Di dalam aula perjamuan.
Tatapan Aurel terpaku pada Kenric. Dia melihat pria itu membawa gelas anggur sambil menemani Amara berkeliling dari meja ke meja untuk bersulang penuh semangat.
"Sahabatku, Reiner, sekarang sedang mengerjakan proyek infrastruktur rahasia di luar negeri. Dia baru akan pulang setahun lagi. Jadi untuk pesta satu bulan hari ini, aku yang akan menggantikannya minum."
"Amara baru selesai masa nifas, dia nggak boleh minum alkohol ataupun minuman dingin. Begini saja, semua yang kalian tujukan untuk dia, biar aku yang minum."
...
Aurel tiba-tiba merasa jus jeruk di mulutnya begitu dingin dan pahit, sama dinginnya dengan dadanya saat ini. Selama bertahun-tahun bekerja bersama Kenric, setiap menghadiri acara jamuan, pria itu selalu tanpa ragu mendorong Aurel maju sambil memuji bahwa dia tahan minum.
Aurel belum pernah melihat Kenric minum sebanyak ini tanpa menolak satu pun. Apalagi membayangkan bahwa suatu hari nanti, pria itu rela mengambil alih minuman demi orang lain.
Melihat wajah tampan Kenric yang mulai memerah karena alkohol, Aurel hanya merasakan getir dan ironi yang tak terlukiskan. Dia sudah tidak tahan lagi dan hendak maju ke depan.
Namun saat itu, pembawa acara di atas panggung tiba-tiba berkata lantang.
"Hari ini adalah pesta satu bulan bayi Enzo. Sebagai paman sang bayi, Pak Kenric akan memberikan hadiah besar untuknya. Mari kita sambut dengan tepuk tangan!"
Saat ini, Kenric dan Amara sudah berdiri di depan semua tamu sambil menggendong bayi itu.
Di depan semua orang, Kenric membuka sebuah kotak hadiah panjang. Di dalamnya terdapat liontin panjang dari emas murni yang berkilau keemasan dan bertabur batu merah.
Begitu melihat liontin panjang umur itu, darah Aurel langsung membeku seketika. Dia melangkah cepat ke depan, menatap benda itu selama beberapa detik dengan mata membelalak.
Dalam sekejap, amarah di dalam dirinya langsung meledak.
Suara Kenric terdengar jelas dan lantang.
"Liontin ini adalah pusaka turun-temurun dari keluarga istri pamannya bayi. Maknanya sangat baik dan nilainya luar biasa. Sekarang aku memberikan liontin ini kepada Enzo, semoga dia panjang umur dan tumbuh cerdas!"
Mendengar Kenric sendiri mengucapkan kalimat itu, dunia Aurel benar-benar jatuh ke dalam kegelapan. Padahal liontin panjang umur itu jelas-jelas diberikan ibu Aurel kepada bayi dalam kandungannya saat Aurel hamil enam bulan.
Karena takut hilang jika disimpan di rumah, Aurel sengaja menitipkannya di brankas perusahaan Kenric.
Namun sekarang, pria itu bahkan tidak bertanya sepatah kata pun kepadanya sebelum memberikan gembok itu kepada putra Amara. Sementara putri kandungnya sendiri, sejak masih di dalam kandungan sampai lahir, bahkan belum pernah sekali pun dilihat oleh Kenric, apalagi diberi hadiah.
Aurel akhirnya tidak tahan lagi dan berseru lantang, "Boleh tanya nggak? Apa istri omnya sudah setuju sampai kamu berani ngasih hadiah ini?"
Teriakan mendadak Aurel membuat seluruh aula langsung hening.
Dalam sekejap, semua tatapan tertuju kepadanya. Kenric yang berdiri di atas panggung tampak terkejut sesaat saat melihat Aurel, tetapi ekspresinya segera kembali tenang seperti biasa. Dia berjalan cepat menghampiri. Sebelum Aurel sempat bereaksi, pria itu langsung menariknya keluar tanpa memberi kesempatan bicara.
Pria itu berkata dengan suara rendah dan tidak sabar, "Aurel, kenapa kamu datang ke sini?"
Aurel menarik masker dari wajahnya dengan marah. Dia ingin memaki Kenric, tetapi begitu membuka mulut, suaranya malah berubah menjadi isakan tertahan.
"Kenapa? Memangnya aku nggak pantas datang?"
"Kalau mau bikin keributan, lihat tempat juga!" Kenric menegur dengan suara pelan, terdengar amarah yang tersirat dalam nada bicaranya. "Kamu teriak-teriak tadi sengaja mau buat aku malu ya?"
Aurel langsung menepis tangannya. Dia menatap pria itu tak percaya. "Kenric, liontin panjang umur itu hadiah dari ibuku untuk putriku. Apa hakmu ngasih hadiah itu ke orang lain tanpa nanya ke aku?"
Wajah pria itu langsung menjadi muram. "Aurel, selama ini kamu selalu pengertian. Apa perlu buat aku malu di tempat seperti ini?"
Kata-kata "selalu pengertian" itu langsung membuat amarah Aurel melonjak. Dia menahan emosinya sekuat tenaga.
