Fajar baru saja menyingsing ketika Arka berdiri di atas tebing yang menghadap desa kecil tempat ia tumbuh besar. Angin pagi bertiup kencang, menerbangkan debu dan dedaunan kering di sekitarnya. Di kejauhan, hamparan hutan lebat tampak seperti samudra hijau yang tak berujung. Matanya menatap lurus ke depan, penuh tekad dan keyakinan.
Dari belakang, Guna berdiri dengan tangan bersedekap. "Jadi, kau sudah memutuskan?"
Arka mengangguk. "Aku harus tahu siapa diriku sebenarnya, Guru."
Guna menarik napas panjang. "Perjalanan ini tidak akan mudah. Dunia di luar sana jauh berbeda dari yang kau kenal."
Arka tersenyum tipis. "Aku sudah siap. Ilmu yang kau ajarkan akan selalu menjadi bagian dari diriku."
Guna mengulurkan sebuah kantong kecil. "Ramuan ini akan melindungimu. Dan ini..." Ia menyerahkan sebuah jimat kayu berukir naga. "Simbol perlindungan. Jangan sampai hilang."
Arka menerimanya dengan penuh hormat. "Terima kasih, Guru. Aku tidak akan melupakan semua yang telah kau ajarkan."
Di belakang mereka, beberapa penduduk desa berkumpul untuk mengucapkan selamat jalan. Ayu, adik angkat Arka, berlari menghampirinya dengan mata berkaca-kaca. "Kau benar-benar harus pergi, Kak?"
Arka mengusap kepalanya. "Aku harus, Ayu. Tapi aku janji akan kembali."
Ayu menyerahkan kain kecil bersulam naga emas. "Ini untuk keberuntungan."
Arka menggenggamnya erat. "Aku akan menjaganya."
Dengan satu tarikan napas, Arka berbalik dan mulai melangkah menuju dunia yang pernah membuangnya.
Kota Jakarta β Markas Keluarga Wijaya
Di sebuah ruangan megah dengan jendela setinggi langit-langit, Wisnu Wijaya duduk di kursinya dengan ekspresi tajam. Cahaya matahari pagi memantul di dinding kaca, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin.
"Beritahu aku lagi," katanya dengan suara dingin.
Seorang pria berpakaian rapi berdiri dengan gelisah. "Kita kehilangan proyek besar di luar negeri. Perusahaan lawan tampaknya mengetahui semua strategi bisnis kita."
Wisnu mengetukkan jarinya ke meja. "Bagaimana bisa? Tidak ada orang luar yang seharusnya tahu sedetail ini."
Darma Wijaya, sang kepala keluarga, menghela napas berat. "Seseorang mengincar kita. Kita harus mencari tahu siapa sebelum semuanya terlambat."
Pintu ruangan terbuka tiba-tiba. Seorang pria paruh baya masuk dengan tergesa-gesa. "Tuan, kami menemukan sesuatu yang mengejutkan."
Semua mata tertuju padanya.
"Kami menemukan seseorang yang mungkin menjadi dalang semua ini."
Wisnu menyipitkan mata. "Siapa?"
Pria itu ragu sebelum akhirnya berkata, "Arka Wijaya."
Ruangan langsung sunyi.
Darma menatap tajam. "Itu tidak mungkin."
"Kami mendapatkan informasi bahwa seseorang dengan kecerdasan luar biasa telah muncul di dunia bisnis dan investasi dalam bayang-bayang. Ia memahami kelemahan kita dengan sangat baik."
Wisnu bersandar ke kursinya. "Jika itu benar... maka dia kembali."
Darma mendengus. "Bocah itu bukan ancaman. Dia bukan siapa-siapa."
Namun, di dalam hatinya, Wisnu tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar dengan membuangnya.
Terminal Jakarta β Kedatangan yang Tak Terduga
Langit Jakarta mendung ketika Arka turun dari bus, ransel tersampir di punggungnya. Udara kota terasa berat, penuh dengan asap dan kebisingan yang kontras dengan ketenangan desa tempatnya tumbuh.
Ia berjalan perlahan, mengamati gedung-gedung tinggi yang menjulang. Dunia ini terasa asing, namun di sinilah semuanya dimulai.
Arka memasuki sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan dan duduk di pojok. Ia membuka ponselnya, membaca data yang telah ia kumpulkan tentang keluarga Wijaya.
"Kau tidak bersembunyi dengan baik," suara seseorang tiba-tiba terdengar di seberangnya.
Arka menoleh. Wisnu Wijaya duduk di hadapannya dengan ekspresi dingin.
Arka menatapnya tanpa ekspresi. "Kau menemukanku lebih cepat dari yang kuduga."
Wisnu menyilangkan tangan. "Kau tidak benar-benar mencoba bersembunyi."
Arka menatap lurus ke matanya. "Aku tidak berniat bersembunyi. Aku hanya ingin jawaban."
Wisnu menghela napas. "Jawaban tentang apa?"
Arka mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kenapa aku dibuang?"
Wisnu terdiam, menatap adiknya lama sebelum menjawab. "Itu keputusan kakek."
Arka mengepalkan tinjunya. "Dan kau hanya membiarkannya terjadi?"
Wisnu menatapnya dalam-dalam. "Saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kakek memiliki kendali penuh. Aku mencoba melawan, tapi aku gagal."
Arka mencari kebohongan dalam kata-kata kakaknya. "Jadi sekarang kau mencariku karena membutuhkan bantuanku?"
Wisnu tidak menyangkal. "Keluarga ini dalam bahaya. Jika kau ingin jawaban, satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan kembali."
Arka menatap secangkir kopi di depannya. Kata-kata Wisnu masuk akal, tapi ia belum yakin untuk mempercayainya.
Akhirnya, ia mendongak dan berkata, "Aku akan datang ke rumah keluarga."
Wisnu mengangguk. "Bagus."
Namun, di dalam hati, Arka tahu bahwa ini bukan sekadar perjalanan pulang.
Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besarβdan mungkin lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
- Akhir Chapter -