Aurel langsung menginjak pedal gas dan memacu mobil kembali ke rumah pernikahan mereka di Vila Grand Aria.
Begitu membuka pintu, bibi pelayan lama di rumah, Marni, dan pengasuh bayi yang dipekerjakan Aurel, Rina, sedang mengajak sang bayi bermain.
Melihat wajah Aurel yang pucat pasi, keduanya langsung terkejut.
"Nyonya, Anda kenapa?"
Aurel memaksakan seulas senyum.
"Aku nggak apa-apa. Aku lapar, tolong buatkan mi kuah jahe untukku."
Setelah mengambil bayi dari gendongan Rina, hati Aurel yang kacau perlahan akhirnya menjadi tenang saat melihat wajah mungil putrinya yang merona. Dia mencium pipi bayinya, lalu memberi isyarat kepada Rina untuk membawa bayi itu kembali ke kamar tidur.
Tak lama kemudian, Marni membawa semangkuk mi panas yang baru dimasak. Aurel baru saja menyuapkan satu gigitan mi hangat ke mulutnya.
Detik berikutnya, beberapa foto yang masuk ke email kerjanya langsung membuat amarah yang baru saja dia tekan kembali meledak.
Foto-foto itu dikirim dari email anonim.
Semuanya adalah bukti jelas bahwa sejak Amara hamil sampai melahirkan, Kenric selalu berada di sisinya. Gambar-gambar itu sangat jelas, memperlihatkan keintiman mereka di berbagai tempat seperti taman, rumah sakit, dan restoran.
Aurel membukanya satu per satu. Jarinya terasa kaku, sementara darah di tubuhnya kembali membeku. Namun, orang yang mengirim semua itu tampaknya masih merasa belum cukup puas menyakitinya.
Tak lama kemudian, sebuah panggilan telepon masuk.
"Kamu sudah lihat semua fotonya, 'kan? Cewek tomboy. Waktu kamu capek kerja lembur sambil hamil besar, suamimu malah selalu menempel di sisiku."
"Kamu tahu seberapa baik dia sama aku? Kakiku bengkak, dia yang memijatnya. Dia takut aku kena stretch mark dan jadi jelek, jadi sejak usia kandunganku tiga bulan dia selalu mengoleskan minyak untukku sampai aku melahirkan."
"Oh iya, aku tahu liontin panjang umur itu pusaka keluargamu. Aku sengaja minta dia memberikannya pada anakku, dan dia benar-benar langsung memberikannya tanpa ragu sedikit pun. Itu cukup membuktikan betapa nggak pentingnya kamu di matanya."
"Jadi sekarang kamu sadar? Akhirnya mau melepaskannya dan bercerai? Seharusnya dari dulu kamu berpikir begitu. Wanita sepertimu yang nggak punya daya tarik feminin dan cuma tahu kerja nggak pantas punya pria sebaik dia!"
....
Dari telepon terdengar suara yang ceria dan jernih seperti milik seorang pria muda. Namun, setiap kata yang keluar dari mulutnya begitu kejam dan menusuk.
Aurel segera menyadari apa yang terjadi.
Orang itu jelas takut Aurel merekam pembicaraan itu, jadi dia sengaja menggunakan aplikasi pengubah suara. Bahkan sudut pengambilan foto-foto itu pun tampak direncanakan dengan sengaja, demi memprovokasi Aurel sambil membersihkan diri sendiri dari kecurigaan.
Setelah selesai melontarkan provokasi, pihak sana langsung memutus telepon tanpa memberi kesempatan Aurel bicara.
Kepala Aurel berdengung hebat. Jantungnya kembali diremas rasa sakit yang kuat sampai wajahnya memucat dan keringat dingin bercucuran. Sebenarnya, dia sudah lama tahu tentang Amara.
Wanita itu adalah anak angkat tante Kenric yang diambil dari panti asuhan, dan tumbuh besar bersama Kenric sejak kecil.
Hanya saja, sejak lima tahun lalu sebelum Aurel menikah dengan Kenric, Amara sudah menikah dengan Keluarga Cahyadi di Kota Jardana dan pindah menetap ke luar negeri bersama suaminya.
