Alicia perlahan mengangkat kepalanya. "Kamu ngomong apaan?"
"Tadi masih segarang itu mau cekik Pauline, sekarang malah berpura-pura lemah?"
Alicia membela diri. "Aku nggak cekik dia!"
"Lalu kenapa tanganmu bisa ada di lehernya? Jangan bilang dia sendiri yang mengambil tanganmu lalu meletakkannya di lehernya?!"
Saat menuduhnya, sorot mata Caleb begitu tajam hingga seolah ingin membunuhnya.
Alicia menatapnya dengan tak percaya. "Benar. Dia sendiri yang menggenggam tanganku dan menaruhnya di lehernya."
Mata Caleb dipenuhi kekecewaan dan keterkejutan. "Alicia, aku benar-benar mulai nggak kenal kamu lagi."
Alicia tersenyum pahit. "Kalimat itu aku kembalikan untukmu."
Dengan susah payah akhirnya dia berhasil naik ke sofa, lalu beristirahat sejenak.
"Caleb, percaya atau nggak terserah kamu. Tadi Pauline sendiri yang mengaku kepadaku bahwa dia sama sekali nggak menderita depresi. Di pergelangan tangannya juga nggak ada bekas luka sayatan. Kalau nggak percaya, lihat sendiri."
Caleb mengernyit. "Hari dia mengiris pergelangan tangannya, aku ada di tempat. Darah berceceran di lantai. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
"Kalau begitu sekarang pergilah lihat lagi pergelangan tangannya. Kamu akan tahu apakah aku berbohong atau nggak."
Caleb mengatupkan rahangnya, seolah sedang menimbang apakah kata-katanya bisa dipercaya.
Alicia mendengus pelan. "Pergilah. Kenapa, nggak berani? Apa kamu juga takut kalau ternyata yang kukatakan benar? Bahwa Pauline sudah menipumu dari awal sampai akhir?"
"Aku percaya sama Pauline."
Caleb berbalik dan berjalan menuju kamar tidur.
"Aah!"
Tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam kamar.
"Pauline!"
Caleb langsung berlari masuk secepat kilat.
"Caleb ... hiks ... hiks ...."
Alicia memaksakan diri berdiri. Dengan berpegangan pada dinding, dia berjalan perlahan ke depan pintu kamar hingga akhirnya melihat keadaan di dalam.
Pergelangan tangan Pauline dipenuhi darah. Seluruh lengannya telah berlumuran darah. Kulit pergelangan tangan yang sebelumnya mulus kini telah robek oleh sebuah sayatan dan darah terus mengalir keluar tanpa henti.
Caleb panik. "Kenapa kamu melukai dirimu lagi!"
Pauline menangis tersedu-sedu sambil menerjang ke dalam pelukan Caleb.
"Semua ini salahku. Kalau bukan karena aku, kamu juga nggak akan bertengkar dengan Kak Alicia. Caleb, jangan pedulikan aku lagi. Biarkan saja aku mati. Kalau aku mati, Kak Alicia pasti akan merasa tenang ...."
"Jangan bicara yang nggak masuk akal! Aku nggak akan membiarkanmu mati!"
Tangis Pauline semakin menjadi-jadi. "Caleb, entah sudah berapa kali aku ingin mengakhiri hidupku. Tapi setiap kali aku memikirkanmu, aku nggak tega meninggalkanmu ...."
"Aku nggak akan meninggalkanmu, Pauline sayang. Mulai hari ini, aku akan selalu berada dalam jangkauan pandanganmu, menjagamu, melindungimu."
Tiba-tiba dia menoleh. Tatapannya kepada Alicia dipenuhi kebencian. Dengan suara penuh amarah, dia berkata, "Dan aku nggak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi!"
Tenaga Alicia hampir habis. Dia menyandarkan seluruh berat tubuhnya ke dinding, lalu memandang dingin dua orang yang berada di lantai.
Luka di pergelangan tangan Pauline sebenarnya hanya sayatan kecil, tetapi darah memenuhi lantai. Kemungkinan besar itu bukan darahnya sama sekali, melainkan darah dari kantong darah yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Namun, ada satu hal yang dikatakan Pauline memang benar.
