← Kembali ke Detail

Bab 1

Saat Aku Melahirkan Kau Tak Ada, Saat Aku Pergi Kau Menangis5 menit · 947 kata · Chapter 1/276

Chapter 1 / 276 · 0%Bab 1
Ukuran huruf
18px
← PrevNext →

"Sayang, hari ini perayaan satu bulan anak kita. Kamu bisa jemput kami, 'kan?"

Aurel menggendong putrinya yang masih dibedong. Suaranya terdengar tenang, tetapi menyiratkan sedikit kewaspadaan di dalamnya. Dari seberang telepon, suara Kenric terdengar tanpa emosi sedikit pun.

"Ada urusan mendadak. Aku suruh sopir jemput kalian pulang."

Saat melahirkan dan selama sebulan penuh masa nifas, Kenric selalu absen dengan alasan sibuk pekerjaan. Sekarang, bahkan di hari bayi mereka genap satu bulan dan Aurel menyelesaikan masa nifas, pria itu tetap tidak bisa datang.

Hati Aurel terasa perih. Dia menahan diri mati-matian agar air matanya tidak jatuh.

"Baiklah, aku mengerti."

"Aurel, selama ini kamu selalu mandiri. Aku percaya, hal kecil seperti melahirkan pasti bisa kamu tangani sendiri. Semangat, kamu ibu terbaik."

Setelah mengatakan itu, Kenric langsung menutup telepon. Nada bicara yang terdengar seperti sedang menyemangati bawahan itu membuat hati Aurel terasa seperti ditusuk.

Pada saat itulah, sahabat Kenric, Delvan, menelepon.

"Kak Aurel, maaf ya, malam ini mendadak ada urusan jadi aku nggak bisa datang ke pesta satu bulanan di Hotel Starlight. Selamat atas kelahiran putra kalian!"

Pesta satu bulanan?

Kelahiran putra?

Aurel langsung bingung. Baru saja dia ingin bertanya lebih lanjut, telepon sudah keburu ditutup.

Tak lama kemudian, notifikasi pesan berbunyi.

Delvan mengirim pesan meminta nomor rekening untuk mentransfer hadiah satu bulanan, tetapi belum sampai satu menit, pesan itu buru-buru ditarik kembali.

"Maaf, Kak, aku salah. Yang melahirkan bukan kamu."

Delvan segera mengirim pesan suara meminta maaf, lalu berturut-turut mengirim lebih dari sepuluh stiker permintaan maaf. Namun dari rangkaian emoji dan nada penuh kehati-hatian itu, Aurel menangkap sesuatu yang tidak beres.

Sebuah dugaan mengerikan langsung muncul di benaknya.

Pukul sebelas siang, Aurel mengenakan jaket bulu hitam, topi, dan masker, lalu muncul tepat waktu di depan aula perjamuan mewah Hotel Starlight, Kota Jardana.

Di depan aula itu sangat ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan meriah.

Di depan pintu terpampang sebuah poster bayi berukuran besar dengan tulisan "Perayaan Satu Bulan Bayi Enzo", sementara para tamu yang datang tidak satu pun dikenali Aurel.

Aurel sempat mengira semuanya hanya kesalahpahaman. Dia langsung menghela napas lega dan baru saja hendak pergi. Namun pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenalnya dari belakang.

"Kamu baru selesai masa nifas, dengarkan aku, biar aku saja yang gendong bayinya. Nanti aku juga sudah siapin hadiah satu bulan yang super mewah untuknya."

Langkah Aurel langsung terhenti. Dia mendadak menoleh dan melihat. Tidak jauh di depan sana, seorang pria sedang menerima bayi montok berkulit putih dari tangan seorang wanita.

Pria itu adalah Kenric, suaminya yang sudah menghilang selama satu bulan penuh!

Darah di tubuh Aurel seakan membeku seketika. Dia membelalakkan mata tak percaya.

Suara manja wanita itu terdengar lagi.

