Wajah Caleb seketika berubah sangat muram. Dia menggenggam ponselnya beberapa saat, lalu akhirnya mengangkat telepon itu. "Pauline sayang, ada apa?"
Pauline sayang.
Mendengar panggilan itu, tangan Alicia yang sedang merobek roti seketika berhenti.
Entah apa yang dikatakan orang di seberang sana, tetapi suara Caleb terdengar luar biasa lembut.
"Tadi memang kehujanan, tapi aku nggak masuk angin. Tenang saja."
"Iya, aku dengarin nasihatmu, kok. Aku segera ganti pakaian kering."
"Jangan khawatirkan aku. Waktu aku nggak ada, jaga dirimu baik-baik, ya?"
"Kalau kamu suka roti dari tempat ini, nanti aku belikan setiap hari."
Tiba-tiba Alicia merasa roti di tangannya pun berubah menjadi pahit.
Begitu Caleb menutup telepon, ekspresinya yang tadi hangat kembali berubah menjadi suram. Dengan suara berat dia berkata, "Semalam penyakit Pauline kambuh lagi. Kamu juga tahu, setiap kali cuaca hujan, kondisinya pasti kambuh."
Alicia bertanya, "Kamu beli dua porsi roti dari tempat ini, ya?"
Pantas saja roti itu sudah dingin sekali. Ternyata Caleb mengantarkannya kepada Pauline lebih dulu, baru kemudian membawanya pulang.
Caleb tidak menyangkal.
Alicia bertanya datar, "Apa Pauline baik-baik saja?"
Kali ini Caleb menjawab, "Aku datang tepat waktu, jadi nggak terjadi hal yang serius. Tapi kondisi mentalnya sangat nggak stabil. Dia bisa kambuh lagi kapan saja."
"Jadi, mulai sekarang kamu juga akan terus berada di sisinya setiap saat, begitu?"
"Ya ...."
Alicia menatapnya. "Caleb, apa kamu seorang dokter? Apa kamu bisa menyembuhkan depresinya?"
Caleb juga mulai naik pitam. "Sudah berkali-kali aku bilang sama kamu! Dia menderita depresi karena aku menikah denganmu! Aku harus bertanggung jawab atas itu!"
"Kalau begitu bagaimana denganku? Aku ini istrimu. Lalu gimana tanggung jawabmu sama aku?"
Caleb menatapnya dengan sorot mata seolah dia sama sekali tidak masuk akal. "Kamu orang sehat, sedangkan dia orang sakit. Bagaimana mungkin kamu membandingkan dirimu dengannya?"
Sehat?
"Jadi, sehat itu juga sebuah kesalahan, ya?"
"Alicia, sejak kapan kamu berubah jadi seperti ini?"
"Seperti apa aku?"
"Dingin, egois, nggak peduli sama nyawa orang lain, berhati kejam!"
Alicia menatapnya dingin, lalu menarik napas panjang. "Gimana kalau suatu hari aku juga nggak sehat?"
Caleb mengernyit. "Memangnya kamu kenapa? Masih bisa bertengkar denganku sekeras ini, bukannya itu berarti energimu masih penuh?"
Alicia tersenyum. Dia menundukkan kepala dan memejamkan mata. Perlahan, dia mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat dari dalam dadanya.
Caleb berkata, "Alicia, bisa nggak kamu berhenti bikin keributan? Semalam aku hanya menyelamatkan nyawanya, itu saja."
Alicia tersenyum tipis, lalu mengangkat kepala dan menatap lurus ke matanya. "Untuk menyelamatkan nyawanya, apa kamu harus menciumnya?"
Ekspresi Caleb seketika berubah. Seolah kata-kata itu tepat mengenai titik paling sensitif dalam dirinya, dia langsung meledak. "Dia sedang kambuh waktu itu! Dia berdiri tepat di tepi atap gedung! Kalau aku menolaknya dan dia kehilangan kendali lalu benar-benar melompat gimana?!"
Alicia ikut berdiri. "Tapi kamu sudah memeluknya, bukan?! Kamu bisa saja langsung menariknya menjauh dari tepi gedung! Kenapa masih harus menciumnya?!"
Caleb berkata dengan dingin, "Alicia, kamu benar-benar nggak masuk akal!"
Dia pergi. Pintu dibanting keras hingga seluruh rumah bergetar.
Sementara itu, Alicia hanya merasakan nyeri tajam menusuk di lambungnya. Dia berlari ke kamar mandi dan muntah hebat.
Saat melihat warna merah darah memenuhi kloset, Alicia tersenyum pahit.
Kanker lambung stadium akhir.
Usianya tinggal kurang dari satu bulan lagi.
Selama ini dia sudah berkali-kali pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan kemoterapi. Rambutnya rontok parah hingga tampak jauh lebih tipis.
Namun, suaminya sama sekali tidak menyadarinya.
- Akhir Chapter -