← Kembali ke Detail

1. Desahan Dibalik Telepon

Saat Istri Dingin Tiba-Tiba Minta Tidur Bersama 6 menit · 1.025 kata · Chapter 1/98

Chapter 1 / 98 · 1%1. Desahan Dibalik Telepon
Ukuran huruf
18px
← PrevNext →

“Langit, Akhhh …. Pelan-pelan ….”

“Yasmin, suamimu akan tidur di sini malam ini. Langit sangat menginginkan anak, tapi dia saja tidak pernah menyentuhmu, kan? Maaf, malam ini aku yang akan melayaninya.”

Mata Yasmin melebar tegang mendengar desah menjijikan itu. Tangannya yang memegang roda setir gemetar. Dia menelpon suaminya, tapi yang mengangkat malah wanita lain.

Lalu, terdengar desahan memburu pasangan yang begitu jelas.

Dada Yasmin bergemuruh hebat. Rahangnya mengeras. “Kalian benar-benar menjijikan!”

Di sana, wanita itu justru tertawa diselingi desah lirih. “Kamu cuma batu loncatan Langit saja. Dia menikahimu hanya karena balas budi. Dan sekarang Langit sudah muak. Buktinya, dia diam saja saat aku mengangkat telepon darimu.”

“Kalian–”

Telepon dimatikan sepihak.

Darah Yasmin mendidih. Napasnya memburu pendek.

Satu bulan yang lalu, kakaknya meninggal karena kecelakaan. Satu minggu yang lalu, ayahnya juga meninggal karena serangan jantung. Lalu, ibunya depresi dan kini ada di rumah sakit jiwa. Sekarang suaminya malah …!

‘Langit, aku membencimu!’

Emosinya kacau, dia sampai tak melihat pembatas jalan di depan.

Saat hendak menginjak rem, ternyata malah rem blong.

“Apa yang terjadi?” Panik.

Yasmin terus berusaha mengendalikan mobilnya yang semakin kencang dan tak bisa dihentikan. Jantungnya berpacu cepat, bagaimana bisa remnya tiba-tiba blong? Siapa yang tega melakukannya?

Hendak belok, tapi malah ada truk besar, dia terpaksa banting setir.

Ciiiittttt ….

“Akkkkkkkk!!”

BRAKKK

Mobil itu menabrak pohon. Asap mengepul dari kap mobil disusul percikan-percikan kecil.

Seketika darah mengalir di kepalanya. Napas Yasmin pendek-pendek.

Bergetar, Yasmin mengangkat tangannya yang sudah berlumur darah, hendak menggapai jendela kacanya yang pecah, tapi tak mampu.

Air matanya mengalir. Bayangan wajah ayah, ibu, dan kakaknya terpampang jelas. ‘Pa, Ma, Kakak, aku akan menyusul kalian.’

Lalu, Yasmin membayangkan kalau saat ini Langit pasti sedang bercumbu dengan wanita itu, disaat dia hampir kehilangan nyawa.

‘Takdir begitu kejam padaku sampai menghadirkan laki-laki sepertimu, Langit.’

Gelap!

Sekian saat, Yasmin sudah terbaring di rumah sakit. Kepalanya diperban, rahang, dagu, juga ada perban. Tangan kakinya terluka. Bisa dikatakan mendapat keberuntungan karena tidak ada luka dalam serius.

“Untung saja pasien tiba tepat waktu. Sekarang kondisinya sudah stabil.”

“Terima kasih, Dok.” Pria itu mengangguk kecil saat dokter berlalu pergi.

Kini, di ruang rawat VVIP.

Raka mendekat. “Untung saja ada yang menolongmu, Yas. Aku benar-benar ketakutan saat tahu kamu kecelakaan. Aku nggak sanggup kehilanganmu. Lain kali, jangan bawa mobil sendiri. Aku nggak sanggup lihat kamu yang sekarang. Kalau bisa, aku ingin sekali menggantikan posisimu.” Matanya dibuat sendu.

Yasmin diam dengan tatapan kosong dan mata berkaca-kaca. “Kenapa aku tidak mati saja? Dia selingkuh, Raka. Dia selingkuh disaat aku berusaha setia meski pernikahan ini pait.” Suaranya serak parau.

Derit pintu terdengar lirih, tapi Raka menyadarinya. Tidak dengan Yasmin.

“Aku akan bantu melepas bajumu yang kotor ini. Kamu ganti ya?” Raka sengaja mengeraskan suaranya, dengan ekor mata melirik arah pintu yang kini sedikit terbuka.

Dia sengaja memantik api. Mengeruhkan pikiran seseorang.

Lalu, Raka mencondongkan tubuhnya pada Yasmin yang duduk bersandar. Masih ada jarak, tapi akan terlihat intim dari arah pintu.

Tetapi, justru ditahan oleh tangan Yasmin yang lemah.

