu cuma sedikit lebih tinggi dari Dianti! Masa kamu nggak bisa pakai baju-baju itu? Kamu malah makin manja setelah menjadi pelayan selama 3 tahun!"
Andini menarik napas dalam-dalam. Dia merasa Abimana suka memfitnahnya. Akhirnya, Andini menyingkap lengan bajunya di depan semua orang dan menjelaskan, "Bukan nggak muat, tapi nggak bisa tutupi ini."
Semua orang terkesiap. Kedua tangan Andini dipenuhi memar dan ruam. Bahkan, ada beberapa bagian yang melepuh. Kondisinya benar-benar parah.
Namun, yang paling parah adalah luka di lengan Andini. Sepertinya Andini dipukul dengan cambuk atau bambu. Seluruh lengan Andini dipenuhi luka lama dan baru.
Akhirnya, Abimana paham maksud Andini. Baju yang dibelikan Kirana kekecilan sehingga tidak bisa menutupi lengan Andini. Saat Andini memberi hormat kepada Ainun, lukanya pasti terlihat. Nantinya Ainun pasti sedih.
Kirana juga paham. Air matanya mengalir. Dia memegang tangan Andini dan berujar, "Ibu kira kamu marah makanya kamu nggak izinkan Ibu menyentuhmu. Ternyata ... Ibu membuatmu kesakitan, ya?"
Andini tidak berbicara. Dia juga tidak menarik tangannya dan membiarkan Kirana memegang tangannya.
Laras yang berdiri di samping juga mengomentari dengan mata memerah, "Pantas saja Nona melarang hamba melayaninya. Nona, apa tubuhmu dipenuhi luka?"
Semua orang terkejut mendengar ucapan Laras. Luka di lengan Andini sudah cukup parah. Jika seluruh tubuh Andini ....
Kirana segera memerintah, "Cepat panggil tabib!"
Salah satu pelayan melaksanakan perintah Kirana. Dianti bertanya sambil berlinang air mata, "Kenapa ... mereka memperlakukan Kak Andini seperti ini?"
Sebenarnya, lebih baik Dianti tidak berbicara seperti itu. Begitu ucapannya terlontar, Andini tidak bisa menahan kebenciannya lagi.
Andini memandang Dianti sembari menyindir, "Tentu saja mereka diperintah Putri. Siapa pun yang menindasku akan mendapatkan hadiah uang dari Putri. Hadiah uangnya makin banyak kalau siksaannya makin kejam. Siapa suruh ... aku pecahkan mangkuk Putri?"
Tubuh Dianti menegang setelah mendengar ucapan Andini. Dia memandangi Andini seraya terbelalak. Air matanya juga mengalir, seolah-olah dia yang ditindas selama 3 tahun.
Pelayan di belakang Dianti menunduk dan tidak berbicara. Dia yang memfitnah Andini 3 tahun yang lalu, tetapi sekarang dia masih baik-baik saja. Jadi, Andini menganggap rasa kasihan yang ditunjukkan Kirana kepadanya sangat konyol.
- Akhir Chapter -