“Tapi, Om…”
“Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya.
Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding yang terus berdentang di ruangan itu terasa seperti vonis mati yang kian mendekat. Waktu terus berjalan, mengikis habis pula ruangnya untuk berpikir jernih. Dia tidak boleh kehilangan satu-satunya orang tua yang tersisa di dunia ini, sekalipun selama ini kasih sayang sang ayah telah dirampas oleh Zara.
Jangankan hanya kehormatan dan harga diri, jika malam ini Tuhan meminta nyawanya sendiri sebagai tukaran demi kesembuhan sang ayah, Salsa bersumpah akan memberikannya tanpa ada keraguan sedikitpun sebagai bukti betapa ia masih sangat menyayangi sang ayah.
Sambil menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa keberanian yang tersisa, Salsa mendongak. Dia memaksakan diri menatap pria di depannya ini.
“Sal–Salsa mau, Om. Tapi tolong bantu Salsa sekarang juga. Waktu yang diberikan dokter tinggal satu setengah jam lagi,” ujarnya dengan suara bergetar, menahan rasa sakit dan malu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata di hadapan ayah sahabatnya sendiri.
Seringai licik terbit di sudut bibir Nathan setelah mendengar jawaban Salsa. “Di mana ayahmu dirawat?” tanyanya.
“Di rumah sakit pusat, Om,” jawab Salsa cepat berharap pria ini tidak lagi menunda-nunda waktu untuk segera menyelesaikan administrasi di rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
Dan benar saja, Nathan langsung meraih ponsel pintarnya untuk menghubungi pihak rumah sakit. Dia juga sempat menanyakan pada Salsa terkait identitas Ayahnya Salsa agar pelunasan biaya operasi segera dilaksanakan. Sekitar lima belas menit Nathan bicara dengan pihak rumah sakit melalui ponsel pintarnya, dia pun langsung melunasi biaya operasi Ayahnya Salsa saat itu juga.
“Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien, berapapun biayanya saya yang tanggung jawab,” ucap Nathan sebelum mengakhiri panggilan teleponnya dengan pihak rumah sakit. Dia juga memperlihatkan bukti pelunasan biaya operasi Ayahnya Salsa.
Ternyata sesuatu yang Salsa anggap mustahil bisa benar-benar dikabulkan oleh pria di hadapannya ini. Sampai mati pun Salsa tidak akan pernah melupakan kalau dia berhutang nyawa pada ayah sahabatnya ini meski tubuhnya yang jadi jaminan utang, “Terima kasih banyak, Om. Salsa tak tahu harus bilang apalagi sama Om,” ucapnya penuh syukur dan berlinang air mata bahagia.
“Tapi itu semua tak gratis. Tulis nomor ponselmu di kertas itu,” sahut Nathan ketus. Dengan tangan gemetar Salsa menulis deretan nomor ponselnya di atas kertas lalu menyerahkannya lagi pada Nathan.
“Pergilah ke rumah sakit, Ayahmu akan segera dioperasi,” ujar Nathan.
Salsa mengangguk, dia berdiri dan berpamitan sekali lagi pada Ayah sahabatnya. Namun, saat ia akan membuka pintu suara Nathan kembali terdengar.
“Tunggu.” Seketika Salsa mematung di depan pintu, perlahan dia berbalik agar menghadap ke arah Ayah sahabatnya itu. Nathan berdiri dan mengikis jarak dengan Salsa. Pria itu pun berbisik tepat di samping telinga Salsa dan nyaris seperti ancaman membuat jantung Salsa terasa mau copot, “mulai malam ini, kapanpun aku menginginkanmu, kau harus siap melakukannya. Aku tak mau mendengar penolakan dengan alasan apapun. Jika tidak, kau akan tahu sendiri akibatnya karena mulai detik ini juga tubuhmu milikku.”
Salsa menelan ludah mendengar kalimat ancaman dari pria paling berkuasa di kota ini. Dan dia tak punya pilihan lain selain menyetujuinya, “ba–baik, Om. Salsa pamit dulu.” Dia tak peduli yang akan terjadi nanti yang penting Ayahnya dioperasi dan sembuh.
“Hmmmmm,” jawab Nathan hanya dengan deheman. Salsa pun buru-buru pergi dari rumah itu menuju ke rumah sakit.
Salsa langsung menuju ke rumah sakit.
