Yasmin beralih melirik Raka. “Raka, tolong siapkan surat cerai untukku!”
“Tentu saja.” Raka mengangguk cepat dengan senyum culas tipis yang tertahan.
Mata Langit menegang sampai otot lehernya menyembul. “Dua tahun kita menikah, tapi kamu masih saja percaya dengan orang lain ketimbang suamimu sendiri.”
“Raka bukan orang lain bagiku! Dan kamu! Bukannya kamu juga selalu sibuk dengan wanita itu? Sibuk bercinta!” cepat Yasmin menyahut.
Langit menarik napas dalam, agar emosinya tak meledak. “Tidak akan ada perceraian di antara kita, Yasmin. Meski kamu akan membenciku sampai mati!”
“Kamu– … uhukk uhukk!” Yasmin hendak membalas, tapi dia justru terbatuk-batuk dan memegang dadanya.
Satu kaki Langit sudah maju dengan wajah cemas, tapi langsung urung karena Raka sudah lebih dulu bergerak memegang Yasmin.
Dengan napas sesak di sela batuknya, Yasmin menatap sengit Langit. “Suruh orang ini keluar! Aku tidak mau melihat wajahnya lagi!”
Raka tersenyum sinis. “Sudah dengar sendiri, kan?”
Langit langsung berbalik dengan wajah geram, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Demi ketenangan emosional Yasmin, dia mundur kali ini.
Setelah kepergian Langit.
Raka memberikan air putih sampai Yasmin tenang.
“Polisi sudah memeriksa bangkai mobilmu. Ini bukan kecelakaan biasa. Seseorang sengaja memotong kabel remnya.”
Yasmin menoleh lambat, menatap Raka dengan mata memerah. “Siapa?”
Raka menghela napas berat, lalu memegang pelan tangan Yasmin. “Siapa lagi yang punya akses ke mobilmu? Tentu saja Langit. Suamimu sendiri yang melakukannya.”
Yasmin diam mematung. Dadanya makin sesak.
Sebenarnya, Raka adalah kekasih Yasmin. Cinta mereka tak bisa bersatu karena Yasmin dijodohkan dengan Langit.
Ayah Yasmin tidak menyukai Raka karena tahu Raka bukan pria baik-baik. Makanya ayahnya Yasmin terus menolak lamaran Raka.
Sedang Langit adalah seorang pimpinan perusahaan yang juga junior ayahnya Yasmin dalam dunia bisnis, dan sangat dipercaya olehnya.
Langit pernah berkali-kali ditolong ayahnya Yasmin di saat perusahaannya kritis. Sebagai imbalan, ayah Yasmin ingin Langit menikahi Yasmin dan menjaganya.
Karena hutang budi, Langit tetap menerima perjodohan itu, meski mendapat penolakan dan kebencian Yasmin.
Dan selama ini, kata-kata lembut Raka bak sihir yang mampu mengendalikan pemikiran Yasmin.
Yasmin yang memang sejak awal tidak menyukai perjodohan itu, memilih lebih percaya pada pria yang selama ini jadi orang terdekatnya–Raka.
Apalagi kesan pertama saat bertemu dengan Langit, begitu menyebalkan. Langit adalah pria arogan, kaku, terkenal angkuh, kejam. Tak ada kata manis, apalagi lembut dan romantis.
Bagaimana Yasmin akan percaya dengan Langit begitu mudah? Tidak mungkin.
“Dia ingin melenyapkanmu. Coba kamu ingat-ingat lagi. Kecelakaan mendadak Kakakmu. Papamu yang sehat juga tiba-tiba serangan jantung. Mamamu sampai depresi berat dan harus dirawat. Semua itu terjadi berurutan dan mencurigakan. Pria itu serakah. Langit ingin menguasai seluruh harta keluargamu agar bisnisnya semakin raksasa.”
Air mata Yasmin menetes. Bayangan Langit yang selalu galak, suka mengatur dan kejam melintas di benaknya. Bahkan Langit pernah tega mengurungnya di kamar selama dua hari, meski tetap dengan fasilitas lengkap. Pernah tiba-tiba mempengaruhi ayahnya agar membatalkan kerja sama. Semua potongan ingatan itu tersambung karena ucapan Raka. Lalu, wanita itu mencengkram selimut dengan napas memburu.
“Tetap siapkan surat cerai dan pengacara untuk kuasa harta keluargaku, Raka!”
Raka terdiam, lalu menggeleng pelan. “Jangan cuma bercerai, Yasmin. Langit itu berkuasa. Kalau kamu cuma minta cerai, dia bisa dengan mudah menyingkirkanmu lagi nanti. Sebelum kamu pergi dari hidupnya, kamu harus menghancurkan bisnisnya terlebih dahulu. Buat dia tidak punya apa-apa lagi.”
Yasmin mengeratkan rahangnya. “Aku bersumpah akan menghancurkannya. Dia harus membayar mahal semua yang dilakukannya ini!”
Mendengar itu, Raka langsung bersandar kembali ke kursinya. Dia menunduk, menyembunyikan senyum puas. Rencananya berjalan tanpa cela.