Terlepas semua itu asli atau palsu, selama Caleb percaya, maka itu akan menjadi kenyataan.
Dengan isak tangis, Pauline berkata, "Kak Alicia, jangan marah. Nanti aku yang akan bersihkan darah di lantai."
Caleb mengangkatnya dalam gendongan dan membaringkannya di atas tempat tidur. "Kamu jangan bergerak dulu. Istirahat yang baik."
Lalu dia menoleh kepada Alicia dan memerintah, "Kamu bersihkan lantainya."
Alicia mengira dia salah dengar. "Apa?"
"Kamu hampir mencekik Pauline, lalu membuat penyakitnya kambuh sampai hampir bunuh diri lagi. Bukankah seharusnya kamu melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanmu?"
Alicia sampai tertawa karena marah. "Caleb, aku bukan pembantu yang kamu pekerjakan. Kalau mau mengepel lantai, kerjakan sendiri."
Caleb juga marah. "Kalau mau bertengkar, keluar sana! Jangan mengganggu Pauline sayang yang sedang beristirahat!"
"Caleb, kamu ...."
Pauline menangis sambil memohon, "Caleb, jangan bertengkar lagi dengan Kak Alicia. Aku pergi saja. Aku pergi sekarang juga ...."
Sambil berkata demikian, dia berpura-pura turun dari tempat tidur.
"Aduh!"
Dia sengaja terjatuh dari tempat tidur, tepat ke dalam pelukan Caleb.
Caleb segera membaringkannya kembali ke atas ranjang, bahkan dengan penuh perhatian menyelimuti tubuhnya. Dengan suara berat dia berkata, "Ini rumahku. Orang yang seharusnya pergi bukan kamu."
Alicia tersenyum. "Caleb, jadi kamu mau mengusirku?"
"Keluarlah dan renungkan dulu semua yang sudah kamu lakukan. Kembalilah setelah kamu sadar apa kesalahanmu."
Pauline masih terus berpura-pura. "Jangan! Caleb, jangan usir Kak Alicia! Di luar sudah gelap. Dia wanita, pasti akan ketakutan."
Namun, Caleb hanya berkata dengan dingin kepada Alicia, "Apa perlu kupanggil satpam untuk mengantarmu keluar?"
"Nggak perlu." Alicia menjawab dengan suara dingin, "Mulai sekarang, tempat ini juga bukan rumahku lagi."
Tring ....
Ponselnya berdering.
Alicia mengangkat telepon itu.
"Selamat siang, Bu Alicia. Saya dari Bagian Donasi Jenazah Rumah Sakit Pusat Kota. Sebelumnya Anda pernah menandatangani formulir persetujuan donasi jenazah. Apa Anda masih ingat?"
"Ingat."
"Baik, terima kasih banyak atas ketulusan Anda. Begini, kami mengetahui bahwa Anda menderita kanker lambung stadium akhir dan kemungkinan waktu yang tersisa sudah tidak lama lagi. Apakah Anda bisa memberikan nomor telepon anggota keluarga? Nantinya kami akan menghubungi keluarga Anda untuk menjemput jenazah Anda di rumah."
Alicia tercekat sejenak, lalu berkata pelan, "Aku nggak punya keluarga."
"Hah? Bagaimana bisa nggak punya keluarga? Kalau begitu kami mungkin nggak bisa segera menerima jenazah Anda. Kalau jenazah sudah mengalami pembusukan, nanti tidak bisa lagi digunakan untuk transplantasi organ maupun penelitian medis."
Alicia berpikir sejenak.
"Beri aku waktu tiga hari lagi. Tiga hari dari sekarang, aku akan datang sendiri ke Bagian Donasi Jenazah."
"Baik, itu juga bisa. Kami juga menyediakan layanan perawatan paliatif agar hari-hari terakhir Anda bisa dijalani senyaman mungkin."
"Baik."
Setelah menutup telepon, Alicia tiba-tiba mendengar Caleb bertanya dengan nada heran, "Donasi jenazah? Alicia, sebenarnya apa yang terjadi?"
- Akhir Chapter -