Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.
Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentuh oleh penderitaan manusia di luar sana. Petugas keamanan yang berjaga di pos depan langsung mengenali wajahnya. Salsa memang sering berkunjung ke sini, tetapi tidak pernah dalam kondisi sehancur ini. Rambut acak-acakkan, mata sembab, dan napasnya tersengal.
Dengan suara serak menahan tangis, Salsa mengutarakan maksud kedatangannya. Ia ingin bertemu dengan pemilik rumah, Papa dari Alea, sahabatnya sendiri. Pria itu adalah harapan terakhir yang tersisa di benaknya. Petugas keamanan yang iba melihat kondisi Salsa segera mengangkat gagang telepon, menghubungi sang majikan di dalam.
"Suruh dia menemuiku di ruang kerja," ucap suara bariton dari seberang telepon.
Mendengar perintah itu, kaki Salsa rasanya makin lemas. Langkahnya tampak begitu berat saat melewati pintu utama dan menapaki lantai rumah mewah itu. Wajahnya semakin pucat. Ia melangkah naik hingga ke lantai tiga tempat ruang kerja pribadi di rumah itu. Beruntung Alea sedang pergi liburan, kalau tidak mungkin Salsa sangat malu pada sang sahabat sudah ganggu waktu Ayahnya.
Tangannya bergetar, sementara jantungnya terus menggedor-gedor rongga dadanya, sampai akhirnya dia tiba di depan ruang kerja sang duda tampan yang menyimpan sejuta pesona. Salsa menarik napas berat, lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan itu.
Tok tok
"Masuk."
Suara berat Nathan terdengar mengizinkan Salsa masuk membuat wanita itu semakin gugup. Suara itu seolah merampas sisa keberanian yang ia kumpulkan sepanjang jalan.
Klik
Pintu ruang kerja itu terbuka sebelum Salsa mendorongnya, membuat wanita itu semakin gugup. Belum pernah dia setakut ini sebelumnya, tapi hanya Ayah sahabatnya menjadi harapan terakhirnya. Salsa memberanikan diri untuk menyapa.
“Se–selamat malam Om, maaf Salsa mengganggu,” ucapnya gugup membuat wajahnya tampak semakin berantakan. Ia menunduk, tak sanggup menatap langsung sepasang netra abu di depannya.
“Silahkan duduk,” ucap Nathan datar sambil menunjuk sofa di depannya.
Salsa mengangguk patuh. Ia berjalan dan mendudukkan diri di sofa persis berhadap-hadapan dengan Nathan Abimanyu. Demi apapun, semua kata-kata yang sudah ia susun di dalam taksi tadi menguap begitu saja, semuanya hilang. Pikirannya mendadak blank. Ia bingung harus mulai bicara dari mana. Pesona Nathan Abimanyu seolah mengunci lidah Salsa dan membuatnya tak mampu bersuara.
“Mau bicara apa?” tanyanya lagi sambil menyodorkan air mineral ke arah Salsa.
Salsa masih terdiam, tak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya yang bergetar. Ketakutan semakin terasa saat mata Salsa tidak sengaja melirik jam digital di layar ponselnya. Jantungnya mencelos seperti agar-agar. Sisa waktu yang diberikan dokter di rumah sakit tinggal dua jam lagi. Batas hidup dan mati ayahnya kini diujung tanduk. Mau tidak mau, ia harus membuang jauh-jauh rasa takutnya demi keselamatan sang ayah. Ia harus segera mengutarakan keinginannya pada sosok sang duda di hadapannya.
“Begini, Om. Sebelumnya Salsa mau minta maaf sudah lancang ganggu Om malam-malam begini. Tapi Salsa gak tahu harus minta tolong kemana lagi selain sama Om. Ayah Salsa mengalami kecelakaan dan terjadi pendarahan di otak. Dokter bilang harus segera dilakukan operasi besar. Dan biayanya sangat mahal.” wanita itu menarik nafas panjang untuk menetralkan detak jantungnya, sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan kalimatnya, “Salsa mau minta tolong sama Om untuk menyelamatkan nyawa Ayahnya Salsa. Salsa janji akan melakukan apapun asal Om mau membantu Salsa. Meskipun Salsa harus jadi pelayan di rumah ini dan bekerja dua puluh empat jam seumur hidup Salsa mau Om. Tolong bantu selamatkan nyawa Ayah,” ucap Salsa penuh permohonan. Matanya berkabut akibat menahan tangisan.
