Melihat Andini tidak menghargai perhatian Dianti, Abimana melupakan perasaan bersalahnya. Dia menegur Andini, "Kamu nggak usah sindir orang! Kenapa tadi kamu nggak bilang tubuhmu terluka? Apa kamu nggak punya mulut?"
Jika Andini mengatakannya, Abimana pasti meminta salep kepada tabib. Andini berucap dengan datar, "Tadi aku mau bilang, tapi Tuan Abimana nggak memberiku kesempatan."
Akhirnya, Andini menarik tangannya. Ekspresi Abimana menjadi muram. Andini sudah kembali ke Kediaman Adipati, kenapa dia masih tidak memanggil Abimana dengan sebutan "kakak"?
Amarah Abimana tidak mereda, dia malah berkata dengan ketus, "Kamu itu putri Keluarga Adipati. Sejak kecil, kamu belajar ilmu bela diri dengan guru di kediaman. Apa di penatu istana ada ahli sehingga bisa membuat kamu terluka parah?"
Ucapan Abimana membuat Andini tertegun sejenak. Kemudian, dia menurunkan lengan bajunya dan berucap dengan dingin, "Awalnya aku melawan mereka. Sesuai ucapan Tuan Abimana, para pelayan istana itu memang bukan lawanku. Tapi, mereka pakai trik licik karena nggak bisa lawan aku."
"Misalnya, mereka akan menyiramku dengan air dingin saat aku tidur. Waktu makan, mereka menukar supku menjadi air bekas cuci piring. Mereka juga melempar baju-baju yang baru selesai kucuci ke kakus atau menyodorkan pekerjaan mereka kepadaku," lanjut Andini.
Andini melihat Abimana dengan ekspresi datar. Kedua tangan Abimana bergetar. Andini meneruskan, "Aku juga pernah meminta tolong kepada pengurus penatu istana, tapi aku malah dicambuk. Jadi, akhirnya aku nggak melawan lagi."
"Kalau tempat tidurku basah, aku tidur di lantai. Biarpun mereka menukar supku menjadi air bekas cuci piring, aku tetap meminumnya. Suatu kali, aku hampir mati dipukul pelayan senior di sana. Mungkin karena masih memikirkan Keluarga Adipati, setelah itu pukulan pelayan senior nggak terlalu kejam lagi," kata Andini.
Melihat ekspresi Abimana yang terkejut, Andini tersenyum sinis dan melanjutkan, "Jadi, Tuan Abimana mengira aku sengaja terima semua perlakuan mereka supaya bisa menarik simpati kalian? Aku nggak begitu bodoh, mana mungkin aku nggak tahu statusku sendiri?"
"Kalian mungkin merasa bersalah, tapi kalian nggak akan menyesal. Setelah mendengar ceritaku, kalian pasti bersyukur orang yang dihukum masuk ke penatu istana itu aku, bukan Diana. Benar, 'kan?" ujar Andini.
Mendengar perkataan Andini, hati Abimana terasa sangat sakit. Namun, dia sama sekali tidak bisa membantah perkataan Andini.
Kirana memegang dadanya dan menimpali seraya menangis, "Andin, jangan lanjutkan lagi! Ibu yang salah. Ibu bersalah padamu."
"Nyonya nggak bersalah kepadaku," balas Andini dengan lembut.
Hanya saja, nada bicara Andini yang lembut berbeda dengan Dianti. Cara Dianti bicara membuat orang merasa kasihan dan nyaman. Sementara itu, ucapan Andini yang lembut sangat menyakitkan.
Andini menanggapi, "Nyonya sudah besarkan aku selama 15 tahun. Aku berutang budi kepadamu. Sudah seharusnya aku melakukan semua itu."
"Tapi kamu membenci kami!" timpal Abimana yang merasa gusar. Dia bisa menebak pemikiran Andini, lalu dia meneruskan, "Semua perbuatanmu ini disengaja. Kamu sengaja bersikap dingin pada kami dan sengaja jatuh di depan Ibu!"
"Apa kamu menggunakan trik yang sama di depan Rangga? Kamu berhasil menarik simpati Rangga sehingga bisa naik kereta kudanya? Andini, ingat Rangga bukan tunanganmu lagi. Sekarang dia itu tunangan Dian dan mereka akan segera menikah!" lanjut Abimana.
