Rangga hanya melihat kotak bahan obat di tangannya dan tidak berbicara. Abimana makin gelisah. Dia bertanya lagi, "Hari ini kamu nggak dipanggil ke istana. Apa kamu khusus pergi ke istana untuk menjemput Andin?"
Rangga tetap tidak berbicara. Abimana tumbuh besar bersama Rangga, mana mungkin dia tidak memahami respons Rangga?
Abimana berucap, "Rangga, kamu gila, ya? Dulu kamu abaikan Andin waktu dia terus mendekatimu. Sekarang kamu sudah menjadi tunangan Dian, kamu baru memperhatikan Andin? Aku peringatkan kamu, mereka berdua itu adikku, jangan desak aku putus hubungan denganmu!"
Rangga hanya mendengus setelah mendengar ucapan Abimana. Dia memandang Abimana sembari menimpali dengan sinis, "Kamu bersikap seolah-olah kamu sangat memedulikan Andin."
Jelas-jelas, Abimana melontarkan kata-kata yang menyakiti Andini. Ucapan Rangga membuat Abimana tidak bisa berkata-kata.
Abimana menatap Rangga lekat-lekat. Dia berpikir sejenak sebelum membalas, "Memangnya kamu sangat memedulikan Andin? Jangan lupa, 3 tahun yang lalu kamu juga ada di tempat. Andin membenciku, begitu pula kamu!"
"Aku tahu," sahut Rangga dengan dingin. Kemudian, dia menambahkan dengan tatapan muram, "Andin nggak sentuh kue di kereta kuda."
Bahkan, Andini sama sekali tidak menyentuh penghangat yang disiapkan Rangga. Takutnya Andini juga tidak akan naik ke kereta kuda jika Rangga tidak menggunakan Ainun sebagai alasan.
Rangga ingat hari ini Andini menyapanya dengan hormat. Jelas-jelas dulu Andini sering mengatakan dia menyukai Rangga. Setelah memikirkan hal ini, ekspresi Rangga makin muram.
Abimana juga terkejut sesudah mendengar perkataan Rangga. Dia bisa menebak Andini pasti membencinya dan Rangga. Namun, dulu Andini yang marah tetap memaafkan Rangga setelah Rangga menunjukkan sedikit perhatiannya.
Tidak disangka, sekarang Andini malah mengabaikan perhatian Rangga. Emosi Abimana tersulut begitu teringat luka di lengan Andini. Beraninya pelayan sialan di penatu istana menyakiti adiknya!
Para pelayan itu memang mendapatkan perintah dari Putri. Namun, Andini adalah putri Keluarga Adipati. Apa mereka sama sekali tidak memedulikan statusnya?
Abimana merasa sakit hati. Dia memelototi Rangga seraya bertanya, "Kamu bawa salep dari kemiliteran?"
Salep yang dipakai Rangga di kemiliteran didapatkan dari Lembah Raja Obat dan sangat berkhasiat.
"Nggak," jawab Rangga. Dia mengeluarkan sebotol obat dari sakunya dan menambahkan, "Tapi, kakinya terkilir. Seharusnya obat ini bisa menyembuhkan cederanya."
Abimana langsung mengambil obat itu, lalu berucap, "Terima kasih."
Selesai bicara, Abimana pun pergi. Tiba-tiba, dia kembali lagi. Abimana menarik kerah baju Rangga dan memperingatkan, "Jangan macam-macam!"
Rangga memandang Abimana sambil menyipitkan matanya dan tersenyum sinis, seolah-olah menyiratkan Abimana tidak bisa mengaturnya.
Abimana benar-benar kesal. Dia memang tidak bisa mengatur Rangga, tetapi dia bisa mengatur Andini. Abimana mendengus, lalu pergi.
Rangga merapikan bajunya, lalu memanggil seorang pelayan dan menyerahkan kotak di tangannya. Dia berkata, "Ini untuk Nenek Ainun."
Kemudian, Rangga pergi. Wakil jenderal yang bernama Byakta Muhadir menunggu di luar Kediaman Adipati. Melihat Rangga keluar, Byakta bertanya dengan ekspresi kaget, "Kenapa Jenderal keluar begitu cepat?"
Rangga tidak menjawab pertanyaan Byakta. Dia mengeluarkan sebotol obat dari sakunya dan berujar, "Berikan pada putri Keluarga Biantara."
Byakta mengangguk, lalu bertanya, "Apa Nona Dianti terluka? Kenapa Jenderal nggak memberikannya secara langsung?"
Rangga menatap Byakta dengan dingin. Byakta baru paham Rangga memberikan obat ini kepada Andini. Byakta langsung menutup mulut dan masuk ke Kediaman Adipati.