*
Hampir empat jam lamanya Salsa duduk sendirian di depan ruang operasi dan matanya terus terpaku pada lampu indikator di atas pintu ruang tindakan. Bibirnya tak henti-hentinya mengucap doa untuk kesembuhan sang ayah.
Hingga akhirnya, lampu merah di atas pintu itu padam. Pintu itu terbuka dan keluarlah sosok dokter yang masih mengenakan baju hijau membuat Salsa seketika bangkit dan menghampiri sang dokter berharap ada kabar baik yang akan ia dapatkan tentang kondisi sang ayah.
“Bagaimana dengan kondisi Ayah saya, Dok?” tanyanya dengan lirih.
Dokter paruh baya itu menurunkan masker medisnya, lalu tersenyum tipis tanpa ada raut panik di wajahnya. Hembusan napas lega seketika lolos dari bibir Salsa.
“Operasinya berjalan lancar dan pendarahannya sudah berhasil kami tangani. Tapi, karena ini termasuk operasi besar pada area otak, pasien tidak bisa langsung dibawa ke ruang rawat inap biasa. Pasien harus dipindahkan ke ruang ICU dulu untuk pemantauan ketat agar kita bisa memastikan tidak ada komplikasi pasca-operasi.”
Salsa mengangguk paham, dia kembali bertanya, “Lalu... kapan Ayah saya bisa siuman, Dok?” tanya Salsa lagi, masih terlihat sangat cemas dan mengkhawatirkan kondisi Ayahnya.
“Saat ini pasien sengaja kami buat tertidur lebih lama dengan obat penenang agar otaknya bisa beristirahat total untuk mempercepat proses pemulihan. Kemungkinan besar, dua hari lagi baru pasien akan siuman secara perlahan.”
“Baik, Dok. Terima kasih banyak, Dok. Terima kasih,” ucap Salsa berulang kali, penuh rasa syukur.
Sang dokter tersenyum, “sudah tugas kami melakukan yang terbaik untuk pasien. Berdoalah agar pemulihan pasien berjalan lancar.”
“Baik, dok,” balas Salsa.
Tak lama setelah dokter pergi, brankar yang membawa ayahnya keluar dari ruang operasi menuju ruang ICU. Salsa hanya bisa memandangi wajah pucat sang ayah dari balik kaca pembatas ruang isolasi intensif itu. Dia kembali duduk sendirian di kursi tunggu.
Betapa malang nasib sang ayah saat berjuang antara hidup dan mati, keluarga dari istri barunya dan juga anak tiri yang begitu disayangi oleh ayahnya tidak menemani Ayahnya di rumah sakit. Salsa tahu kalau ibu tirinya juga berada di mobil yang sama dengan ayahnya, tapi wanita itu hanya mengalami luka ringan dan langsung dibawa pulang ke rumah keluarga kandungnya.
Dan yang paling bikin Salsa terluka, ucapan Zara yang memintanya pasrah sementara ayahnya menanggung kehidupan keluarga istri barunya itu. Tapi lihatlah balasan mereka, tak satupun punya rasa iba terhadap sang Ayah saat situasi kritis. Andai saja kedua orang tua Salsa tidak hidup dan dibesarkan di panti asuhan, mungkin saat ini keluarga mendiang ibunya pasti akan menemani Salsa melewati masa sulitnya. Tapi dunia ini sangat kejam terhadapnya.
“Ayah harus kuat dan sembuh. Jangan biarkan pengorbanan Salsa jadi sia-sia,” gumamnya pada diri sendiri.
Namun, ketenangan yang baru saja Salsa rasakan mendadak sirna. Saku bajunya bergetar membuat Salsa langsung merogoh ponselnya. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor baru yang tidak tersimpan di kontak ponselnya.
Jantung Salsa berdetak tak karuan, wajahnya kembali tegang saat membaca baris demi baris kalimat yang tertera di layar. Seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak berdesir ngilu.
“Berhubung besok weekend, temui aku di villa dekat pantai dan layani nafsuku sesuai janjimu. Kau harus datang dengan penampilan menarik dan wangi jam dua siang. Aku tak mau mendengar alasan apapun, karena mulai malam ini setiap hembusan napasmu jadi jaminan biaya pengobatan Ayahmu. Kau wajib patuh pada perintahku.”
- Akhir Chapter -