Satu bulan setelah keluar dari rumah sakit, Yasmin menggunakan sisa kesehatannya untuk bergerak diam-diam.
“Sepertinya di sini.”
Wanita itu sedang berada di ruang kerja Langit.
Rasa benci yang membakar dadanya membuat dia nekat membobol brankas di ruang kerja Langit, di rumah itu. Dia menyalin seluruh data rahasia perusahaan, dan nantinya akan diserahkan pada Raka.
“Berhasil!” Yasmin tersenyum lebar. “Aku akan membalas dendam semua kejahatan yang kamu lakukan padaku dan pada orang tuaku, Langit.”
“Sedang apa?”
Yasmin berjingkat kaget dan langsung berbalik. Matanya melebar tegang saat melihat siapa yang ada di depannya kini. “Langit? Kapan, kamu datang?” Jantungnya berpacu cepat. Jangan-jangan, dia sudah ketahuan.
Langit berdiri di belakang Yasmin dengan dua tangan masuk saku. Wajahnya datar dengan tatapan tajam, ekor matanya sebentar melirik gerak cepat tangan Yasmin yang menyembunyikan sesuatu di saku celananya.
“Kenapa kamu ada di sini?” Langit mengikis jarak, dengan sorot matanya tak lepas pada Yasmin.
Wanita itu gusar, tapi tetap mencoba untuk tenang. Lalu mengulas senyum tipis. “Ehm, aku mencarimu. Nggak ketemu di manapun, lalu aku kemari.” Membuang nafas tipis, dengan sorot mata tak fokus, apalagi pria itu semakin dekat dengannya.
Tak! Hentakan terakhir pantofel itu tiba di depan Yasmin.
Satu sudut bibir Langit berangkat tipis. Lalu, dia sengaja merengkuh pinggang Yasmin dan menghentak ke dadanya.
“Akhh!” Mata Yasmin menegang. “Lang-Langit. Apa yang kamu lakukan?”
Langit melebarkan senyumannya. Dia memajukan wajahnya hingga tersisa jarak sekian senti.
Yasmin menahan nafasnya sekian detik saat hembusan nafas Langit menerpa wajahnya.
“Bukankah tadi kamu bilang mencariku? Malam begini, mencariku untuk apa kalau bukan–”
“Tidak!” Yasmin cepat menyentak. Yang ada dalam pikirannya, pasti Langit akan mengajaknya melewati malam panas. “Aku nggak suka bekas wanita lain. Kamu bercinta saja sama wanita itu!”
Langit menghentak tawanya. “Tapi, bukankah kita belum melewati malam pertama?”
Yasmin semakin panas dingin. Wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. Bagaimana tidak? Aroma maskulin Langit semakin membuatnya hilang fokus. Sekian tahun dekat dan mencintai Raka, dia tidak pernah terlalu dekat seperti itu.
Yasmin bukan wanita polos, tapi dia wanita berprinsip yang selalu menolak jika diajak berciuman dengan Raka. Alasannya, nanti kalau sudah jadi suami istri sah.
Yasmin tak kuat lagi. Dia mendorong kuat dada bidang itu. “Aku akan bicara lagi padamu besok!”
Wanita itu langsung keluar.
Sedang raut wajah Langit langsung berubah gelap, dan tak mau menunggu lama lagi dia menghubungi asistennya.
*BULAN JULI
Rencana demi rencana berjalan lancar karena data rahasia yang dicuri Yasmin.
“Kamu benar-benar hebat, Yasmin. Kali ini Langit benar-benar akan hancur.” Raka tertawa puas.
Di sebuah kafe, Yasmin sedang bertemu dengan Raka dan Vira.
Yasmin mendesis. “Ini belum seberapa dibandingkan dengan nyawa Papa, Kakak, dan penderitaan mamaku.”
Lalu Raka dan Vira saling lirik.
“Ehem! Lalu, ini semua berkas-berkas yang harus kamu tanda tangani. Semua harta keluargamu akan resmi jatuh ke tangannya. Saham mendiang Papa dan kakakmu, lalu Mamamu juga akan dialihkan namamu. Setelah itu, kamu akan mulai memimpin perusahaan sendiri. Bukan Langit lagi.” Raka menekan kata-katanya.
“Langit benar-benar licik. Dia mengambil alih kursi pimpinan mendiang ayahmu. Dengan alasan kamu masih kurang kompeten. Buktikan sama dia kalau kamu juga mampu, Yas! Lagian, kamu kan punya Raka. Biar dia yang membantumu sepenuhnya.” Vira menambah provokasi.
Lalu, tanpa ragu, Yasmin menarik tumpukan kertas itu, membaca sekilas, lalu memberikan tanda tangan satu per satu pada tempatnya.
“Masih kurang satu, Yas.” Raka hanya membuka setengah lembar ditumpukan kertas paling bawah.
Bermodal kepercayaan, Yasmin langsung memberikan tanda tangan dan stempel.
Sedang Raka dan Vira langsung melempar lirikan dengan senyuman puas.
- Akhir Chapter -