“Nggak perlu!” Sangat lirih dan hanya didengar mereka saja.

Raka menatap kecewa dengan penolakan itu. “Ya sudah, nanti aku akan suruh perawat. Istirahatlah.”

Meski Yasmin menyukai Raka, tapi dia tahu batasan. Apalagi statusnya adalah istri orang, dia tak mau dikatakan murahan oleh Langit.

Di balik pintu itu, ada Langit yang datang dengan wajah sangat cemas. Dia sengaja menahan langkah saat melihat di dalam ada laki-laki yang selama ini dicintai istrinya.

Napasnya berat tertahan, tangannya mengepal kuat.

Saat mendapat kabar istrinya kecelakaan, dia membatalkan meetingnya di luar kota. Lalu, langsung terbang dengan heli. Berlari agar bisa cepat melihat kondisi istrinya.

Dia bahkan tak peduli dengan kerugian akibat membatalkan meeting itu.

Langit bahkan tidak sadar kalau ponselnya ketinggalan di suatu tempat.

“Pak, ponsel Anda ketemu. Terjatuh dan ditemukan Mira,” bisik asistennya.

“Terjatuh? Kapan aku ceroboh?” pekik lirih Langit, masih tetap menatap tajam arah dalam.

“Saya sudah memeriksa riwayat panggilan terakhir yang sengaja dihapus. Nyonya Yasmin memanggil dan diangkat. Waktunya tepat saat kecelakaan.”

Mata Langit menegang. Soal Yasmin terluka, dia tak pernah kasih ampun pada siapa pun. Lalu, ekor matanya melirik tajam dan memberi perintah.

Asisten itu mengangguk.

Langit kembali fokus menatap tajam ke celah pintu, dengan dada bergetar hebat dan tangan kembali terkepal.

“Kamu akan menunggunya? Yakin dia akan datang?” Raka sengaja bertanya.

Yasmin menghentak tawa miris kecewanya. “Dia pasti menungguku mati dulu baru datang. Dan mana mungkin dia mau meninggalkan wanita itu, hanya karena mendengar kabar aku kecelakaan. Bukannya bercinta dengan wanita itu lebih menarik dari pada melihat istrinya terluka?”

Di sana, dada Langit tersentak. Sebenarnya apa yang terjadi? Panggilan yang dihapus itu, apa yang dikatakan orang yang mengangkatnya?

Langit hendak mendorong pintu, tapi tertahan lagi.

“Kalaupun dia datang, aku nggak mau melihatnya. Usir saja dia!”

Langit membuang napasnya lirih dengan menekan rahang. Dia kembali menahan diri. Ya, setidaknya dia sudah melihat istrinya selamat dan tidak ada luka dalam.

Raka yang duduk di kursi samping ranjang langsung menggenggam jemari Yasmin. Wajahnya dibuat cemas.

“Tenang, Yasmin. Kamu masih punya aku yang bersedia melakukan segalanya buatmu. Jadi, jangan merasa hidupmu tidak ada artinya lagi. Kamu baru saja selamat dari maut. Dokter bilang jangan ada guncangan emosi.”

Air mata Yasmin luruh. “Bagaimana aku nggak emosi. Suamiku tega bercinta dengan wanita lain.”

Umpan bagus! Raka sudah membuka mulutnya, tapi kata-katanya gagal keluar.

Pintu dibuka kasar.

Langit menghentakkan pantofelnya begitu keras. Napas pria itu memburu, wajahnya merah padam menahan badai emosi di dadanya. Dia tak mau menahan diri lagi, tidak mau Raka makin menjejali Yasmin dengan omong kosong.

Matanya langsung tertuju pada perban dan luka-luka lebam istrinya. Perban di kaki dan tangan juga. Kepalan tangannya makin menguat.

Yasmin tersenyum sinis melihat kedatangan Langit, lalu memalingkan wajahnya kesal.

Raka lekas berdiri, sengaja menghalangi tatapan Langit pada Yasmin. “Dokter bilang tidak boleh membuat pasien marah, karena akan mempengaruhi pemulihannya. Langit, Yasmin baru saja sadar dan masih syok karena kecelakaannya. Beruntung tidak ada luka parah, tapi bukan berarti kamu bisa bersikap sembarangan.”

Langit tidak menatap Raka, sorot matanya tetap pada Yasmin. “Baguslah kalau kamu tidak apa-apa.” Dia menghembus nafasnya pelan.

Yasmin tertawa sumbang. “Kamu kecewa? Kecewa kalau aku masih hidup?” Senyum kesal.

Langit menatap dalam pada manik mata Yasmin. Dadanya bergejolak tak karuan. Mulutnya sudah sedikit terbuka hendak bicara, tapi suaranya tercekat. Lalu, membuang napasnya.

— Akhir Chapter —