‘Wanita ini benar-benar tidak bisa ditebak. Biasanya, melihat bayangan Papanya saja dia sudah kesal karena Papanya pasti akan mengungkit soal Raka. Sandiwara apa lagi yang sedang disiapkannya?’ batin Langit dingin, rahangnya menegang. Dia justru sedang khawatir kalau-kalau Yasmin sedang ingin melakukan sesuatu pada ayah mertuanya itu. Pura-pura baik, lalu menjebak.
Di sana, Baskara membawa Yasmin ke ruang samping yang lebih privat.
“Oma Sarah menemui Papa tadi pagi. Beliau memohon agar Papa melepaskan Langit, dan ingin kalian berdua bercerai. Ini imbas Oma Sarah drop gara-gara kamu. Papa sudah bilang, setidaknya minta maaf baik-baik, tapi kamu selalu membuat Papa kecewa.”
Dada Yasmin tersentak. Di kehidupan sebelumnya, adegan ini juga terjadi, hanya saja dengan suasana yang jauh berbeda, dan di tempat berbeda.
Kala itu, Yasmin bersorak senang dan langsung menyetujui ide perceraian tersebut.
Baskara menatap dalam manik mata putrinya. “Kalau kamu masih menganggap Papa sebagai orang tuamu, jangan pernah berpikiran untuk bercerai dari Langit. Dia pria baik yang bertanggung jawab. Papa tidak asal memilihkanmu suami!”
“Aku tidak akan bercerai dengannya, Pa.”
Baskara tertegun. Matanya melebar, terkejut. Putrinya yang biasanya akan meledak-ledak atau mengamuk menolak dinasihati, kini semudah itu bilang tidak akan bercerai?
“Tapi aku minta waktu. Aku sendiri yang akan menjelaskan dan meluluhkan hati Oma Sarah.” Yasmin bicara dengan wajah tenang, tampak lebih dewasa, sangat jauh berbeda dengan Yasmin yang dulu.
Baskara mengamati wajah dan sorot mata putrinya. Tidak ada lagi bara emosi atau sifat kekanak-kanakan.
“Bagus kalau kamu mulai dewasa. Datanglah ke acara ulang tahun Oma besok. Jika kamu absen lagi kali ini, jangan salahkan Oma Sarah kalau beliau makin keras menuntut perceraian kalian. Dan kalau sampai itu terjadi, jangan anggap Papa ini ayahmu lagi.”
Setelah mengantar ayahnya pergi, Yasmin melangkah ke dapur untuk mengambil air minum, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang.
Di dalam dapur, seorang pembantu wanita paruh baya sedang tergesa-gesa membawa piring berisi lauk berkuah. Karena terlalu panik mendengar langkah kaki Yasmin , sang nyonya kejam mendekat, pembantu itu tersandung kakinya sendiri.
PRANGGG ….
Piring terlepas. Kuah hangat menyiram bagian depan baju Yasmin.
“A-ampun, Nona! Ampun!” Pembantu itu seketika menjatuhkan diri ke lantai, bersimpuh dengan tubuh gemetar hebat dan wajah pucat pasi.
Yasmin pun kaget dengan dua tangan terangkat.
Dulu, kalau ada hal seperti ini, tanpa ragu Yasmin akan menyiramkan sisa kuah panas itu ke wajah sang pembantu dan memecatnya hari itu juga.
Kini, Yasmin menarik napas panjang, tanpa ekspresi marah sedikit pun. Justru tampak tenang. Lalu, dia sedikit membungkuk.
“Tidak apa-apa, Bi. Aku tidak terluka. Bersihkan saja lantainya supaya tidak ada yang terpeleset,” ucap Yasmin, suaranya terdengar tenang.
Pembantu itu mendongak kaget, matanya berkedip-kedip seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri. “No–Nona ... ti-tidak marah?”
