Braaaaak
Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget.
“Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Adit yakin kalau Salsa cemburu dan sengaja memancing amarahnya.
Salsa berdiri sambil mengusap lututnya yang ngilu karena terbentur lantai. Dia menatap Aditya dengan pandangan jijik. Pria yang berdiri di depannya hanya memakai celana pendek, memamerkan dada dan lehernya yang dipenuhi tanda merah keunguan maha karya Zara. Peluh masih bercucuran membasahi tubuh Aditya sisa permainan panasnya di dalam kamar, membuat Salsa ingin muntah.
Entah kenapa, tidak ada lagi rasa cinta yang tersisa untuk pria ini. Padahal baru kemarin dia masih memuja Aditya menjadikan lelaki ini satu-satunya penghuni hatinya yang paling dalam.
“Ngapain juga aku ngintip perbuatan bejat kalian? Kurang kerjaan banget. Aku tadi buru-buru mau ke kamar. Lagian siapa yang suruh taruh meja di sini? Mengganggu jalanku saja!” jawab Salsa tak kalah ketus dari ucapan Aditya barusan.
Adit mendengus kesal.
Hilang sudah kesan anggun dan lemah lembut yang selama ini melekat di benak Aditya tentang mantan tunangannya itu. Tapi tiba-tiba pria itu mengingat sesuatu.
“Tolong kirimkan semua fileku termasuk file tesisku ke email,” ucapnya memberi perintah seolah dia tidak pernah melukai hati perempuan di hadapannya ini.
“Aku gak punya file apapun. Semua sudah kuhapus karena memori laptopku kecil. Bukankah kau sudah punya asisten pribadi yang seharusnya mengerjakan semua urusan kantormu? Lagian kau tak pernah menitipkan file tesismu padaku, ngapain nyuruh aku kirim via email?” Balas Salsa berhasil memancing amarah dari Aditya. Kedua tangan pria itu tampak mengepal di sisi tubuhnya. Aditya tampak beberapa kali menarik nafas. Dia sedang membutuhkan semua file itu, dan dia harus menahan egonya untuk tidak marah pada mantan tunangannya ini.
“Aku tahu kau sedang marah. Tapi bukankah lebih baik kita putus daripada aku selingkuh di belakangmu. Kirim saja nanti setelah marahmu hilang. Suatu saat nanti, kau menyadari kalau keputusan yang kuambil adalah yang terbaik,” ujar pria yang tak punya hati nurani itu.
Malas memperpanjang urusan, apalagi dia sudah dikejar waktu, Salsa langsung melengos masuk ke kamarnya. Dia mengabaikan Aditya yang masih misuh-misuh karena Salsa tidak menanggapi ucapannya. Jangankan meminta maaf, untuk sekadar membereskan pecahan vas bunga yang berserakan di bawah meja pun Salsa sudah tidak sudi.
Di dalam kamar, Salsa bergegas membersihkan diri dan berdandan. Sebelum berangkat, dia menyemprotkan parfum cukup banyak ke sekujur tubuhnya agar wanginya awet, persis seperti yang diminta oleh Nathan.
Salsa lantas berlari kecil menuju ujung gang kontrakannya. Nathan sempat memberi tahu lewat pesan kalau sopirnya sudah menunggu di sana. Salsa melirik jam di ponselnya, dia sudah telat tiga menit dari waktu yang ditentukan oleh pria itu.
“Non Salsa, ya?” tanya seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat mobil mewah.
“Bapak siapa?” Salsa balik bertanya, untuk memastikan.
“Saya sopir Tuan Nathan. Diminta menjemput Non Salsa untuk diantar ke vila,” jawab pria itu ramah. Setelah Salsa mengangguk mengiyakan, sopir itu langsung membukakan pintu belakang dengan sopan meminta Salsa masuk.
“Silakan masuk, Non.”
“Terima kasih, Pak. Tapi panggil Salsa saja,” pinta Salsa setelah duduk di jok belakang. Sang sopir hanya mengangguk meski ia tak akan patuh pada permintaan Salsa barusan.
Mobil mewah itu kemudian melaju, membelah keramaian kota di hari weekend menuju ke sebuah vila di sudut kota, tepat di tepi pantai yang sepi pengunjung.
Lokasi vila itu benar-benar jauh dari pemukiman penduduk maupun vila-vila lainnya. Sebenarnya tempat seperti ini sangat cocok dan nyaman untuk orang berkarakter introvert seperti Salsa. Namun, situasi kali ini berbeda. Berada di tempat sepi seperti ini justru membuat nyali Salsa ciut karena dia tahu akan segera berduaan dengan Nathan.
Pertanyaan-pertanyaan cemas mulai menari-nari di dalam benaknya. Apa mungkin perempuan biasa seperti dirinya bisa memuaskan Nathan? Pria matang yang pesonanya selalu sukses membuat para wanita menjerit histeris setiap kali melihatnya. Atau jangan-jangan, Nathan justru akan menyiksanya kalau dia tidak bisa melayani pria itu dengan baik? Salsa bergidik ngeri membayangkan hal buruk yang bisa saja menimpanya. Tapi demi sang Ayah, matipun Salsa rela. Semua pikiran liar itu terus berputar-putar di otaknya tanpa menemukan jawaban, sampai akhirnya suara sang sopir membuyarkan lamunannya.
“Silakan turun, Non. Tadi Tuan meminta Non Salsa untuk menunggu di ruang tamu dulu. Semua pintunya sudah terbuka otomatis,” ucap sopir itu, yang rupanya tetap memilih memanggilnya dengan sebutan Non.
“Terima kasih, Pak.”
Dengan rasa takut yang menjalar di sekujur tubuhnya, Salsa pun turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam vila yang terlihat sangat mewah dan luas itu. Jantungnya berdegup semakin kencang saat dia duduk seorang diri di sofa ruang tamu sesuai dengan permintaan sopir pribadi Nathan.
Salsa mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sepi. “Apa Om Nathan belum datang, ya?” pikirnya dalam hati, mencoba menebak situasi yang menantinya di depan mata.
“Ayo naik,” suara Nathan dari lantai dua berhasil membuat wajah Salsa pucat. Jantungnya menggedor-gedor sangat keras di rongga dadanya. Tak ingin membuat pria itu marah, Salsa pun naik ke lantai atas dengan kaki yang kian lemas.
Ia masuk ke kamar di mana Nathan sudah menunggu di dalam. Salsa mematung di ambang pintu. “Masuk, dan kunci pintunya,” perintah Nathan yang membuat nyali Salsa semakin ciut.
Setelah terdengar pintu tertutup Nathan memanggilnya, “kemarilah.”
Dengan gugup Salsa mendekati Ayah sahabatnya yang duduk di sofa. “Apa kamu memakai satu botol parfummu sampai baunya sangat menyengat dan bikin aku mual?”
Pertanyaan Nathan membuat Salsa semakin ketakutan dan tak berani menatapnya apalagi menjawab pertanyaannya. Pantas saja sopir Nathan tadi berulang kali menutup hidung ternyata semua karena bau parfumnya.
“Ambil baju di atas ranjang itu. Bersihkan tubuhmu lalu pakai baju itu untukku.”
Deg
Meskipun tak pernah memakai baju yang dimaksud oleh Nathan, tapi Salsa tahu baju itu namanya lingerie. Salsa berjalan mendekati ranjang menatap nanar baju berbahan brokat itu. “Aku gak mau pakai baju ini,” gumamnya dalam hati.
- Akhir Chapter -