Sementara itu, Laras membawa salep yang diberikan tabib kediaman dan mengolesnya di luka Andini dengan hati-hati. Laras memang cengeng. Sejak melihat luka di lengan Andini, air matanya terus mengalir.
Melihat Laras mengobatinya sembari menangis, Andini merasa tidak tega. Dia membujuk, "Kalau kamu terus menangis, nanti orang lain mengira aku menindasmu."
Laras segera menyeka air matanya dan membalas seraya terisak, "Selama ini Nona pasti sangat menderita."
Jelas-jelas Laras adalah bawahan Abimana, tetapi dia malah merasa kasihan pada Andini. Hati Andini terasa tidak nyaman. Dia mendesah dan tidak berbicara lagi.
Laras melanjutkan lagi, "Tuan Abimana keterlaluan sekali! Jelas-jelas Nona Andini yang menderita dan terluka, kenapa dia terus membela Nona Dianti? Hidup Nona Andini sangat menderita ...."
Laras tidak bisa berhenti menangis. Andini merasa tidak berdaya. Dia tersenyum dan bertanya, "Apa kamu nggak takut nanti dia salahkan kamu kalau kamu jelek-jelekkan dia?"
Laras menghela napas, lalu menanggapi, "Hamba sudah diutus ke Paviliun Ayana. Ke depannya hamba ini bawahan Nona Andini. Tuan Abimana nggak akan pedulikan hamba lagi. Padahal dulu hamba menganggap Tuan Abimana itu orang baik! Cih!"
Melihat ekspresi Laras yang marah, Andini tidak tahu apakah Laras benar-benar merasa kasihan padanya atau hanya berpura-pura demi mendapatkan kepercayaannya.
Orang-orang yang sangat mencintai Andini dulu sudah mencampakkannya. Andini tidak bisa memastikan orang yang tidak mempunyai hubungan apa pun dengannya bisa memperlakukannya dengan tulus.
Ketulusan adalah hal yang sulit didapatkan oleh Andini. Apa di dunia ini ada yang benar-benar memperlakukan Andini dengan tulus selain Ainun?
Setelah mengamati ekspresi Laras, Andini tetap tidak bisa menebak pemikirannya. Dia pun mengalihkan pandangannya. Begitu memandang ke jendela yang terbuka, Andini mengernyit.
Andini melihat 2 orang berjalan melewati jembatan batu. Salah satunya adalah pelayan pria di paviliun Abimana. Yang satunya lagi adalah pria bertubuh tegap. Pria itu berjalan dengan cepat.
Andini merasa pria itu sangat familier, tetapi dia tidak bisa mengingat identitas pria itu. Laras yang merasakan pandangan Andini juga melihat ke luar jendela. Dia berseru, "Bukannya itu Tuan Byakta?"
"Byakta?" gumam Andini. Dia baru ingat mereka pernah bertemu. Sejak 5 tahun yang lalu, Byakta sudah menjadi orang kepercayaan Rangga.
Namun, kenapa Byakta datang ke Paviliun Ayana? Wajah Rangga yang arogan muncul di benak Andini. Kemudian, Andini berujar kepada Laras, "Coba kamu tanya tujuan kedatangan mereka."
"Iya," sahut Laras. Dia segera berjalan keluar.
Dari jendela, Andini melihat Byakta berbicara dengan Laras dan menyerahkan sesuatu kepadanya. Byakta juga melihat ke arah Andini.
Andini dan Byakta bertatapan, lalu Byakta memberi hormat kepada Andini. Sesudah itu, Byakta langsung pergi.
Tak lama kemudian, Laras kembali. Dia menunjukkan 2 botol obat di tangannya dan menjelaskan, "Nona, ini salep yang diberikan Jenderal Rangga dan ini obat yang diberikan Tuan Abimana. Tapi, hamba merasa obat dari Tuan Abimana juga berasal dari kemiliteran."
Ucapan Laras memang benar. Namun, hubungan Abimana dan Rangga sangat dekat. Jadi, wajar saja jika Abimana mendapatkan barang dari kemiliteran.
Hanya saja, Andini tidak mengerti tujuan mereka memberikan obat-obat ini kepadanya. Apa mereka memang mengkhawatirkan luka Andini atau hanya ingin menghilangkan perasaan bersalah mereka?
Apalagi Abimana. Tadi dia baru memarahi Andini, sekarang dia malah memperhatikannya. Apa Abimana berniat mempermainkan Andini?
"Kamu ambil saja obat itu," ujar Andini. Dia tidak berniat menerima pemberian Abimana dan Rangga.
Laras ingin membujuk Andini. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya saat melihat ekspresi Andini yang dingin.
- Akhir Chapter -