"Kak Kenric, kamu baik sekali sama aku dan Zozo. Selama hamil kamu selalu temani aku, memasakkan berbagai makanan enak untukku. Bahkan waktu aku melahirkan juga kamu berjaga di luar ruang bersalin sepanjang waktu, lalu merawatku selama masa nifas. Nanti kalau Reiner pulang ke negara ini, dia pasti sangat berterima kasih karena kamu sudah menjaga aku dan bayi kami."

"Kamu ini sepupuku dan Reiner juga sahabat terbaikku. Karena dia nggak ada, sudah jadi tanggung jawabku untuk menjagamu."

Rasanya seperti ada seseorang yang menembakkan peluru tepat ke jantungnya.

Aurel berdiri mematung di tempat. Dadanya terasa sakit sampai seperti tercabik-cabik, sementara seluruh tubuhnya terasa membeku dari kepala hingga ujung kaki. Jadi selama hampir setahun ini, Kenric sama sekali bukan sibuk bekerja. Dia sibuk merawat istri sahabatnya, sekaligus sepupunya sendiri, Amara.

Keduanya menggendong bayi sambil bercanda dan tertawa, lalu berjalan masuk ke aula perjamuan.

Pada saat itu, ponsel Aurel berbunyi. Dengan mati rasa dia membukanya dan mendapati pesan dari Kenric.

[ Semangat, jadilah ibu yang kuat. Setelah urusan malam ini selesai, besok aku pasti pulang. ]

Melihat kalimat itu, lalu membandingkannya dengan perhatian hangat yang baru saja ditunjukkan pria itu kepada sepupunya, Aurel hanya merasakan ironi yang begitu menyakitkan.

Jarinya tanpa sengaja menyentuh layar dan riwayat pesan lama dari Kenric otomatis bergulir naik satu demi satu di depan matanya.

[ Hamil delapan bulan tapi masih bisa menyelesaikan desain Gedung Raksa Kota Jardana tepat waktu. Kamu benar-benar hebat. ]

[ Sudah lima bulan ya? Santai sekali kamu hamil, nggak manja seperti wanita lain. Aku bangga sama kamu. ]

[ Sepertinya kamu masih bisa lincah berjalan setiap hari dan juga nggak ada morning sickness, harusnya nggak masalah kalau tambah beban kerja sedikit. Semangat ya, aku paling tenang kalau kamu yang pegang desainnya. ]

....

Sebenarnya selama masa kehamilan, semua gejala yang biasa dialami wanita hamil seperti mual muntah, kaki bengkak, tekanan darah dan gula darah naik, sampai pingsan ... semuanya pernah dialami Aurel.

Kata-kata penyemangat dan pujian dari Kenric itulah yang menopangnya untuk terus bertahan. Dari awal hamil sampai melahirkan, dia bahkan tidak pernah mengambil cuti lebih dari dua hari.

Di dalam hati, Aurel pernah meragukan semuanya. Dia merasa sikap Kenric terhadapnya terlalu mirip atasan kepada bawahan, sama sekali tidak ada perhatian dan kelembutan yang seharusnya dimiliki seorang suami.

Namun, memang beginilah hubungan mereka sejak dulu dan Aurel sudah terbiasa. Pria itu memang selalu seperti itu kepada semua orang, jadi dia mengira memang seperti itulah sifat asli Kenric.

Sampai tadi.

Saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria itu menerima bayi dari pelukan wanita lain dengan begitu hati-hati.

Mendengar sendiri nada lembut penuh perhatian itu.

Melihat bagaimana Kenric menopang pinggang ramping wanita itu dengan hati-hati karena takut dia sampai terjatuh.

Barulah Aurel tersadar. Ternyata, Kenric memang bisa menyayangi seseorang. Hanya saja, orang yang dia sayangi itu bukan dirinya.

Menyadari hal itu, hati Aurel terasa semakin perih hingga sampai berdarah-darah.

Tanpa sadar dia melangkahkan kaki, mengikuti arus tamu yang keluar masuk menuju aula perjamuan.

Dia ingin melihat sendiri. Dia ingin melihat dengan matanya sendiri, kejutan seperti apa yang diam-diam dipersiapkan suaminya untuk wanita dan anak orang lain.

— Akhir Chapter —