"Mau beli kondom dong."
Sepertinya ada pelanggan yang datang. Walaupun Tante Mila pemilik toko barang antik di sebelah, dia sering mengobrol dengan ibuku jadi dia cukup tahu urusan di sini.
Aku tidak bisa melihat situasi di luar. Aku hanya mendengar Tante Mila mencari sesuatu lalu menyebutkan harganya.
Saat ini kepalaku terasa pening, hidungku dipenuhi aroma wangi yang manis.
Wangi ini enak sekali. Ibu bilang ini aromaterapi yang baru dibelinya agar aku bisa tidur nyenyak kalau menyalakannya.
Tapi sekarang, aroma ini justru membuatku sulit berpikir jernih.
Karena tadi sempat merasakan kehangatan dari Tante Mila dan kini terpapar udara lagi, aku merasakan sensasi dingin yang kontras.
Saat angin berembus, aku pun refleks menggigil.
Tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki terburu-buru Tante Mila dari luar.
Tante Mila sepertinya menutup pintu toko, mungkin supaya tidak ada orang yang mengganggu.
Dia melangkah cepat menuju gudang di belakang. Suaranya makin mendekat ke arahku.
Sepertinya dia berjalan sambil melucuti celananya, karena tak lama kemudian aku merasakan kehangatan itu kembali menyelimutiku.
Meski belum terjadi hubungan yang sebenarnya, gesekan hebat itu membuatku benar-benar hilang kendali.
"Ugh ...."
Kali ini aku tidak bisa menahannya lagi hingga mengeluarkan lenguhan yang panjang.
Gerakan Tante Mila seketika berhenti, dia sepertinya kaget setengah mati.
Aku juga merasa canggung, tapi dorongan insting membuatku tidak bisa berpikir lagi.
"Tante Mila, ini aku."
Suaraku terdengar bergetar dan penuh rasa malu.
"Rang ... Rangga? Kok kamu di sini?"
Tante Mila kaget bercampur takut. Entah karena lupa atau alasan lain, tubuh bagian bawahnya masih menempel erat padaku.
Aku masih bisa merasakan kehangatan yang menjepitku. Rasanya kalau aku memaksakan diri sedikit saja, aku akan menembus pertahanan terakhirnya.
"Aku ... tadi tidur di sini terus nggak sengaja kena mekanismenya. Tante ... ugh ... Tante Mila, tolong matiin dong."
Suaraku makin berat dengan deru napas yang memburu. Aku bisa merasakan tubuh Tante Mila justru makin menekan ke bawah, seolah dia makin bergairah.
Namun tak lama, Tante Mila beranjak dari belakangku dan langsung mencabut kabel listrik ranjang erotis itu.
Begitu aliran listrik mati, ranjang itu kembali normal dan aku pun refleks langsung berdiri.
Begitu menunduk, aku baru sadar kalau milikku yang besar ini berada tepat di depan wajah merona Tante Mila.
Kalau saja gerakanku saat berdiri tadi lebih kencang sedikit, benda ini pasti sudah masuk ke mulutnya!
Aroma hormon pria yang kuat membuat tatapan Tante Mila mulai sayu.
Dia menggigit bibirnya pelan. Dalam sekejap, seluruh pertahananku pun runtuh.
Tanganku yang gemetar memegang kepala Tante Mila, membuat tubuhnya ikut bergetar.
"Tante Mila, aku ... aku pengen. Tante mau ya?"
- Akhir Chapter -