← Kembali ke Detail

3. Jangan di Sini

Saat Istri Dingin Tiba-Tiba Minta Tidur Bersama 5 menit · 967 kata · Chapter 3/98

Chapter 3 / 98 · 3%3. Jangan di Sini
Ukuran huruf
18px

“Ahhhh, Raka. Jangan di sini … nanti ketahuan …,” desah Vira sambil mengalungkan lengan di leher pria itu.

Raka terkekeh, mempererat pelukannya pada pinggang Vira. “Kenapa? Kamu takut Yasmin tiba-tiba datang? Wanita munafik yang bahkan nggak mau berciuman itu bukan ancaman kita lagi. Selama ini, aku sudah cukup bersabar menghadapi wanita yang sok jual mahal sepertinya. Untung selama ini ada kamu yang selalu memuaskanku.”

“Kamu benar. Biar saja dia datang dan lihat. Lagipula si bodoh itu nggak akan sadar kalau sebenarnya kita lagi senang-senang di sini.” Vira mendongak, memajukan bibirnya manja.

“Iya, kan?” Raka berbisik di depan bibir Vira. “Dia terlalu sibuk meratapi nasib, sampai lupa kalau semua miliknya yang berharga itu sudah jatuh ke tangan kita. Ha ha ha ha ha …. Untung dia nggak sadar saat tanda tangan terakhir itu.”

Tubuh Yasmin seketika menegang kaku. Matanya membeliak tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.

Sore itu, Vira dan Raka mengundang Yasmin untuk bertemu di sebuah villa untuk merayakan hancurnya Langit.

Hanya saja, Yasmin tiba satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan.

Tadi, Yasmin melangkah tanpa suara menuju area rooftop, berniat memberi kejutan. Tetapi, justru dirinya yang terkejut.

‘Ternyata seperti ini kalian di belakangku selama ini,’ batin Yasmin, miris.

“Kamu hebat banget bisa bikin Yasmin percaya sampai segininya, Sayang.” Vira mengusap pipi Raka, lalu tertawa kecil.

“Dia itu bodoh. Menelan mentah-mentah semua kebohonganku soal Langit. Dia benar-benar mengira Langit yang memotong rem mobilnya kemarin.”

Yasmin membekap mulutnya sendiri. Air matanya langsung luruh. Pria yang dia cintai sejak remaja, dan sahabat tempatnya berbagi keluh kesah selama ini, ternyata sedang menertawakan kebodohannya di atas penderitaannya. Dadanya terasa begitu sesak, rasanya tak kuat menahan semua kenyataan itu.

“Rem mobil itu benar-benar hampir membunuhnya, Raka.”

“Ya, sayangnya dia masih selamat. Harusnya dia bernasip sama seperti kakaknya yang mati kecelakaan, Papanya yang kena serangan jantung karena obat yang kuberikan, dan Mamanya yang jadi gila karena kucuci otaknya. Tapi tenang saja, semuanya sudah kurencanakan dengan rapi. Sebentar lagi, seluruh aset keluarga Yasmin resmi pindah ke tanganku, dan tinggal membuang wanita sialan itu.”

Yasmin gemetar hebat mendengar pengakuan jujur dari mulut Raka. Ketakutan dan rasa bersalah yang luar biasa kini mencabik-cabik hatinya.

“Lalu bagaimana dengan Langit? Kamu yakin dia bakal datang?”

Raka tersenyum licik. “Dia akan mati sebentar lagi. Aku meneleponnya dan bilang kalau dia tidak datang segera, istrinya akan kulempar dari tebing ini. Langit yang sangat mencintai Yasmin itu, sekarang pasti sedang ngebut kemari tanpa berpikir panjang.”

Vira tertawa kesal. “Kalau bukan karena Langit yang selalu ikut campur melindungi Yasmin diam-diam, rencana kita sudah berhasil sejak dulu.”

Dada Yasmin berdenyut sangat sakit. Dia memegang dadanya yang begitu sesak.

Bagaimana bisa dia begitu buta selama dua tahun ini? Pria yang dia maki, yang dia benci setengah mati, yang dia hancurkan, justru bertaruh nyawa demi menyelamatkannya.

Untung saja, sejak tadi dia merekam semua apa yang mereka katakan. Meski tangannya gemetar.

Yasmin menarik nafasnya.

