Keesokan paginya, dia terbangun di samping kloset.
Beberapa hari terakhir, seiring penyakitnya semakin parah, kondisi mental dan fisiknya juga semakin tidak menentu. Terkadang dia tiba-tiba pingsan karena rasa sakit yang luar biasa. Yang dia ingat hanyalah semalam dia muntah darah begitu banyak hingga seluruh kloset dipenuhi warna merah.
Dia menekan tombol penyiram, menyaksikan cairan merah kental itu perlahan tersapu habis.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi.
Apa Caleb sudah pulang?
Alicia segera membereskan sisa-sisa kekacauan, berkumur, mengelap bercak-bercak darah di lantai kamar mandi hingga bersih, barulah dia berjalan membuka pintu.
"Caleb ...."
Namun orang yang berdiri di luar bukan Caleb, melainkan Pauline.
Pauline sudah berganti mengenakan pakaian bermerek mewah. Riasannya sempurna, rambutnya tertata rapi, dan wajahnya tampak begitu segar. Sama sekali tidak terlihat seperti penderita depresi yang baru saja mencoba bunuh diri.
Dengan senyum di bibirnya, dia menyapa, "Halo, Bu Alicia. Aku Pauline."
Alicia tidak tahu mengapa Pauline tiba-tiba datang, tetapi dia tetap mengoreksinya. "Bu Pauline, seharusnya kamu memanggilku Nyonya Danuarta."
Pauline mendengus sambil tersenyum meremehkan. "Kamu kan sudah hampir mati. Cepat atau lambat posisi Nyonya Danuarta pasti akan jadi milik orang lain. Masih ada gunanya mempertahankan sebutan itu?"
"Ada."
Alicia mengangguk tegas. "Setidaknya di depanmu, aku tetap perlu menegaskannya."
Pauline tertawa sinis. "Bu Alicia, sebaiknya mulai sekarang kamu bersikap lebih baik padaku. Soalnya nanti aku yang akan menjadi nyonya rumah ini. Mungkin kalau aku sedang baik hati, aku akan mengizinkan papan arwahmu disimpan di gudang. Kalau di rumah ada buah busuk yang tersisa, mungkin juga akan kupakai untuk sembahyang di depan papan arwahmu."
Tatapan Alicia perlahan turun ke pergelangan tangan Pauline yang terbuka. Di sana hanya ada sebuah jam tangan wanita dan seuntai gelang tasbih. Tidak ada luka sedikit pun!
Alicia masih ingat, baru minggu lalu Pauline juga sempat mencoba bunuh diri. Namun waktu itu bukan melompat dari gedung, melainkan mengiris pergelangan tangannya!
Dia masih mengingat foto luka yang robek dengan darah yang mengalir deras. Bagaimana mungkin baru beberapa hari berlalu, kulitnya sudah kembali halus tanpa meninggalkan bekas sedikit pun?
"Mana luka bekas sayatan di pergelangan tanganmu?"
"Haha, mengiris pergelangan tangan? Sakit sekali dan nanti bakal ada bekas. Mana mungkin aku benar-benar melakukannya."
Alicia tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Depresimu ... palsu? Kamu menipu Caleb?"
Tawa Pauline semakin lebar.
"Asal dia percaya, bukankah itu sudah cukup? Kalau seorang pria tahu ada wanita yang sampai menderita depresi karena dirinya, harga dirinya pasti akan sangat terpuaskan. Dia juga akan merasa semakin bersalah sama aku. Setiap kali aku berpura-pura kambuh, dia pasti langsung mengkhawatirkanku, memikirkanku, lalu meninggalkan semua urusannya untuk menemaniku ...."
"Pauline!" Alicia marah besar. "Kamu memanfaatkan kebohongan untuk mendapatkan cinta seorang pria dan menghancurkan keluarganya. Apa kamu sudah nggak punya rasa malu?"
Pauline menatapnya seperti sedang melihat pecundang. "Alicia, nggak merasa dirimu lucu?"
Dia sedikit menarik kerah bajunya agar Alicia bisa melihat bekas-bekas mesra di lehernya.
"Bekas seperti ini ada di seluruh tubuhku." Dia melangkah maju, meraih tangan Alicia, lalu memaksanya menyentuh bekas itu.
"Mau lihat? Di dada, perut bawah, punggung kaki, bahkan di ...."
Dia sengaja mendekat ke telinga Alicia dan menyebut bagian-bagian tubuh yang begitu pribadi hingga sulit diucapkan.
"Mau lihat yang mana? Hm? Bu Alicia, bilang saja. Aku bisa memperlihatkan semuanya kepadamu, supaya kamu tahu betapa Caleb mencintaiku, dan betapa gilanya dia saat bersamaku ...."
Alicia berusaha sekuat tenaga menarik tangannya, tetapi Pauline mencengkeramnya erat.
Tiba-tiba, ekspresi Pauline berubah dari penuh ejekan menjadi ketakutan dan kelemahan.
Tangan Alicia juga ditekan paksa ke leher Pauline.
Pauline langsung menangis keras.
"Nyonya Danuarta, tolong lepaskan aku! Aku benar-benar bisa mati ...."
"Pauline sayang!!!"
Embusan angin dingin menerpa.
Alicia hanya sempat merasakan tubuhnya didorong dengan kekuatan besar.
Tubuhnya terpental ke belakang. Punggungnya menghantam meja ruang tamu dengan keras sebelum akhirnya jatuh berguling ke lantai. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya memiringkan kepala dan memuntahkan seteguk darah.
Namun saat dia mendongak, yang terlihat hanyalah Caleb memeluk Pauline dengan penuh hati-hati, seolah sedang memegang harta paling berharga di dunia.
Dengan penuh kecemasan dia bertanya, "Apa dia melukaimu?"
Pauline menangis sambil memeluk Caleb erat. "Caleb, aku takut sekali ...."
"Jangan takut. Aku sudah datang. Aku di sini."
"Mm .... Selama kamu ada di sisiku, aku nggak takut apa pun lagi."
Caleb mengangkat Pauline dalam gendongan, lalu langsung melewati Alicia yang masih terbaring tak mampu bergerak di lantai dan berjalan menuju kamar tidur.
Kamar tidur utama mereka.
Lalu, pintunya ditutup keras.
Meskipun terhalang satu dinding, suara Caleb yang dipenuhi penyesalan dan rasa sakit masih terdengar jelas.
"Kenapa kamu nggak istirahat saja di rumah, malah datang ke sini? Bukankah sudah kubilang, akhir-akhir ini emosinya aneh, mudah marah, dan gampang meledak? Kondisi mentalmu juga sedang buruk. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, apa yang harus kulakukan?"
"Hiks .... Selain mencarimu, aku nggak tahu harus pergi ke mana lagi ...."
Alicia tersenyum getir. Dia mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu perlahan merangkak bangun dan menyandarkan tubuh di sofa untuk beristirahat.
Karena kemoterapi, tubuhnya semakin lemah dari hari ke hari.
Sekarang, bahkan sekadar naik ke sofa pun terasa begitu sulit.
Saat Caleb keluar dari kamar, yang dia lihat adalah Alicia yang sedang berjuang mati-matian untuk naik ke sofa. Dia menatap Alicia dari atas dengan dingin, lalu bertanya, "Sudah puas pura-puranya?"
- Akhir Chapter -