"Kamu bahkan nggak bilang apa-apa sebelum ngasih pusaka keluargaku ke orang yang katanya keponakanmu itu. Kenric, sebenarnya siapa yang mempermalukan siapa?"
Kenric segera melirik sekeliling, lalu menurunkan suaranya lebih pelan lagi.
"Itu cuma liontin panjang umur. Karena waktunya mepet aku nggak sempat pesan yang baru, makanya aku pakai itu dulu untuk hadiah. Amara dan Reiner juga bukan orang asing. Apa perlu kamu membesar-besarkan sampai seperti ini?"
Tatapan Aurel kepadanya terasa sangat dingin.
"Kenric, itu bukan liontin panjang umur biasa. Itu pusaka turun-temurun keluargaku." Dia menekan dadanya kuat-kuat, suaranya begitu rendah sampai terdengar mengerikan, "Kalau kamu nggak kembalikan liontin itu ke putriku, aku nggak akan diam begitu saja."
Aurel memang punya penyakit nyeri jantung setiap kali emosi.
Saat ini, jantungnya terasa seperti diremas berkali-kali, sementara luka operasi caesarnya juga terasa nyeri samar seolah kembali robek. Tubuhnya sudah tidak sanggup menopang lagi. Wajahnya memucat, lalu tanpa sadar dia jongkok menahan sakit.
Kenric menyadari ada yang tidak beres. Ekspresinya berubah sedikit terkejut dan dia baru saja ingin membantu menopangnya, ketika sebuah tangan ramping tiba-tiba menarik lengannya.
"Kak Kenric, ada apa? Apa karena kamu ngasih liontin panjang umur itu untuk bayiku jadi Kakak Ipar marah?"
Amara lalu menoleh ke arah Aurel sambil menutup mulut dengan ekspresi terkejut. "Ya ampun, Kakak Ipar, kenapa setelah melahirkan kamu jadi secapek ini? Aku sampai hampir nggak mengenali kamu."
Aurel perlahan mengangkat pandangan menatap Amara. Wanita itu berdiri di sisi Kenric dengan gaun malam mahal rancangan khusus. Tubuhnya ramping memesona dan senyumnya manis, sama sekali tidak terlihat seperti baru melahirkan.
Sebelum Aurel sempat bicara, Amara sudah lebih dulu maju dan menggenggam erat lengannya.
"Kakak Ipar, jangan marah sama Kak Kenric. Sebenarnya dia memang mau bawa pulang liontin itu untuk putrimu, tapi karena aku bilang aku suka, dia jadi memutuskan memberikannya untuk anakku."
"Cuma liontin panjang umur saja, kok. Kalau Kakak Ipar suka, nanti aku belikan satu lagi di toko emas sebagai gantinya, gimana?"
Kuku panjang wanita itu menusuk masuk ke daging lengannya.
Karena kesakitan, Aurel langsung menghempaskan tangannya.
Namun, dia tidak menyangka Amara malah memanfaatkan dorongan itu untuk jatuh ke lantai sambil menjerit keras.
"Aurel! Apa yang kamu lakukan?! Amara baru selesai masa nifas!" Kenric meraung marah. Tanpa berpikir panjang dia langsung membantu Amara berdiri, lalu menatap Aurel dengan penuh kemarahan.
Aurel mengangkat lengannya yang sudah dipenuhi bekas cubitan Amara. Sambil menahan sakit di perutnya, dia menatap Kenric dengan mata penuh amarah. "Dia baru selesai masa nifas? Memangnya aku bukan?"
Suara Kenric dingin setajam pisau, "Kamu berbeda dengannya. Kondisi tubuhmu lebih kuat."
Wajah Aurel langsung memucat seketika. Dia menggertakkan gigi, lalu memaksa dirinya berdiri tegak.
Sebelum Kenric sempat bereaksi, Aurel langsung mengangkat tangan dan menampar wajahnya dengan keras. Tatapannya dipenuhi kebencian yang meluap-luap. "Kamu memang berbeda dari suami orang lain. Kamu benar-benar keterlaluan berengseknya."
Aurel benar-benar sudah kehilangan tenaga untuk terus bertengkar.
Lima tahun pernikahan yang penuh pengekangan dan kepedihan itu, mulai detik ini, benar-benar sudah melampaui batas kesabarannya.
Aurel berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Dia langsung masuk ke aula dan berjalan menuju bayi yang mengenakan liontin panjang umur dan sedang digendong pengasuh.
Tatapannya dingin tanpa tersenyum sedikit pun. Pengasuh itu sampai mundur selangkah ketakutan dan suaranya gemetar. "Ka ... kamu mau apa?"
"Mengambil kembali barang milikku."
Aurel melangkah maju, lalu langsung menarik liontin panjang umur dari tubuh bayi itu dan memasukkannya ke dalam saku.
"Aurel, kamu ...."
Kenric mengejarnya masuk ke aula. Melihat Aurel yang naik pitam, dia baru saja ingin memarahinya.
Namun, Aurel tiba-tiba berbalik. Kedua matanya dipenuhi kebencian saat menatap pria itu.
"Kita cerai. Besok pagi aku tunggu kamu di pengadilan."
Kenric langsung mematung di tempat. Tatapan matanya berubah dari marah menjadi terkejut dan penuh ketidakpercayaan.
— Akhir Chapter —