Alicia menyimpan kembali ponselnya dengan tenang, lalu berkata datar, "Nggak apa-apa."
Dia berbalik hendak pergi.
Namun, Caleb mengejarnya dan menghalangi jalannya. "Jelaskan dulu. Sebenarnya ada apa? Donasi jenazah? Kenapa kamu ingin mendonorkan jenazah? Bukankah tubuhmu baik-baik saja?"
Alicia mengangkat kepala dan menatapnya. "Aku akan mati. Memangnya nggak boleh?"
Sorot mata Caleb seketika berubah dingin dan dipenuhi amarah. "Kamu juga nggak menderita depresi. Jadi bagaimana mungkin kamu akan mati?"
"Penyakit yang bisa menyebabkan kematian bukan cuma depresi!"
"Paling-paling kamu cuma masuk angin ringan. Jangan bersikap seolah-olah kamu mengidap penyakit mematikan."
Hati Alicia terasa seperti ditusuk. Dia berusaha menundukkan pandangan agar air matanya tidak jatuh.
"Ya, aku memang cuma masuk angin." Dia berkata pelan, "Seorang temanku baru mulai bekerja di Bagian Donasi Jenazah. Aku hanya mengantarkan sesuatu untuknya."
Caleb bertanya, "Teman yang mana?"
"Kamu nggak kenal."
"Caleb ...." Pauline memanggilnya.
Caleb segera berlari kembali ke kamar. "Ada apa, Pauline sayang?"
"Sakit sekali ... hiks ...."
"Siapa suruh kamu mengiris pergelangan tanganmu? Aku ambil kotak P3K dulu untuk membalut lukamu."
"Mm, cepat kembali ya. Kalau nggak lihat kamu, aku jadi sangat gelisah."
"Baik, aku segera kembali, ya?"
Saat Caleb keluar dari kamar lagi untuk mengambil kotak P3K, dia mengernyit melihat Alicia. "Kenapa kamu masih di sini? Nanti kalau Pauline dengar suaramu lagi, penyakitnya bisa kambuh."
Entah apakah langit sengaja mempermainkannya ... di luar turun hujan deras. Saat Alicia melangkah keluar dari vila, Caleb membanting pintu hingga tertutup keras. Bahkan tidak memberinya sebuah payung pun.
Alicia hanya mengenakan piyama tipis dan dalam sekejap seluruh tubuhnya basah kuyup diguyur hujan.
Barulah beberapa saat kemudian, Bibi Mina, asisten rumah tangga, pulang sambil membawa belanjaan.
"Nyonya! Kenapa Anda berdiri di luar kehujanan? Di mana Tuan Muda?"
Mina langsung meletakkan belanjaannya, lalu menarik Alicia hendak masuk ke dalam rumah.
"Aku nggak apa-apa, Bi."
"Kehujanan nanti masuk angin! Bisa sakit!"
Sakit?
Tinggal tiga hari lagi sebelum dia mendonorkan jenazahnya. Apa masih ada artinya memikirkan masuk angin?
"Nyonya, apa Anda bertengkar lagi sama Tuan Muda? Apa kali ini juga gara-gara Nona Pauline?"
Alicia tersenyum tipis untuk menenangkannya. "Nggak. Aku dan Caleb ... baik-baik saja."
"Tapi wajah Anda nggak terlihat baik. Lagi pula, dulu Anda selalu memanggilnya 'Sayang'. Sekarang malah memanggil nama lengkapnya. Nyonya, gimana kalau saya kasih tahu Tuan Besar dan Nyonya Besar? Biar mereka yang bicara sama Tuan Muda. Mereka sangat menyayangi Anda, pasti akan membela Anda."
Alicia menghentikannya. "Nggak usah repotin Ayah dan Ibu. Aku memang suka merasakan hujan. Aku akan mengingat hujan hari ini selamanya."
Hujan hari ini adalah hujan yang Caleb biarkan membasahinya. Caleb ingin membuatnya sadar.
