Petir menyambar di kejauhan, menyinari langit malam yang kelam. Di tepi tebing yang curam, Arka berdiri tegap, menatap hamparan hutan lebat di bawahnya. Angin malam bertiup kencang, mengibarkan jubahnya dan membawa aroma tanah basah yang menusuk hidung. Hatinya bergolak. Semesta seolah memberikan pertanda bahwa perjalanannya baru saja dimulai.
“Kenapa sekarang?” gumamnya, matanya menerawang ke dalam kegelapan.
Suara langkah kaki mendekat dari belakang. Guna, sang guru, berdiri di sana dengan mata tajam yang menyiratkan kebijaksanaan dan rahasia yang belum terungkap.
“Bukan soal kapan,” kata Guna dengan suara berat. “Tapi soal takdir.”
Arka menoleh, menatap gurunya dengan penuh tanda tanya. “Takdir?”
Guna mengangguk pelan. “Aku tidak mengatakan ini tanpa alasan. Kau sudah merasakannya, bukan? Keinginan untuk mencari tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Arka menghela napas, dadanya terasa sesak. “Aku tidak pernah mempertanyakan asal-usulku. Keluarga yang membesarkanku telah memberikanku segalanya.”
Guna menatapnya lekat. “Tapi darah tidak bisa dibohongi.”
Arka terdiam. Kata-kata itu menggema di kepalanya.
Guna berjalan mendekat, matanya menatap jauh ke dalam kegelapan. “Kau bukan pemuda biasa, Arka. Kau memiliki kecepatan belajar yang luar biasa dalam bela diri. Energi dalam tubuhmu lebih kuat daripada mereka yang telah berlatih kultivasi selama puluhan tahun. Bahkan dalam pengobatan, kau memiliki intuisi yang jarang dimiliki orang lain.”
Arka mengepalkan tangannya. “Apa artinya semua itu?”
Guna menarik napas dalam. “Itu berarti kau adalah keturunan dari dua garis keturunan kuat—Wijaya, keluarga yang memiliki pengaruh besar di dunia bisnis dan politik, dan ibumu, Ratri, pewaris klan kultivasi yang telah lama menghilang.”
Arka membelalakkan matanya. “Klan kultivasi?”
Guna mengangguk. “Mereka bukan hanya pejuang. Mereka adalah penyembuh, pelindung, dan penjaga keseimbangan. Tapi ketika ibumu menikahi ayahmu, keluarga Wijaya menolaknya. Mereka berusaha menghapus semua jejaknya.”
Arka menggertakkan giginya. “Jadi mereka tidak hanya membuangku, tapi juga mengkhianati ibuku?”
“Benar,” kata Guna dengan nada yang lebih lembut. “Dan sekarang, kau berada di persimpangan jalan.”
Arka menatap ke langit, pikirannya berkecamuk. Ia bisa tetap tinggal di sini, melupakan segalanya, atau melangkah ke dunia yang telah membuangnya dan menghadapi mereka.
“Jika aku pergi,” suaranya nyaris tenggelam dalam suara angin. “Apa yang akan terjadi?”
Guna tersenyum tipis. “Dunia tidak akan menyambutmu dengan tangan terbuka, tapi kau bisa menunjukkan pada mereka bahwa mereka telah salah.”
DI KOTA
Di pusat bisnis keluarga Wijaya, ruang rapat megah dipenuhi ketegangan. Wisnu Wijaya duduk dengan rahang mengatup, matanya tajam menatap layar di hadapannya. Grafik saham yang menurun tajam membuat kemarahannya memuncak.
“Jadi, kau ingin mengatakan bahwa perusahaan ini dalam bahaya?” suaranya bergetar menahan amarah.
Seorang penasihat keluarga menelan ludah. “Tuan Muda, seseorang telah bergerak untuk menjatuhkan kita. Proyek besar terhambat, dan sekutu utama mulai menarik diri.”
Darma Wijaya, pemimpin keluarga yang telah menua namun tetap berkarisma, mengetuk jarinya di meja. “Siapa yang berani menantang kita?”
Penasihat itu ragu-ragu sebelum akhirnya berkata, “Seolah-olah dia tahu semua kelemahan kita.”
Wisnu bersandar di kursinya, matanya menyipit. “Pengkhianat?”
Seorang pria paruh baya dengan wajah dingin menyela. “Bukan hanya pengkhianat. Ini mungkin balas dendam.”
Darma mendengus. “Dari siapa?”
Pria itu menatapnya lurus. “Seseorang yang dulu kita buang.”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Wisnu mengepalkan tangannya. “Arka…”
Mereka tidak pernah menyebut nama itu lagi sejak malam ia dibuang, tapi bayangannya masih menghantui.
Darma tertawa sinis. “Tidak mungkin. Dia hanyalah anak kecil yang tak berdaya saat kita tinggalkan.”
Namun, jauh di lubuk hatinya, Darma tak bisa mengabaikan ketakutan yang perlahan menyelinap.
Di luar sana, pewaris yang mereka buang telah tumbuh lebih kuat dari yang mereka bayangkan.
Dan ia sedang dalam perjalanan kembali.
- Akhir Chapter -