Ting.
Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk.
“Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!”
Hati Salsa terasa semakin sakit. Skandal terlarang ini memang tidak boleh sampai bocor ke telinga siapa pun, terutama Alea, sahabatnya sendiri sekaligus anak kesayangan Nathan. Dengan tangan yang masih gemetar di depan ruang ICU, Salsa mengetik balasan untuk pria yang sudah menyelamatkan nyawa sang Ayah.
“Baik, Om. Salsa paham.”
Setelah itu, layar ponselnya menggelap. Tak ada lagi pesan balasan dari Nathan.
Salsa memasukkan kembali ponselnya ke kantong baju dengan perasaan tak menentu. Di satu sisi, ada rasa lega yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena operasi sang Ayah berjalan lancar. Setidaknya, untuk saat ini nyawa ayahnya sudah terselamatkan dari maut dan seluruh biaya pengobatan sampai sembuh sudah dijamin oleh Nathan. Namun di sisi lain, dia tidak tahu sampai kapan harus menyerahkan tubuh dan harga dirinya sampai bisa melunasi utang satu miliar itu pada Nathan.
Salsa menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit. Tiba-tiba ia kembali teringat pada sikap sang Ayah yang bagaikan malaikat di mata keluarga ibu tiri Salsa.
“Lihatlah, Yah. Tak satupun ada orang yang datang menunggu kesembuhan ayah di sini. Ayah bekerja siang malam demi menghidupi mereka, tapi saat Ayah butuh biaya pengobatan Salsa harus mengikhlaskan tubuh Salsa menjadi jaminan utang pada Om Nathan. Rumah peninggalan Ibu bahkan tega Ayah jual untuk biaya resepsi pernikahan kedua Ayah. Kupikir hanya ibu yang Ayah cintai di dunia ini,” gumamnya pilu akibat rasa kecewa yang berat pada Ayahnya.
Salsa mengusap air mata yang menganak sungai membasahi wajahnya. Kehidupannya kian hancur setelah sang ayah memutuskan untuk menikah lagi. Bahkan di kontrakan yang mereka tempati, Salsa hanya diperlakukan seperti babu.
Tapi mulai malam ini, ia bersumpah akan melawan semua ketidakadilan itu. Tak ada seorangpun yang boleh memperlakukannya dengan buruk. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Salsa sangat berharap saat ayahnya siuman nanti, sang Ayah akan menyadari kalau sudah menikahi wanita yang salah.
Matanya sudah sangat mengantuk, rasa lelah begitu terasa setelah melewati hari yang menakutkan sampai membuatnya berulang kali menguap. Namun, tepat saat dia mencoba memejamkan mata, bayangan Aditya dan Zara mendadak melintas di benaknya.
Seketika itu juga, rasa kantuknya hilang, berganti dengan rasa sakit yang luar biasa hebat. Hati Salsa seketika sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum tajam dan beracun atas pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang yang Salsa percayai.
Air matanya kembali menetes, mengalir membasahi pipinya yang sudah pucat pasi. Mengingat bagaimana Aditya, pria yang selama lima tahun belakangan ini dia temani berjuang dari bawah, dari zaman tidak punya apa-apa hingga sesukses sekarang tega mencampakkannya di saat sang ayah sedang sekarat, membuat seluruh tubuh Salsa bergetar hebat. Yang lebih menyakitkan lagi, Aditya membuangnya demi Zara, kakak tirinya yang selama ini selalu merebut kebahagiaannya.
Salsa meremas ulu hatinya sendiri yang terasa ngilu dan perih, menahan isak tangis agar tidak didengar oleh siapapun. Hubungan lima tahun mereka dihancurkan dalam hitungan detik.
“Tega sekali kamu, Mas... tega kamu menyakiti aku sampai seperti ini,” bisiknya lirih menahan tangis.
Salsa mengusap air mata di pipinya yang kian basah. Di balik rasa sedih dan hancur itu, muncul amarah yang membakar jiwanya. Dia menatap lurus ke depan dengan pandangan penuh luka.
“Aku bersumpah, Mas... aku bersumpah akan bikin kamu dan Zara menyesal seumur hidup karena sudah menginjak-injak tulusnya perasaanku terhadap kalian berdua.”
Salsa memutuskan untuk tidak lagi memikirkan dua orang yang tak punya hati nurani itu. Tiba-tiba Salsa teringat kalau dia sedang membantu Aditya mengerjakan tesisnya. Pria itu sedang menempuh S2 di Universitas yang sama dengan tempat Salsa dan Alea kuliah.
Salsa mengeluarkan ponselnya, menghapus semua file yang belum sempat diminta oleh Aditya. Selain file tesis, Salsa juga menghapus proposal dan file penting untuk showroom mobilnya termasuk perjanjian kerjasama dengan kliennya yang baru. Semua Salsa yang kerjakan. Sudut bibirnya membentuk lengkungan senyum samar karena file itu sudah dihapus secara permanen. Tinggal di laptopnya saja. Beruntung Laptopnya tertinggal di mobil Alea, jadi saat Adit menyadarinya, pria itu benar-benar tidak akan menemukan file pentingnya lagi.
“Ternyata kau hanya mau memanfaatkan aku saja, Mas. Awas saja aku akan balas,” desisnya penuh dendam.
*
Esok harinya, Salsa memutuskan untuk pulang dulu ke rumahnya. Dia ingat pesan Nathan kalau dirinya harus datang dengan penampilan menarik dan wangi. Salsa juga sudah menitipkan sang Ayah pada suster dan meninggalkan nomor ponselnya di sana agar bisa dihubungi jika situasi darurat.
Saat sampai di rumah kontrakannya Salsa mematung di depan kamar sang kakak tiri yang pintu kamarnya sedikit terbuka. Terdengar suara desahan yang menjijikkan dari dalam kamar itu dan rancauan suara berat Aditya. Rumah ini memang kosong karena ibunya Zara memilih tinggal di rumah orang tuanya sampai kondisinya pulih pasca kecelakaan yang dialami bersama sang suami, Ayah kandung Salsa.
Perut Salsa mendadak mual mendengar kalimat menjijikkan penuh pujian dari mulut Adit untuk Zara.
“Tubuhmu sangat nikmat, Zara, ini yang yang membuatku tergila-gila padamu,” pujinya dengan suara parau disusul suara desahan dari bibir Zara. Hati Salsa mencelos mengingat pengkhianatan yang mereka lakukan di belakangnya. Sejak kapan mereka berhubungan?
Namun tiba-tiba ada pesan masuk ke ponselnya dari Nathan Abimanyu. “Dua puluh menit lagi sopirku akan menjemputmu di depan gang kontrakanmu. Jangan sampai membuatnya menunggu.” matanya terbelalak, padahal Nathan sudah mengirim lokasi vila itu, tapi kenapa dirinya dijemput? Dan darimana Nathan tahu kontrakan Salsa?
Seketika Salsa panik dan saat ia akan menuju ke kamarnya, tubuhnya malah menabrak meja di depan kamar Zara hingga membuat vas bunga di atasnya jatuh.
Prang
“Siapa itu?” teriak suara dari dalam kamar Zara.
- Akhir Chapter -