Bum!
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar otakku, membuatku seketika tidak bisa berpikir.
Pikiranku langsung kosong, seluruh tubuhku kaku layaknya sebuah patung.
Apa maksud Tante Mila ngomong begitu?
Apa dia sudah menyadarinya!
Bagaimana dia bisa tahu celana dalam milikku seperti apa?
Apa yang terjadi? Sebenarnya ini ada apa?
Tidak lama kemudian, aku merasakan tangan lembut itu kembali mempermainkan milikku. Bahkan kuku jarinya sempat menggores dua buah zakarku.
Aku sudah jadi pria dewasa, tentu saja aku punya kebutuhan biologis.
Aku juga pernah punya pacar, tapi hubungan kami tidak pernah sampai ke tahap akhir. Jadi biasanya aku menyelesaikannya sendiri.
Namun, sentuhan tangan lembut Tante Mila ini benar-benar terasa berbeda dari tanganku sendiri.
Aku mengatupkan gigi rapat-rapat. Aku berusaha keras mengabaikan gelombang gairah yang terus bergejolak di dalam tubuh.
Kenapa bisa jadi begini?
Kenapa rasanya hari ini aku jauh lebih mudah terangsang daripada biasanya?
Deru napas Tante Mila makin berat, hawa panasnya terus menerpa kakiku.
Tolong!
Hatiku berteriak tanpa suara.
Siapa pun tolong aku!
Rasanya hatiku seperti terbelah menjadi dua.
Ada sisi lain yang terus menahanku agar tidak mengeluarkan suara, seolah sedang menikmati kenikmatan ini.
Detik berikutnya, aku merasakan tangan itu menjauh dari bagian vitalku, disusul suara gemerisik pakaian.
Jantungku serasa mau copot!
Tiba-tiba, sesuatu yang basah dan panas membungkus bagian pribadiku!
Apakah ... apakah itu miliknya Tante Mila?
Aku menarik napas panjang. Walaupun tidak melihat langsung, tapi sentuhan panas dan sensasi basah itu membuat jantungku bergetar hebat.
Basah sekali!
Aku merasa takut, tapi di saat yang sama aku juga menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Namun, Tante Mila hanya terus bergesekan, seolah dia tidak ingin terburu-buru.
"Mainan ini mirip banget punya Rangga ya."
"Biasanya cuma bisa nyuri celana dalam Rangga buat kepuasan, sekarang akhirnya ada gantinya. Oh, Rangga ... Rangga-ku sayang ...."
Apa!
Tante Mila nyuri celana dalamku?
Kalimat itu bagaikan guntur di siang bolong yang membuatku terpana.
Tapi, di dalam hati, aku merasa sedikit bergairah dan bersemangat.
Ternyata daya tarikku sehebat itu? Wanita berumur 30 tahun seperti Tante Mila pun bisa tergila-gila padaku?
Buat apa dia nyuri celana dalamku?
Dipikir sebentar saja sudah jelas, pasti bukan cuma buat dikoleksi.
Membayangkan celana dalam yang biasa kupakai ternyata diperlakukan begitu oleh Tante Mila ... milikku pun makin mengeras.
Bagian bawah tubuhku terus digesek oleh sesuatu yang panas.
Naga besarku berdenyut kencang, aku mulai kehilangan akal sehat. Aku bahkan sangat ingin Tante Mila segera memuaskanku!
"Permisi, ada orang nggak?"
Tiba-tiba terdengar suara asing dari arah depan toko.
Tante Mila langsung mundur dengan cepat, aku bahkan mendengar suara dia memakai celananya kembali.
"Siapa ya?"
Nada bicaranya terdengar sangat tidak senang karena kegiatannya terganggu.
Aku pun menggeliatkan pinggulku karena merasa tidak nyaman. Ada sedikit rasa sesal di dalam hati.
Kenapa juga harus ada orang datang di saat seperti ini?
- Akhir Chapter -