Aurel dan Amara nyaris tidak pernah berhubungan sama sekali. Di depannya pun, Kenric jarang sekali menyebut nama wanita itu. Ini pertama kalinya Aurel menerima provokasi terang-terangan seperti ini dari Amara.
Kebencian dalam kata-katanya terdengar begitu jelas, seolah-olah Aurel telah merebut cinta terbesar dalam hidupnya. Padahal, Amara adalah sepupu Kenric. Dia juga sudah menikah dengan Reiner dan bahkan telah melahirkan seorang putra. Lalu, kenapa dia tiba-tiba terlibat begitu dalam dengan Kenric?
Apa sebenarnya yang terjadi sampai selama lebih dari setahun ini Kenric menyembunyikan semuanya dan rela berkali-kali pergi ke luar negeri demi menemaninya?
Begitu banyak pertanyaan bercampur dengan kemarahan besar berputar di hati Aurel.
Pada saat itu, terdengar suara pintu terbuka dari arah depan.
Kenric pulang.
Melihat Aurel duduk di meja makan sambil makan mi, pria itu langsung berjalan mendekat dan duduk tepat di depannya.
Ekspresinya dingin dan suram. Baru saja duduk, dia langsung mengeluarkan kotak rokok dari saku, mengambil sebatang, lalu dengan santai menyodorkannya kepada Aurel.
"Mau?"
Aurel meliriknya sekilas dan malas menjawab.
Pria itu rupanya sudah lupa kalau Aurel sudah berhenti merokok sejak lama demi anak mereka. Dari masa persiapan kehamilan sampai melahirkan, sudah dua tahun penuh Aurel tidak menyentuh rokok.
Kenric menyalakan rokoknya sendiri, lalu mengulurkan kakinya dan menendang ringan lutut Aurel di bawah meja. "Coba lihat dirimu. Memangnya perlu sampai begini? Kenapa sifatmu jadi nggak dewasa dan nggak rasional setelah melahirkan?"
"Reiner sedang menjalankan proyek infrastruktur rahasia, jadi dia nggak bisa keluar. Amara itu tubuhnya lemah dan manja. Dia tumbuh besar di rumahku, sementara Reiner juga sahabat terbaikku. Aku nggak punya pilihan selain lebih menjaganya."
"Aku nggak kasih tahu kamu karena takut kamu cemburu. Dan benar saja, lihat dirimu sekarang ...."
Melihat Aurel tidak bicara, Kenric mengulurkan tangan melewati meja lalu mengusap telinganya dengan santai.
"Dulu kamu nggak begini, Aurel. Jangan sampai kamu belajar dari wanita-wanita murahan itu, merasa jadi bisa seenaknya mengendalikan suami setelah melahirkan anak."
Kenric sudah terlalu lama berada di posisi tinggi. Cara bicaranya memang selalu terdengar seperti orang yang berada di atas segalanya. Dulu Aurel benar-benar mengagumi dan menghormati Kenric dari hati, jadi dia tidak pernah merasa ada yang salah.
Namun hari ini, setiap kata itu terdengar sangat menusuk telinga. Amarah yang sejak tadi ditekan di dalam dadanya langsung meluap. Aurel membanting sendok ke atas meja dengan keras hingga berbunyi nyaring.
"Kenric, menurutmu yang baru kamu bilang itu masih pantas keluar dari mulut seorang manusia?"
Melihat emosinya naik lagi, wajah Kenric langsung menjadi muram.
"Aku masih menahan emosi dan bicara baik-baik denganmu, Aurel. Bahkan soal kamu menamparku di depan banyak orang tadi saja belum kupermasalahkan."
Kenric berdiri dari kursinya. Dadanya bergerak naik turun dengan hebat, jelas amarahnya juga mulai tak tertahan.
Aurel mencibir. "Kita cerai saja, Kenric. Sekarang setiap kali melihatmu, yang kurasakan cuma jijik. Sangat jijik."
"Aurel!"
Kenric benar-benar marah. "Anak kita baru lahir, kamu sudah mau cerai? Sejak kapan kamu jadi sama seperti wanita-wanita murahan itu? Sedikit-sedikit ngungkit cerai!"
Aurel menatapnya dengan dingin. "Kamu masih ingat kalau kita baru punya anak? Kukira di kepalamu cuma ada putra orang lain sampai kamu lupa kalau kamu sendiri juga punya anak!"
