Celana pendek musim panas memang sangat longgar. Apalagi demi bisa tidur dengan nyaman, aku bahkan tidak memakai ikat pinggang. Jadi celana itu bisa langsung terlepas hanya dengan sekali tarik.
"Nggak nyangka, boneka stok baru Riana kali ini beneran oke banget ya."
Suara Tante Mila terdengar sangat bersemangat. Dia seolah-olah sedang berbaring tepat di belakangku, hingga aku bisa merasakan embusan napas hangatnya saat dia bicara.
Aku merasa panik sekaligus geram, tapi saat ini aku tidak berani bergerak. Aku takut akan terjadi situasi yang sangat memalukan kalau sampai ketahuan.
Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?
Tante Mila sudah melucuti celana pendekku. Kini bagian bawah tubuhku terpampang jelas di depan matanya.
"Gede banget!"
Suara Tante Mila makin antusias. Tangannya terus mengelus tulang pinggulku, sentuhan panas yang membuat jantungku berdegup kencang.
Cup!
Tiba-tiba ada sesuatu yang basah, hangat, dan lembut menempel di bagian vitalku. Itu ... apa itu mulut Tante Mila?
Seketika pikiranku seolah tersambar petir. Menyadari kemungkinan itu, aku merasa malu sekaligus panik. Tapi, anehnya muncul sensasi rangsangan yang samar.
Logikaku menyuruhku berteriak untuk menghentikan tindakan Tante Mila, tapi ....
Sisi lain hatiku mencegah dan berkata tidak boleh!
Tante Mila pasti menganggapku boneka. Kalau dia tahu yang sebenarnya, aku mau ditaruh di mana mukaku nanti? Bagaimana cara menghadapinya setelah ini?
Apalagi kami tetangga satu jalan yang sering bertemu, aku tidak boleh merusak hubungan ini begitu saja.
Tante Mila adalah pemilik toko barang antik di sebelah. Dia selalu terlihat intelektual dan punya kepribadian yang lembut.
Dia tidak mungkin berbuat lebih jauh terhadap sebuah "produk dewasa" di dalam gudang ini, 'kan?
Aku hanya bisa berdoa dalam hati.
Selama tidak ketahuan, aku hanya perlu bersabar sebentar.
"Ini nyata banget! Dari mana sih asalnya? Nanti aku harus tanya ke Riana ah, aku juga pengen beli satu."
Saking semangatnya, hembusan napas Tante Mila saat bicara mengenai perut bawahku. Hal ini membuat bulu kudukku berdiri.
Detik berikutnya, aku tersentak saat sepasang tangan lembut menggenggam bagian pribadiku.
Uh ....
Rangsangan tiba-tiba itu membuatku bergetar tanpa sadar. Begitu tersadar, aku merasa seolah terjatuh ke dalam lubang es.
Habislah aku!
Apa Tante Mila menyadarinya?
"Eh? Boneka ini ternyata bisa gerak ngerespons gitu. Ini beneran nyata dan canggih banget ya."
Tante Mila sepertinya makin bersemangat, sementara aku memejamkan mata dengan penuh keputusasaan.
Siapa yang akan menyangka idola kampus yang dipuja banyak orang, saat ini malah telanjang bulat di depan seorang wanita layaknya sebuah boneka erotis!
Namun, makin terpojok, aku justru makin tidak berani bersuara!
Kalau tadi masih ada celah untuk menjelaskan, sekarang benar-benar sudah terlambat!
Aku hanya bisa berdoa agar Tante Mila segera pergi!
Jangan sampai dia melakukan hal lain yang lebih keterlaluan.
Jarak Tante Mila sangat dekat dengan bagian pribadiku. Aku bisa merasakan jelas setiap hembusan napas hangatnya.
Hal itu membuat tubuhku bergetar tanpa sadar.
Selain rasa malu, aku juga merasakan sensasi rangsangan yang tersembunyi.
Hatiku makin merasa cemas begitu menyadari hal ini.
Bagaimana bisa aku menjadi seperti ini?
"Ssh ... kok benda ini agak mirip punya Rangga ya?"
- Akhir Chapter -