Alicia tersenyum. Selama bertahun-tahun, belum pernah sekali pun dia merasa pikirannya sejernih hari ini. Dia benar-benar sadar bahwa Caleb sudah tidak mencintainya lagi.
Cinta dan kasih sayang di masa lalu akhirnya sama seperti hujan ini. Setelah turun, pada akhirnya akan mengering juga.
"Bi Mina, mulai sekarang bersikaplah lebih hormat kepada Pauline. Berusahalah menyenangkannya dan jangan membuatnya marah. Kalau nggak, Caleb pasti akan melampiaskan kemarahannya sama kamu."
Mina tertegun. "Nyonya, apa Anda mau bercerai dengan Tuan Muda?"
Alicia menggeleng.
"Nggak."
Perceraian terlalu merepotkan.
Tiga hari lagi, Caleb akan menjadi duda karena ditinggal mati istrinya. Dengan begitu, dia bisa langsung menikahi Pauline.
Yang dia khawatirkan hanyalah Mina. Mina sudah bekerja di rumah ini selama lima tahun. Alicia selalu menghormatinya seperti orang yang lebih tua, sedangkan Mina merawatnya seperti anak sendiri, meski terkadang suka cerewet.
Alicia takut setelah dirinya tiada, Pauline bahkan tidak akan membiarkan Mina tetap tinggal.
Alicia berdiri di tengah hujan sepanjang hari. Baru saat malam tiba, Caleb akhirnya membuka pintu. Saat itu, Alicia sudah kehabisan tenaga dan pingsan di tengah hujan deras. Seluruh tubuhnya basah kuyup dan dipenuhi lumpur.
Mina terkejut dan berlari keluar.
"Nyonya pingsan! Tuan Muda, cepat bawa Nyonya ke rumah sakit!"
Caleb memegang payung dan berjalan mendekati Alicia. Dengan ujung sepatunya, dia menendang tubuh Alicia pelan. "Sudahlah, jangan pura-pura. Kamu cuma kehujanan sebentar. Cepat bangun dan siapkan satu kamar tamu untuk Pauline."
Mina menyentuh lengan dan dahi Alicia, lalu berseru kaget, "Kenapa panas sekali?! Dia demam!"
Namun, Caleb tetap tidak percaya. Dia malah menendangnya lagi dengan tenaga yang lebih besar. "Kalau sakit ya masuk, minum obat. Berbaring di sini memangnya mau nunggu aku gendong kamu?"
Mina begitu iba hingga suaranya bergetar menahan tangis, "Tuan Muda, Nyonya sudah pingsan!"
Alicia terbangun karena rasa nyeri yang menusuk di tulang keringnya. Dengan lemah, dia membuka mata. Hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang sepatu kulit yang dikenakan Caleb.
Sepatu itu adalah hadiah darinya. Terbuat dari kulit buaya.
Namun sekarang, Caleb mengenakan sepatu itu untuk menendang tulang keringnya tanpa sedikit pun rasa iba.
Alicia berusaha menopang tubuhnya, tetapi dia sudah tidak sanggup. Mina segera memeluknya dan menopang tubuhnya dengan tubuhnya sendiri. "Syukurlah Nyonya sudah sadar. Anda benar-benar membuat saya takut."
Caleb berkata, "Sudah kuduga kamu cuma pura-pura. Apa kamu pikir dengan berpura-pura sakit kamu bisa mendapatkan belas kasihku? Alicia, berhentilah memakai cara-cara murahan seperti ini. Pauline benar-benar sakit, nggak sama kayak orang yang pura-pura sakit seperti kamu."
Alicia tersenyum pahit.
'Aku yang berpura-pura sakit, sedangkan Pauline benar-benar sakit? Dunia ini benar-benar sudah terbalik sampai separah ini?'
"Baik, aku mengerti." Dia berkata, "Mulai sekarang aku nggak akan berpura-pura sakit lagi."
- Akhir Chapter -