Kenric terdiam sesaat. Seolah-olah baru sekarang dia teringat kalau dirinya juga punya seorang putri. Dia langsung melihat sekeliling secara refleks, mencari keberadaan bayi mereka.
Melihat reaksinya yang terlambat seperti itu, mata Aurel terasa perih sampai akhirnya dia tertawa saking marahnya.
"Nggak usah dicari. Dari masa aku hamil, melahirkan, sampai anak ini genap satu bulan, kamu bahkan nggak pernah nanya dia sekali pun. Anggap saja dia memang nggak pernah ada. Mulai sekarang dia cuma putriku seorang, nggak ada hubungan sedikit pun denganmu."
"Setelah kita cerai, terserah kamu mau sayang sama anak siapa pun. Tapi putriku, jangan harap kamu bisa menyentuhnya bahkan dengan satu jari pun."
Aurel teringat pada tiga bulan pertama kehamilannya yang dipenuhi muntah dan mual.
Teringat setiap kali pergi kontrol kandungan sendirian, lalu jantungnya berdebar ketakutan saat mendengar dokter menjelaskan berbagai risiko yang mungkin terjadi.
Teringat saat kaki bengkaknya di masa akhir kehamilan sampai terasa sakit saat berjalan, juga malam-malam ketika kram menyerang hingga dia hampir menangis kesakitan. Dia juga teringat stretch mark di perutnya yang muncul karena terlalu sibuk bekerja dan terlalu lelah sampai tidak sempat merawat diri.
Lalu, teringat dengan bagaimana dia berbaring di meja persalinan sambil menahan rasa takut dan putus asa sendirian.
Pendarahan hebat setelah melahirkan yang nyaris merenggut nyawanya. Rasa nyeri karena ASI tersumbat selama masa nifas dan malam-malam panjang tanpa tidur.
Pada detik ini, hati Aurel benar-benar mati rasa sepenuhnya.
Selama ini, yang menopangnya untuk terus bertahan adalah kekagumannya yang tulus kepada pria itu, serta sifat keras kepala dan pantang menyerah yang sudah tertanam dalam dirinya.
Namun sekarang, sosok pria itu benar-benar runtuh di dalam hatinya dan hancur tak bersisa.
Kalau begitu, pernikahan lima tahun yang penuh penekanan dan penderitaan ini juga sudah tidak punya alasan lagi untuk dipertahankan.
Aurel akan bercerai dan membawa putrinya pergi. Dia akan mencabut pria ini dari dalam hatinya hingga tuntas.
Aurel berdiri.
Dia menatap Kenric dengan dingin. Lalu, dengan senyum tipis penuh ejekan di bibirnya, dia langsung membanting mangkuk sup di depan pria itu ke lantai.
"Jangan coba-coba memanipulasiku lagi. Aku memang bukan wanita luar biasa. Aku biasa saja, norak, nggak feminin. Tapi setidaknya aku masih punya batas moral dan prinsip dasar sebagai manusia. Nggak seperti kamu."
Aurel mengangkat jari tengahnya ke arah Kenric dengan dingin. Tatapannya tajam dan tanpa ampun.
"Kenric, hubungan kita selesai."
Brak!
Duar!
Prang!
Dalam sekejap, ruang tamu dipenuhi suara benturan keras bertubi-tubi.
Aurel membalik meja makan. Dia menarik foto pernikahan raksasa yang tergantung di dinding. Lalu, mendorong lemari pajangan di ruang tamu hingga roboh.
Semua benda keberuntungan rumah tangga yang dulu susah payah dikumpulkannya dari berbagai tempat, langsung hancur berkeping-keping.
Ekspresi Kenric yang awalnya penuh amarah perlahan berubah menjadi benar-benar tercengang. Tepat pada saat itu juga, dia tiba-tiba menyadari sesuatu. Aurel masihlah wanita yang sama seperti saat pertama kali dia kenal dulu.
Wanita yang menyala-nyala seperti api. Hanya saja, sudah sangat lama Kenric tidak pernah lagi melihat sisi dirinya yang begitu berani dan meledak-ledak seperti ini.
— Akhir Chapter —