Nathan tidak langsung menjawab. Pria matang nan tampan itu menyandarkan punggungnya ke sofa sambil melipat tangan di depan dada, dia memperhatikan Salsa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah dua menit berlalu barulah terdengar suara pria itu membelah keheningan.
“Minumlah dulu biar kau lebih tenang,” ucapnya. Salsa pun mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih dan langsung meminum air mineral itu. Tapi kalimat berikutnya dari Nathan membuat Salsa nyaris tersedak air yang ia minum.
“Kamu tahu sendiri bukan kalau di sini sudah ada banyak pelayan,” jawaban itu semakin membuat Salsa ketakutan. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Salsa. Rasanya gak mungkin ada orang yang mau meminjamkan uang satu miliar untuk orang miskin seperti dirinya. Tapi, kembali suara Nathan terdengar seperti angin segar menerpa gadis itu, “berapa biaya operasinya, Salsa?” tanyanya lagi.
Pertanyaan itu membuat Salsa semakin berani untuk menyebut angka tak masuk akal itu. “Sa–satu miliar, Om,” jawab Salsa terbata. Angka itu benar-benar terdengar sangat mustahil didapat bagi gadis sepertinya, namun ia tahu bagi pria di depannya, uang sebesar itu mungkin tidak ada artinya.
Nathan kembali terdiam. Tempat itu kembali hening, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan isak tangis yang mulai terdengar dari Salsa. Pria itu hanya menatap sahabat anaknya ini sampai akhirnya tertarik untuk melanjutkan obrolan mereka.
“Apa yang mau kamu jadikan jaminan jika aku membantu melunasi biaya operasi Ayahmu?”
Kini Salsa semakin ragu untuk bisa menyelamatkan nyawa Ayahnya. Ia memejamkan mata dan menarik napas berat. Ulu hatinya kian terasa semakin sakit. Jangankan barang berharga yang bisa dijadikan jaminan, mereka bahkan masih tinggal di rumah kontrakan.
Namun, Salsa akhirnya menggeleng, “maaf, Om. Salsa tak punya barang berharga apapun. Tapi Salsa janji akan bekerja siang dan malam agar bisa bayar utang pada Om, tolong bantu Ayah,” sahutnya lirih penuh harap agar hati pria ini terketuk untuk membantunya.
Tak ada jawaban dari Nathan selama lima menit membuat gadis itu tak kuasa menahan tangisnya.
“Kalau begitu, bagaimana jika tubuhmu saja yang dijadikan sebagai jaminannya sampai hutangmu lunas?”
Deg
Mata Salsa terbelalak dan jantungnya berdegup semakin kencang saat mendengar kalimat terakhir Nathan.
“Jangan bercanda, Om. Salsa benar-benar butuh bantuan, Om.”
“Aku tidak bercanda, uang satu miliar itu sangat banyak,” sambar Nathan, “Kamu cukup melayani nafsuku di atas ranjang dan aku akan membantu biaya pengobatan Ayahmu hingga sembuh. Kalau kamu tak mau juga tidak apa-apa.”
Jantung Salsa berdebar makin kencang setelah mendengar permintaan konyol itu. Yang benar saja dirinya harus tidur dengan Ayah sahabatnya sendiri. Salsa menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk meredam suara tangisnya.
“Hapus air matamu, karena aku tidak suka melihat orang cengeng. Kau tahu kan pintu keluarnya sebelah mana?” Salsa tahu pria ini sedang mengusirnya secara halus.
“Ya Tuhan, kenapa sejak Ibu meninggal hidupku tak pernah bahagia lagi," lirihnya penuh kesakitan.
- Akhir Chapter -