“Kalian, Dua iblis!” teriak Yasmin, sambil melangkah lebar mendekat.

Raka dan Vira tersentak, menoleh bersamaan.

Bukannya panik, Raka justru tersenyum lebar dan berdiri tegak. Vira bahkan melipat dua tangannya di dada.

“Wah, Si bodoh sudah datang lebih cepat rupanya. Opss, ternyata kita sudah ketahuan, Sayang.” Vira tertawa keras, remeh.

“Aku punya rekaman ini!” Yasmin mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dengan air mata yang terus mengalir. “Dan aku akan laporkan kalian ke polisi! Kalian berdua akan membusuk di penjara!”

Raka justru tertawa lantang. Dia melangkah maju tanpa rasa takut sedikit pun, lalu menunjuk ke arah jalanan berliku di bawah sana.

“Silakan lapor polisi, Yasmin sayang. Tapi sebelum itu, coba kamu tengok ke bawah sana. Saksikan sendiri kematian suamimu yang bodoh itu. Ha ha ha ha ha ….” Raka tertawa lantang.

Yasmin menoleh ke arah yang ditunjuk Raka. Di jalanan bawah tebing sana, sebuah mobil hitam yang sangat dia kenali sedang melaju dengan kecepatan tinggi, membelah tikungan tajam.

“Langit?” Matanya membelalak. Dia panik. Lalu, Yamin maju terus sambil teriak, “Langit, jangan kemari! Pergi! Langit!! Kumohon jangan ….”

Vira tertawa lantang geli. “Bodoh! Mana mungkin dia dengar. Dengar Yasmin. Pria bodoh itu langsung datang tanpa pikir panjang begitu mendengar istrinya yang selama ini jahat dan berdarah dingin padanya sedang dalam bahaya.”

Hati Yasmin semakin hancur berkeping-keping. Rasa bersalahnya pada Langit bertumpuk, sangat menyiksanya.

Ternyata, dia telah menghancurkan pria yang tulus melindunginya, demi pasangan pengkhianat yang menghancurkan keluarganya.

Raka mengangkat tangannya, mulai menghitung mundur dengan senyum lebar. “Lima … empat … tiga … dua … satu.”

BRAKKK!

Mobil Langit tiba-tiba terbalik.

“Langiiiiitttttttt!! TIDAAAAKKK!!” Yasmin menjerit histeris. Dia berlari sekencang mungkin menuju tepi rooftop, mencengkeram pembatas besi dengan air mata deras “Langit! Maafkan aku, Langit!! Maafkan aku ….”

Tangisan Yasmin pecah, meraung-meraung saat menatap kepulan asap dari mobil Langit di bawah sana. Suaminya celaka di depan matanya sendiri karena kebodohannya.

Di saat Yasmin sedang meraung-raung meratapi penyesalannya, sepasang tangan tiba-tiba mendorong bahunya.

“Sana menyusul suamimu!”

“Akhh!” Yasmin terpekik kaget saat tubuhnya melayang melewati pembatas tebing.

Tubuh Yasmin menghantam batu di bawah sana dan langsung bersimpah darah.

Dari atas rooftop, Raka dan Vira berdiri berdampingan, menatap Yasmin yang sekarat dengan tawa puas.

Dalam sisa napasnya, Yasmin menatap pasangan laknat itu dengan air mata bercampur darah.

‘Langit … Papa … Kak Davin … Mama … maafkan aku. Aku yang membawa petaka untuk kalian… aku yang bodoh.’

Pandangannya mulai menggelap

‘Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menghancurkan kalian Raka, Vira. Dan aku akan menebus semua dosaku pada Langit.”

Napasnya terhenti ….

***

“Langit! Hah!”

Mata Yasmin terbelalak. Dia terduduk tegak di atas ranjang dengan napas memburu dan keringat dingin. Tangannya spontan mencengkram dada, merasakan jantungnya yang berdetak kencang dan menyakitkan, seolah baru saja lolos dari maut.

“A-aku–aku ….”

Yasmin mengedarkan pandangan ke sisi ruang dengan nafas masih tersengal-sengal.

Dia masih linglung.

Tidak tergeletak di samping Villa, tidak ada darah. Dia justru berada di dalam kamarnya sendiri.

“Apa ini mimpi? Atau aku …?”

— Akhir Chapter —