“Bersihkan saja,” ulang Yasmin tipis, lalu berbalik meninggalkan dapur.
Di ambang pintu, Langit berdiri bersandar pada bingkai kayu dengan dua tangan bersedekap. Sorot matanya sangat tajam, menatap jeli pergerakan Yasmin. Sedari tadi, Dia melihat semua adegan itu, dan menjadi semakin heran dengan sikap istrinya.
‘Pembantu menumpahkan kuah dan tidak mengamuk? Sejak kapan iblis kecil ini punya kesabaran?’ batin Langit, senyum sinis tipis terukir di bibirnya.
Yasmin menghentikan langkah tepat di hadapan Langit. “Langit?”
Lalu, pria itu menyipitkan mata, menatap Yasmin dari atas ke bawah.
“Peran baru apa yang sedang kamu mainkan? Malaikat penolong? Istri penyabar? Atau rubah ekor sembilan?”
Yasmin menatap dalam manik mata Langit, tidak memaki-maki balik dan membuang muka seperti yang biasa dia lakukan saat berselisih. “Aku hanya tidak ingin membuang energi untuk hal yang tidak penting. Ada yang salah?”
“Ha tidak penting?” Langit terkekeh dingin, maju selangkah, dan mendekatkan wajahnya sedikit. “Wanita yang biasanya menghancurkan barang-barang mahal hanya karena permintaannya terlambat datang, sekarang bicara soal efisiensi energi? Jangan membuatku tertawa, Yasmin.”
Yasmin tak mundur sedikit pun. Dia menegakkan bahunya, membalas aura dominan Langit. Wajahnya dibuat tenang. “Orang bisa berubah, Langit. Atau kamu lebih suka aku berteriak dan melempar piring seperti biasanya? Maaf, aku sudah bosan melakukan hal seperti itu.”
Langit terdiam seketika. Lidahnya mendadak kelu. Tatapan mata Yasmin saat ini benar-benar berubah.
“Aku akan ganti baju dulu. Nanti kita makan malam bersama.”
Lagi. Langit dibuat syok. Belum pernah mereka makan bersama. ‘Apa dia istriku?’ batinnya.
Yasmin telah sampai di kamar.
Sekian saat, dia selesai mandi dan membalut dirinya dengan dress cantik warna nude.
Yasmin duduk di kursi rias sambil menyisir dan menatap pantulan wajahnya dalam cermin.
Di kehidupan lalu, semua orang menganggapnya wanita manja, kejam, liar, dan tak bisa diatur. Raka dan Vira menganggapnya boneka bodoh yang bisa dimanfaatkan. Sementara sikap dingin dan arogan Langit adalah tembok kokoh dalam menghadapi sikap buruknya di masa lampau.
Semua kekacauan, bermula dari kebodohannya sendiri.
Yasmin meletakkan sisirnya. Sorot matanya tetap dalam pantulan wajahnya yang datar.
‘Oma sudah murka dan menuntut perceraian. Dari mana dia harus mulai mengubah semuanya?’
Bercerai?
Tidak bisa!
Dia dan Langit tidak boleh bercerai. Jika mereka berpisah, Raka yang akan menang. Pria itu harus hancur dari segala sisi.
Yasmin menarik napas pelan. Untuk menghancurkan Raka, dia harus memulainya dari Langit. Dia harus berdiri di samping pria itu dan merebut kendali atas jalannya permainan.
Ponselnya berdering, membuyarkan lamunannya. Layar menyala, menampilkan nama Raka di sana.
Gemuruh emosi hebat seketika membakar dada Yasmin. Tangannya menyambar ponsel itu, lalu meremasnya kuat-kuat.
“Argh!” Yasmin mengangkat tinggi ponselnya, hendak membanting ke dinding, tapi seketika dia sadar dan berhasil menahan diri.
Lalu, dia meletakkan kembali ponsel itu tanpa mengangkat panggilan.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk.
— Akhir Chapter —