“Awwhh!” Yasmin memekik saat menahan sakit karena mencubit kuat pipinya sendiri.
Ini bukan mimpi. Matanya menegang.
Yasmin lekas mengedar sisi ruang. Itu memang kamarnya.
Matanya tertuju pada nakas, menatap ponselnya yang tergeletak di sana.
Jantungnya berdetak makin kencang. Itu ponsel lamanya, ponsel yang dia hancurkan enam bulan lalu karena dilempar saat bertengkar hebat dengan Langit.
Tangannya gemetar menyambar ponsel itu dan menyalakan layarnya. Matanya melotot tegang menatap waktu yang terpampang di layar.
Minggu, 5 Januari.
Yasmin membekap mulutnya. Tubuhnya gemetar. “A-aku masih hidup? A-aku tidak mati?”
Hampir tak percaya dengan apa yang yang terjadi pada dirinya.
Belum selesai Yasmin mencerna situasi gila yang sedang dialaminya, pintu kamar dibuka dari luar tanpa ketukan.
Yasmin berdiri kaku, menatap siapa yang muncul. “Langit?” Matanya berkaca-kaca. Dadanya bergetar hebat.
Terakhir kali dia melihat pria itu mati di depan matanya dan juga karena kebodohannya.
Langit masuk, lalu menatap Yasmin dengan wajah datar dan dingin seperti biasa. “Jangan lupa kamu harus—”
Tanpa peringatan, Yasmin langsung berlari kencang dan menghambur ke pelukan Langit, memeluk sangat erat.
“Hah!” Langit tersentak kaget mendapat serangan pelukan mendadak itu.
Matanya melebar tegang, seluruh tubuhnya mendadak kaku, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Dua tangannya menggantung kaku, tidak tahu harus diletakkan di mana.
Ini kali pertamanya Yasmin memeluknya selama pernikahan mereka.
‘Apa yang dia lakukan? Apa dia sudah gila?’ batinnya. Langit menelan ludah berkali-kali karena jantungnya yang berdetak tak karuan.
Yasmin memejamkan mata erat-erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Langit.
Ini benar-benar nyata. Yasmin tak kuasa menahan gelombang rasa kebahagiaannya. Bisa bangkit dari kematian, mendapatkan kesempatan kedua, dan melihat Langit masih hidup.
‘Aku senang bisa melihatmu lagi. Aku benar-benar bahagia kamu belum mati. Maafkan aku, Langit,’ jerit Yasmin dalam hatinya.
Langit masih belum paham dengan situasi aneh ini. Jadi, dia tak mau bahagia dulu. Pelukan mendadak itu justru membuatnya waspada. Mana mungkin Yasmin, wanita yang selalu membencinya, mau memeluknya seerat ini.
“Yasmin.” Langit hendak mendorong bahu Yasmin untuk minta penjelasan, tapi gerakannya terhenti saat mendengar suara isakan.
Yasmin sedang menangis tergugu di dadanya?
Langit jadi gusar. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Yasmin. Apa yang sedang kamu lakukan? Trik apa lagi sekarang? Mau merayuku agar mengijinkanmu pergi liburan dengan Raka dan Vira?” Kata-kata itu yang keluar, tapi memang sesuai fakta saat ini.
Deg.
Mata Yasmin menegang mendengar nama-nama itu disebut. Pelan dia melepaskan pelukannya, lalu mendongak menatap wajah Langit dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
Dahi Langit berkerut dalam melihat mata istrinya yang sembap dan merah.
Yasmin benar-benar menangis, bukan sedang berpura-pura.
Langit menghela napas berat, meredam rasa penasarannya. “Kamu menangis karena aku belum mengijinkanmu pergi dengan laki-laki itu? Dengar, Yasmin. Papamu memberiku tanggung jawab penuh untuk menjagamu. Dia juga memberiku wewenang penuh soal dirimu. Meski kamu pakai trik menangis seperti ini, itu tidak akan mengubah keputusanku.”
Yasmin justru tersenyum tipis di sela tangisnya. Dia tersenyum karena merasa terharu masih bisa menyaksikan sikap galak dan dingin Langit.
“Aku tidak akan liburan dengan Raka.”
Langit terdiam dengan dahi berkerut dan senyum miring tak percaya. Semudah itu Yasmin mengatakan tak akan pergi dengan Raka? Apa ini Yasmin istrinya? Langit sampai takut salah mengenali.
“Kamu salah minum obat?”
Yasmin tersenyum tipis kaku. “Jangan khawatir, aku tidak bercanda dengan apa yang aku katakan ini. Dan aku masih Yasmin istrimu.” Seolah paham apa yang ada di pikiran Langit.
Langit memang suami yang dipilihkan oleh keluarganya. Selama pernikahan ini berjalan, Langit justru lebih mirip seperti bodyguard yang kaku baginya daripada seorang suami.
Mereka tidak tidur satu kamar, tidak pernah makan bersama, jarang sekali bicara, dan jika sekalinya bicara, ruangan pasti akan dipenuhi oleh perdebatan panas yang melelahkan.
Yasmin menarik napas dalam-dalam, lalu menyeka sisa air mata di pipinya.
5 Januari. Hari Minggu. Sore hari.
Di kehidupan sebelumnya. Hari ini, Yasmin mengamuk hingga melempar ponsel karena Langit melarangnya pergi berlibur bersama Raka dan Vira.
Dan sekarang, dia sudah mengubahnya. Pertengkaran hebat itu tidak terjadi. Dia lalu membuang napas lega.
Alasan Langit saat itu karena lusa adalah hari ulang tahun Oma, nenek Langit, satu-satunya anggota keluarga suaminya yang tersisa.
Suaminya itu sudah yatim piatu sejak kecil. Dia hanya ingin Yasmin bersikap seperti istri normal sebentar saja agar neneknya senang, tapi kalau itu Yasmin justru bilang tak sudi!
Dan sekarang, Yasmin begitu lega, bisa mengubah hal itu. ‘Awal yang bagus!’ batinnya.
“Hapus air mata tak jelasmu itu dan turun sekarang! Papamu ada di bawah.” Langit memutar tubuhnya tanpa menunggu respon.
Papa?
Bibir Yasmin bergetar, dia tersenyum tipis. Di kehidupan lalu, sang ayah meninggal dengan tragis karena dia yang membangkang.
Tanpa membuang waktu, Yasmin langsung berlari keluar kamar. Dia bahkan lupa mengenakan alas kaki.
Sampai mata Langit melebar saat Yasmin menabrak bahunya karena wanita itu berlari terburu-buru.
Begitu sampai di lantai bawah, dia menangkap menangkap sosok pria paruh baya berjas rapi yang berdiri di dekat sofa.
“Papa!” Yasmin langsung menubruk memeluk sang ayah erat-erat.
Baskara tersentak, sampai sedikit oleng karena dorongan mendadak itu. Namun, pelan dia tersenyum tipis. Sudah lama anaknya itu tidak memeluknya. Lalu, tangan menepuk-nepuk pelan punggung Yasmin.
‘Akhirnya aku bisa melihatmu lagi, Pa. Aku senang Papa masih hidup. Dan aku tidak akan membiarkan Papa meninggal tragis,’ batin Yasmin.
Dari lantai atas, Langit berdiri dengan dua tangan dimasukkan ke saku. Matanya memicing tajam, mengunci pemandangan di bawah dengan tatapan tak percaya.
- Akhir Chapter -