Melihat ekspresi Abimana yang marah, Andini merasa tidak berdaya. Bagaimanapun, Abimana sudah menjadi kakak Andini selama 15 tahun. Setiap ucapan Abimana sangat mengena di hati Andini.
Untung saja, mental Andini sudah terlatih selama 3 tahun. Dia tidak mudah terpengaruh lagi. Andini membalas, "Sepertinya Tuan Abimana terlalu sibuk sehingga lupa kamu pernah mendorongku dari tangga 3 tahun yang lalu. Waktu itu, kakiku terkilir dan aku masuk ke penatu istana sebelum kakiku pulih."
"Selama 3 tahun ini, cedera di pergelangan kakiku sering sakit. Hari ini, Tuan Abimana menendangku dari kereta kuda sehingga kakiku terkilir lagi. Jadi, tadi aku benar-benar nggak bisa berdiri dengan stabil," lanjut Andini.
Andini menambahkan, "Mengenai Jenderal Rangga ... bagaimana Tuan Abimana bisa mengira dia merasa kasihan padaku? Kamu memang menganggapku hebat atau meremehkan Nona Dianti?"
Ucapan Andini membuat Dianti malu. Abimana melihat Dianti dengan ekspresi khawatir, lalu membentak Andini, "Jangan hasut kami! Aku paling paham sifatmu. Biarpun 3 tahun sudah berlalu, kamu tetap pendendam seperti dulu!"
Abimana menegaskan, "Aku peringatkan kamu, selama ada aku, kamu nggak bisa tindas Dian!"
Dianti berucap seraya menangis, "Kak Abimana ... jangan begitu. Kak Andini nggak melakukan apa pun padaku."
"Dian, kamu terlalu baik," ujar Abimana seraya mengernyit. Dia menunjuk Andini dan melanjutkan, "Tapi, dia berbeda denganmu. Dia licik dan juga pendendam! Kita memasukkannya ke penatu istana selama 3 tahun, sekarang dia pasti mau balas dendam setelah keluar!"
Abimana menambahkan, "Padahal dia tahu Ibu sangat menyayanginya. Tapi, dia sengaja bersikap dingin dan menunjukkan luka di tubuhnya. Lihat, Ibu nggak berhenti menangis."
Dianti memandang Kirana yang menangis tersedu-sedu sembari bersandar di bahu pelayan. Kirana ingin membantah perkataan Abimana. Dia melambaikan tangannya, tetapi tidak bisa melontarkan sepatah kata pun.
Dianti tidak pernah melihat ibunya menangis seperti ini. Bahkan, Kirana hanya meneteskan air mata saat Andini dibawa ke penatu istana. Dia juga menghibur Dianti.
Apa Andini memang sengaja melakukan semua ini? Apa Andini memang wanita yang licik? Dianti memandang Andini, ternyata Andini memang sedang menatapnya dengan dingin. Dianti segera mengalihkan pandangannya.
Andini hanya memberi hormat kepada Kirana dan berkata, "Sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Nenek. Tolong Nyonya Kirana sampaikan pada Nenek, besok aku baru kunjungi dia."
Selesai bicara, Andini langsung pergi dan tidak melihat anggota Keluarga Biantara lagi. Namun, tatapan anggota Keluarga Biantara terus tertuju pada Andini yang berjalan terpincang-pincang, termasuk Rangga.
Abimana baru melihat Rangga setelah Dianti mengantar Kirana kembali. Rangga berdiri di koridor. Seharusnya dia melihat semua yang terjadi dengan jelas.
Abimana yang gusar mengernyit. Dia menghampiri Rangga dan bertanya, "Kenapa kamu datang?"
"Kaisar memberiku bahan obat yang berharga. Aku nggak butuh bahan obat itu, jadi aku berniat memberikannya kepada nenekmu," sahut Rangga dengan tenang.
Abimana bisa menebak tujuan kedatangan Rangga. Dia mengamati Rangga, lalu bertanya, "Jawab aku dengan jujur, apa kamu datang karena Andin?"
- Akhir Chapter -